PAMEKASAN, BERITAKATA.id – Jarak puluhan kilometer tak menjadi alasan bagi Nur Ahmadi untuk berhenti mengejar pendidikan. Advokat asal Kabupaten Sampang itu harus menempuh perjalanan sekitar 180 kilometer pulang-pergi setiap kali mengikuti perkuliahan Magister Hukum di Universitas Madura (Unira) Pamekasan. Perjuangan tersebut akhirnya berbuah manis setelah ia dinyatakan sebagai lulusan terbaik dengan IPK sempurna 4,00 pada yudisium, Sabtu (22/8/2026).
Dari kediamannya di Dusun Tlagah Timur, Desa Tlagah, Kecamatan Banyuates, Sampang, Ahmadi membutuhkan waktu dan tenaga ekstra untuk bisa sampai ke kampus. Jarak sekitar 90 kilometer sekali jalan harus ditempuh, termasuk ketika perkuliahan masih berlangsung secara tatap muka setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu.
Bagi Ahmadi, persoalan jarak bukan sesuatu yang perlu dijadikan alasan untuk menunda pendidikan. Ia bahkan terbiasa berangkat sebelum waktu subuh agar bisa tiba di Pamekasan tepat waktu.
“Kalau saya berangkat setelah subuh, khawatir karena pasar-pasar tradisional di kecamatan kadang macet. Jadi, biar tidak terlambat saya berangkat sebelum subuh,” ujarnya usai prosesi yudisium.
Perjalanan tersebut juga harus dijalani di tengah kesibukannya sebagai praktisi hukum sekaligus kepala keluarga. Ahmadi merupakan ayah dari tiga anak yang tetap harus membagi waktunya antara pekerjaan, kuliah dan keluarga.
Ia mengatakan keputusan melanjutkan pendidikan magister bukan semata untuk mengejar gelar. Sebagai seorang advokat, ia merasa perlu terus memperdalam pengetahuan hukum agar dapat menunjang profesinya.
“Kalau kita sudah membulatkan tekad untuk menimba ilmu, ya harus serius dan betul-betul ditekuni. Tentunya juga dengan berdoa dan dukungan dari istri, orang tua, serta keluarga,” kata pria kelahiran Sampang, 5 Maret 1981 tersebut.
Ahmadi tercatat sebagai mahasiswa angkatan 2024. Selama masa perkuliahan, ia harus mengatur jadwal pekerjaan agar tidak berbenturan dengan agenda akademik yang harus diikuti.
Hasilnya pun cukup membanggakan. Ia berhasil menuntaskan pendidikan Magister Hukum dengan nilai sempurna 4,00 sekaligus dinobatkan sebagai lulusan terbaik.
Menariknya, predikat tersebut ternyata bukan target yang sejak awal ia kejar. Ahmadi mengaku lebih fokus memahami materi dan mendapatkan ilmu yang dapat diterapkan dalam perjalanan profesionalnya.
“Yang penting saya maksimal dalam kuliah untuk mendapatkan ilmu yang benar-benar mendalam. Soal nilai terbaik atau bagaimana, itu tidak terlalu saya pikirkan,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut membuat Ahmadi percaya bahwa keterbatasan waktu, pekerjaan maupun jarak bukan penghalang untuk seseorang melanjutkan pendidikan selama memiliki kemauan dan konsistensi.
Ia pun mengajak generasi muda agar tidak ragu menetapkan cita-cita, meski dalam perjalanannya harus berhadapan dengan berbagai kesibukan dan tantangan.
“Jangan takut bermimpi. Apa pun dan siapa pun Anda, kalau berusaha dan berdoa, insya Allah pasti ada jalan,” pungkas Nur Ahmadi. ig/an












