Tim KKN 186 UMM Ubah Limbah Ampas Tebu Menjadi Briket Arang di Desa Sukolilo

Foto bersama Tim KKN Berdampak Sukolilo 186 Universitas Muhammadiyah Malang, tokoh masyarakat, serta warga Desa Sukolilo dalam rangkaian kegiatan Workshop Pembuatan Arang Briket di Balai Desa Sukolilo.

MALANG, BERITAKATA.id – Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak Sukolilo 186 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjalankan program pengolahan limbah ampas tebu menjadi briket arang di Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Program ini bertujuan mengatasi masalah penumpukan limbah tebu sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.

Desa Sukolilo merupakan sentra produksi gula merah berbahan dasar nira tebu. Mayoritas warga setempat menggantungkan mata pencaharian pada industri rumahan ini. Selama ini, sisa produksi berupa ampas tebu hanya dimanfaatkan sebagai bahan bakar tungku rebusan nira, dan sisa lainnya menumpuk tanpa pengolahan lanjutan yang bernilai ekonomi.

Perwakilan Tim KKN Berdampak Sukolilo 186 UMM menyerahkan mesin pencetak briket kepada Kepala Desa Sukolilo, Joni Arifin, S.M
A.

Merespon kondisi tersebut, Tim KKN Berdampak Sukolilo 186 UMM merancang program pembuatan briket arang. Rencana ini mendapat tanggapan positif dari warga, mengingat ide serupa sebenarnya pernah dipikirkan oleh pelaku usaha setempat namun belum dapat dieksekusi.

Sutono, salah satu pemilik pabrik gula merah di Desa Sukolilo, membenarkan bahwa pengolahan limbah tebu menjadi briket pernah menjadi wacana di kalangan warga.

“Ampas tebu sisa produksi selama ini cuma dibakar saja sampai numpuk banyak. Padahal dulu sempat ada yang kepikiran bikin briket dari situ, tapi belum sempat terealisasi,” ujar Sutono dalam keterangan yang diterima pada Sabtu (29/8/2026).

Ia juga menaruh harapan besar terhadap inovasi yang dibawa oleh para mahasiswa.

“Harapan saya untuk generasi muda itu punya ide-ide kreatif yang bisa dikemas secara kekinian, supaya usaha ini bisa lebih maju,” tambahnya.

Pelaksanaan program ini diawali dari pengamatan langsung yang dilakukan oleh mahasiswa di lapangan. Koordinator Desa Tim KKN Berdampak Sukolilo 186, Aji Hasnar, menjelaskan bahwa ide pembuatan briket arang merupakan hasil diskusi antara mahasiswa dan para pemilik pabrik gula setelah melihat potensi limbah yang ada.

“Kami melihat langsung bahwa limbah tebu di Desa Sukolilo ini jumlahnya cukup banyak, tapi selama ini hanya dibakar begitu saja. Dari situ kami berdiskusi dengan warga dan pemilik pabrik gula, lalu muncul ide untuk mengolahnya menjadi briket arang. Kami berharap program ini bisa memberi nilai tambah, bukan hanya bagi lingkungan tapi juga bagi perekonomian warga,” jelas Aji.

Program pengolahan limbah ini juga mendapat dukungan penuh dari pemerintah desa setempat. Kepala Desa Sukolilo, Joni Arifin, S.M., menilai inisiatif mahasiswa ini dapat berkembang menjadi sektor usaha baru yang menyerap tenaga kerja.

“Dari hasil ide ini nantinya bisa menjadi peluang bagi masyarakat. Bisa untuk membuka lapangan pekerjaan, bisa juga untuk kegiatan yang lain. Jadi, kegiatan ini bisa menjadi awal untuk kita mengembangkan dan melanjutkan ke depannya. Saya sangat mendukung kegiatan ini karena mungkin nantinya bisa dibuka untuk pelaksanaan lanjutan. Saya yakin kalau sudah berjalan dengan baik, kegiatan ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat dan membuka peluang usaha baru,” papar Joni.

Dari sisi akademis, Dosen Pembimbing Lapangan KKN Berdampak 186 UMM, Drs. Ir. Moh. Jufri, S.T., M.T., menjelaskan bahwa program ini merupakan bentuk penerapan teknologi yang harus memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat.

“KKN Berdampak harus mampu menghadirkan solusi nyata atas persoalan masyarakat. Limbah tebu yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dapat diolah melalui sentuhan teknologi menjadi briket yang bernilai ekonomi. Harapannya, inovasi ini tidak berhenti setelah KKN selesai, tetapi terus dikembangkan menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat Sukolilo,” ungkap Jufri.

Sebagai bentuk keberlanjutan program, Tim KKN 186 UMM menyerahkan dua fasilitas utama kepada warga, yakni mesin pencetak briket dan modul panduan produksi. Mesin pencetak ini dirancang untuk mengefisienkan proses produksi, sementara modul panduan ditujukan agar para pemilik pabrik gula merah dapat memproduksi briket arang secara mandiri di masa mendatang.

Program ini sekaligus menjadi bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi oleh mahasiswa UMM dalam mengabdi dan memberdayakan masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal. (NP/ FAS)

Reporter: Nugraha Perdana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *