PAMEKASAN, BERITAKATA.id— Penguatan kualitas pendidikan tinggi kembali ditegaskan Universitas Islam Negeri (UIN) Madura melalui pengukuhan empat Guru Besar yang menjadi bagian penting dalam memperluas kontribusi akademik bagi masyarakat, Sabtu (2/5/2026).
Momentum ini tidak hanya menandai bertambahnya profesor di lingkungan kampus, tetapi juga mempertegas komitmen UIN Madura dalam menghadirkan pendidikan yang relevan, inklusif, dan berdampak luas di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.
Rektor UIN Madura, Dr. H. Saiful Hadi, menegaskan bahwa kehadiran para guru besar menjadi kekuatan utama dalam menentukan arah kemajuan institusi sekaligus menjawab berbagai persoalan masyarakat melalui pendekatan keilmuan.
“Guru besar adalah pilar akademik yang akan memperkuat kualitas keilmuan kampus sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial, politik, hingga pendidikan,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara kampus, pemerintah, dan masyarakat sebagai kunci percepatan pembangunan peradaban yang lebih maju dan berkeadilan.
“Kolaborasi menjadi jalan utama agar perubahan bisa hadir lebih cepat dan memberi dampak nyata,” imbuhnya.
Pengukuhan tersebut dilakukan dalam Sidang Terbuka Senat yang berlangsung di Auditorium UIN Madura dan dihadiri oleh Direktur Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) Kementerian Agama RI, jajaran pimpinan kampus, tokoh ulama, serta unsur Forkopimda Kabupaten Pamekasan.
Empat akademisi yang resmi menyandang gelar profesor yakni Prof. Dr. Rudy Haryanto (Ilmu Manajemen Pemasaran), Prof. Dr. Atiqullah (Kepemimpinan Pendidikan Islam), Prof. Dr. Mohammad Ali Al Humaidy (Sosiologi Politik Islam), serta Prof. Dr. Achmad Muhlis (Sosiologi Pendidikan Islam).
Direktur Diktis Kemenag RI, Prof. Dr. Phil. Sahiron, dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa peran profesor tidak hanya berhenti pada aktivitas akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dalam membimbing masyarakat dengan nilai-nilai keislaman.
“Profesor harus mampu mengembangkan ilmu sekaligus memberi manfaat luas, termasuk menghadirkan nilai keislaman dalam kehidupan sosial,” ujarnya.
Ia turut mendorong penguatan kurikulum berbasis cinta yang mencakup nilai mahabbah lillah, mahabbah linnas, mahabbah lil ‘alam, dan mahabbah lil wathan sebagai fondasi pendidikan Islam yang humanis.
Kegiatan ini juga semakin bermakna karena beriringan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 yang mengusung semangat partisipasi semesta dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua.
Rektor menilai, pengukuhan guru besar menjadi refleksi nyata bahwa pembangunan pendidikan tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen.
“Pendidikan adalah kerja bersama. Kampus, pemerintah, masyarakat, hingga dunia industri harus berjalan beriringan untuk menghadirkan kualitas pendidikan yang merata,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan komitmen UIN Madura dalam memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus menjaga relevansi keilmuan agar tetap selaras dengan kebutuhan masyarakat.
“Kami ingin memastikan lulusan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu berkontribusi dalam membangun peradaban yang religius, inklusif, dan berkeadilan,” tegasnya.
Sebagai penegasan identitas kelembagaan, Rektor juga kembali menguatkan posisi UIN Madura sebagai kampus berbasis integrasi keilmuan Islam yang mengedepankan keseimbangan intelektual, spiritual, dan sosial.
“Integrasi keilmuan menjadi fondasi agar pendidikan tidak hanya melahirkan kecerdasan intelektual, tetapi juga kekuatan nilai dan keberpihakan sosial,” pungkasnya. ig/an












