MALANG, BERITAKATA.id – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar acara penutupan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sekaligus pameran (expo) produk hasil KKN di Dome UMM pada Senin (31/8/2026). Kegiatan ini menandai berakhirnya pelaksanaan KKN UMM yang telah berlangsung selama satu bulan penuh sepanjang Agustus 2026.
Rangkaian acara penutupan diawali dengan kegiatan jalan sehat (fun walk), penjelajahan kampus, kunjungan ke Taman Rekreasi Sengkaling, dan diakhiri dengan pameran hasil karya mahasiswa di Dome UMM. Secara keseluruhan, program KKN ini melibatkan 4.780 mahasiswa yang berasal dari UMM serta 49 Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) dari seluruh Indonesia.
Kepala Divisi Pengabdian Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMM, Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa pelaksanaan KKN ini mengusung tagline Mandiri, Inovasi, Berdampak sekaligus menjalankan amanah dari Kemendikti Saintek.
“Jadi salah satunya kegiatan mahasiswa yang 4.780 itu, mereka nanti setelah fun walk itu gelar produk. Jadi menyampaikan karya-karya, misalkan KKN di internasional, jadi mereka menjadi diplomat misalkan di Malaysia, di Thailand, di Taiwan,” ujar Dr. Arina di sela-sela kegiatan, Senin (31/8/2026).
Dr. Arina merinci, persebaran lokasi KKN mencakup KKN MAs PTMA di Kabupaten Malang, KKN Berdampak di wilayah Jawa Timur, KKN Internasional di tiga negara, serta KKN Gentaskin yang berfokus pada pengentasan kemiskinan ekstrem di Nusa Tenggara Timur (NTT). Mahasiswa peserta KKN merupakan gabungan lintas program studi dari semester 4 hingga 7.
Pameran produk di Dome UMM menampilkan sebanyak 120 stan pameran berbasis Penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG). Setiap kelompok KKN beranggotakan 15 hingga 30 mahasiswa, yang telah merancang program kerja bersama Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) sejak enam bulan sebelum penerjun ke lapangan.
Beberapa inovasi yang dipamerkan di antaranya pengembangan sistem Internet of Things (IoT) untuk pengontrolan air pada tanaman stroberi di Kota Batu, pembuatan mesin pengolah air di Malang Selatan, budidaya variasi warna ikan koi, serta pendampingan dan rebranding identitas produk bagi 10 UMKM di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.
Terkait dengan perlindungan hukum karya mahasiswa, Dr. Arina menyebutkan bahwa sejumlah hasil KKN telah mengantongi Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
“Kemarin beberapa dari anak-anak sudah melahirkan, misalkan di Malaysia, diplomat di wilayah Penang itu melahirkan 5 HKI. Nah, di situ melahirkan sistem pembelajarannya, kemudian sistem berwirausahanya,” ungkap Dr. Arina.
Sementara itu, untuk perolehan hak paten, pihak LPPM UMM masih melakukan proses pendampingan bersama DPL karena memerlukan uji kepakaran dan kontinuitas alat. Ke depan, LPPM UMM melalui Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi (Ditjen Saintek) Kemendiktisaintek akan mengarahkan hasil-hasil riset dan TTG KKN menuju tahap hilirisasi industri serta ekuivalensi skripsi mahasiswa.
Pameran KKN tahun ini juga diikuti oleh mahasiswa internasional. Salah satunya adalah Abdul Samiu Abbas, mahasiswa asal Ghana dari Fakultas Agama Islam UMM angkatan 2023.
Abbas bersama kelompoknya melaksanakan KKN di Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Selama KKN, kelompoknya berfokus pada pengembangan pengemasan (packaging) untuk produk UKM lokal, khususnya batik dan teh daun kelor instan.
“Kita di Desa Wonorejo, Singosari. Program kerja utama kita itu membuat packaging batik untuk UKM-UKM itu. Dulu ada batiknya tapi nggak ada packaging seperti ini, kita yang buat ini. Dan proker kedua kita, bantu buat packaging untuk teh kelor,” kata Abbas.
Ia menambahkan, produk teh kelor tersebut memanfaatkan ketersediaan daun kelor yang melimpah di Desa Wonorejo untuk diolah menjadi minuman kesehatan instan.
Mengenai interaksi selama tinggal di lokasi KKN, Abbas mengaku dapat berkomunikasi dengan lancar menggunakan bahasa Indonesia yang telah ia pelajari selama satu tahun di UMM, sambil mempelajari bahasa Jawa dari warga setempat.
“Kalau di Desa Wonorejo itu lumayan, tapi mereka pakai bahasa Jawa juga. Saya sudah belajar sama mereka sedikit-sedikit bahasa Jawa. Tapi kalau bahasa Indonesia sudah bisa sama mereka,” tutur Abbas, yang merupakan satu dari 30 lebih mahasiswa asal Ghana yang menempuh pendidikan di UMM. (NP/ FAS)
Reporter: Nugraha Perdana












