MALANG, BERITAKATA.id – Harga daging sapi di sejumlah pasar tradisional Kota Malang melonjak hingga mencapai Rp 160.000 setiap kilogram. Merespon situasi ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melalui Perumda Tunas mengambil langkah stabilisasi harga dengan mendatangkan sapi impor dari Australia.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Perumda Tunas sekaligus Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan, menjelaskan bahwa kenaikan harga dipicu oleh menipisnya stok sapi lokal dan meningkatnya permintaan masyarakat.
Peningkatan konsumsi ini didorong oleh kembalinya aktivitas pendidikan dan operasional dapur gizi pada Selasa (4/8/2026).
“Ketersediaan sapi lokal saat ini memang kurang. Sementara itu, aktivitas sekolah, perkuliahan, hingga operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sudah mulai berjalan normal. Di sisi lain, harga sapi impor juga tergolong mahal,” kata Slamet pada Selasa (4/8/2026).
Untuk menekan harga di pasaran, Perumda Tunas menargetkan kedatangan 100 ekor sapi impor. Saat ini, proses pengiriman telah berjalan sebanyak dua tahap.
“Sapi impor sudah dua kali tiba. Dari target 100 ekor, saat ini sekitar 35 ekor sudah ada di Kota Malang. Langkah ini murni untuk menstabilkan harga daging di pasaran,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Slamet menegaskan bahwa Perumda Tunas tidak menjual sapi atau daging langsung kepada konsumen. Sapi impor tersebut ditujukan untuk para pelaku usaha pemotongan hewan lokal. Proses distribusi ini sudah berjalan sejak pekan lalu.
“Sapi-sapi itu diturunkan di Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Malang untuk dibeli oleh para jagal. Mereka yang memotong dan mendistribusikan dagingnya ke pasar-pasar,” jelas Slamet.
Terkait kemungkinan penambahan kuota impor sapi, pihak Perumda Tunas belum mengambil keputusan akhir karena masih harus menghitung kebutuhan riil pasar.
“Jika memang harus didatangkan lagi untuk menurunkan harga, kuota bisa ditambah. Namun, kami harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan Paguyuban Jagal untuk mengetahui pasti berapa kebutuhan sapi saat ini,” tambahnya.
Slamet juga memaparkan bahwa fenomena berkurangnya pasokan sapi lokal merupakan siklus yang biasa terjadi setiap tahun, terutama pasca perayaan Idul Adha. Hal ini merupakan dinamika pasar komoditas pangan pada umumnya.
“Ini adalah mekanisme pasar tahunan. Harga ada kalanya naik dan turun, sama halnya dengan komoditas pangan lain seperti cabai, tomat, bawang merah, dan bawang putih,” tuturnya.
Selama ini, pasokan sapi lokal untuk Kota Malang didatangkan dari Kabupaten Malang, Banyuwangi, Madura, hingga Bali. Keterbatasan pasokan saat ini tidak lepas dari faktor biologis hewan ternak yang membutuhkan waktu untuk siap potong.
“Sapi membutuhkan proses pertumbuhan dari kecil hingga dewasa. Kita harus menyesuaikan ritme antara ketersediaan stok yang butuh waktu tumbuh dan besaran permintaan pasar,” tutup Slamet. (NP/ FAS)
Reporter: Nugraha Perdana












