MALANG, BERITAKATA.id – Pemerintah Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, terus mendorong pengembangan ekonomi warga dan pelestarian budaya lokal. Desa seluas 627,407 hektare ini memiliki berbagai potensi unggulan, mulai dari sektor pertanian, produksi pangan rumahan, hingga pariwisata.
Kepala Desa Sukolilo, Joni Arifin, S.M., memaparkan bahwa kondisi geografis desa sangat mendukung pergerakan ekonomi warga, terutama di bidang pertanian. Desa ini berada di ketinggian 400 hingga 700 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan suhu udara berkisar antara 22 derajat celsius hingga 32 derajat celsius.
“Iklim yang sejuk dan tanah yang subur di Sukolilo menjadi modal utama warga kami untuk mengembangkan sektor pertanian dan budidaya tanaman hias,” ujar Joni Arifin, S.M., saat menjelaskan potensi desanya pada Minggu (30/8/2026).
Joni juga menegaskan bahwa Desa Sukolilo telah mencapai sejumlah legalitas penting di tingkat kabupaten. Pada 1 April 2022, desa ini diresmikan sebagai Kampung Pancasila oleh Letkol Inf Taufik Hidayat dari Kodim 0818 Kabupaten Malang. Selanjutnya, pada 18 Mei 2023, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang mengukuhkan Sukolilo sebagai Desa Wisata.
“Penetapan sebagai Kampung Pancasila adalah bukti nyata komitmen warga kami terhadap nilai kebangsaan dan toleransi. Setelah itu, status Desa Wisata membuka peluang lebih besar untuk mengenalkan potensi alam, budaya, dan ekonomi kreatif Sukolilo ke tingkat yang lebih luas,” paparnya.
Berdasarkan data kependudukan tahun 2026, Desa Sukolilo memiliki 4.830 jiwa penduduk yang tergabung dalam 1.680 Kepala Keluarga (KK). Mereka tersebar di 13 RT/RW. Menurut Joni, keberagaman latar belakang warga tidak pernah menjadi hambatan dalam kehidupan sosial.
“Masyarakat kami sangat rukun dan memegang teguh tradisi gotong royong. Hal ini sangat terlihat ketika warga menggelar berbagai acara kebudayaan secara rutin,” kata Joni.
Ia menyebutkan, warga aktif melestarikan kesenian lokal seperti pertunjukan bantengan, Kirab Obor dan Lampion setiap malam 1 Suro, serta acara Grebeg Suro di masing-masing dusun. Acara-acara budaya ini sering kali melibatkan tokoh seniman tingkat nasional.
“Dalam perayaan kemerdekaan dan Grebeg Suro, desa kami pernah dihadiri oleh seniman nasional seperti Farel Prayoga, Niken Salindri, pelawak Kirun, hingga Mahardika Riswanda. Ini membuktikan tradisi kami diakui secara luas,” tegasnya.
Selain budaya, Joni Arifin menyoroti tiga sektor ekonomi kreatif utama yang menjadi penggerak kesejahteraan masyarakat Desa Sukolilo. Ketiga sektor tersebut adalah produksi gula merah, pembuatan krupuk samiler, dan budidaya rumput hias.
Pertama, produksi gula merah di Dusun Napel. Joni menjelaskan bahwa usaha ini sudah berjalan hingga generasi kesepuluh. Saat ini, para pengrajin sudah menggunakan mesin giling bertenaga listrik.
“Produk andalan kami adalah ‘gula garuk’. Gula ini murni dari nira tebu tanpa bahan pengawet. Kualitasnya sudah memenuhi standar pabrik kecap besar tingkat nasional,” ungkap Joni.
Ia merinci, ada sekitar 43 pengrajin dalam satu paguyuban di dusun tersebut. Saat musim tebang tebu, kapasitas produksi bisa mencapai 7 kuintal hingga 1 ton. Harga jual di pasaran stabil pada kisaran Rp9.300 hingga Rp9.800 per kilogram. Sekitar 90 persen produksi diserap langsung oleh pabrik.
Kedua, sentra pembuatan samiler opak di Dusun Pohkecik. Salah satu pelaku usahanya adalah Siti Roidah yang sudah berproduksi selama 25 tahun. Produk krupuk samiler ini dicetak secara manual dan dipasarkan meluas hingga ke wilayah Kota Malang dan Kota Batu.
“Kapasitas produksi harian samiler di Pohkecik berkisar 50 sampai 60 kilogram per hari. Kalau ada tambahan tenaga kerja, bisa tembus satu kuintal per hari. Kebutuhan bahan baku ketela mencapai 4 hingga 5 kuintal per minggu,” jelas Kades Sukolilo tersebut.
Ketiga, komoditas unggulan budidaya rumput hias, khususnya rumput Jepang. Joni mengatakan bahwa usaha pertanian ini telah diwariskan selama lebih dari 50 tahun dan memiliki masa panen yang cepat, yakni sekitar dua hingga empat minggu.
“Perawatan rumput Jepang di desa kami cukup mudah, hanya perlu pupuk satu minggu sekali. Karena kualitasnya yang bagus dan warga sangat jujur dalam berbisnis, pasar rumput hias kami tidak hanya masuk ke Surabaya, tetapi sudah disuplai untuk proyek Ibu Kota Nusantara (IKN), bahkan diekspor untuk memenuhi permintaan kontraktor dari Malaysia,” pungkas Joni Arifin.
Melalui kolaborasi antara program pembangunan infrastruktur dari pemerintah desa, kerukunan warga, dan inovasi UMKM, Joni Arifin meyakini Desa Sukolilo akan terus berkembang menjadi desa mandiri yang mempertahankan nilai-nilai tradisi. (NP/ FAS)












