MALANG, BERITAKATA.id – Pihak Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) menanggapi keluhan sejumlah mahasiswa terkait program Management Entrepreneur Days (MED) 2026. Program kegiatan yang mewajibkan mahasiswa berpraktik kewirausahaan selama 30 hari ini sebenarnya diharapkan menjadi sarana edukasi riil yang telah adanya berbagai solusi.
Ketua Pelaksana MED 2026 yang juga Dosen FEB UB, Abdurrahman Hakim, menjelaskan bahwa MED 2026 merupakan program laboratorium kewirausahaan bagi mahasiswa semester 4. Mengusung konsep bazaar, kegiatan ini akan diselenggarakan di lantai F2 atau lantai 3, Mal Transmart, Jalan Veteran, Kota Malang mulai tanggal 4 Mei hingga 31 Mei 2026.
Kegiatan ini akan diikuti oleh 35 kelompok, dengan masing-masing kelompok beranggotakan rata-rata 8 mahasiswa. Setiap kelompok akan menempati stan berukuran 2 meter x 2 meter.
“Apapun yang kami lakukan itu adalah bentuk kecintaan kami kepada mahasiswa. Kami effort juga, saya ngapain juga ngurusin kegiatan sebulan itu kan capek banget bakalan. Tapi ya karena ini memang hasil dari kajian kami secara akademik,” ujar Abdurrahman pada Rabu (29/4/2026).
Abdurrahman juga membantah keras anggapan bahwa pihaknya menutup mata terhadap keluhan mahasiswa. Ia menegaskan, pihaknya sangat terbuka dan telah merespon langsung beberapa keresahan tersebut.
“Beberapa mahasiswa yang mengeluh terkait program ini sudah pernah kami kumpulkan. Kami mendengarkan mereka memaparkan satu per satu unek-unek keluhan yang ada. Dari situ, pihak prodi sudah memberikan beberapa clue atau petunjuk solusi, termasuk soal permodalan dan pembagian waktu,” tegas Abdurrahman.
Terkait perpanjangan durasi dari program serupa yang biasanya dilaksanakan hanya 3-4 hari menjadi 30 hari, Abdurrahman memaparkan bahwa hal ini dilakukan agar mahasiswa merasakan siklus bisnis yang utuh. Mahasiswa diharapkan dapat mengamati langsung perbedaan perilaku konsumen saat tanggal muda (waktu gajian) dan tanggal tua, serta tren penjualan di hari kerja (weekdays) dibandingkan akhir pekan (weekend).
Durasi tersebut dinilai juga memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengevaluasi strategi bisnis mereka setiap minggunya.
“Biasanya itu dilaksanakan sekitar 3 hari. Tapi ini kan kelasnya namanya kelas lab kewirausahaan, laboratorium, harus praktik, nyoba-nyoba ngapain gitu. Lha kalau lab kewirausahaan yang dipraktikkan dan yang dicoba ya berjualan kan gitu ya? Maka kalau itu hanya dilaksanakan 3 hari misalkan, relatif enggak dapat apa-apa,” kata Abdurrahman.
“Pengalaman MED ini sudah mungkin belasan tahun gitu. Inisiatornya itu masih ada sampai sekarang, itu juga mengatakan bahwa idealnya MED itu ya enggak cuma 3 hari, kalau bisa sebulan,” lanjutnya.
Menjawab keluhan mengenai jadwal yang dianggap memberatkan, pihak program studi (prodi) telah menetapkan waktu operasional bazaar mulai pukul 12.00 hingga 21.00 WIB setiap harinya. Ketentuan awal yang mengharuskan setiap kelompok aktif menjaga stan mulai pukul 09.00 WIB telah dievaluasi.
Dengan jumlah 8 orang per kelompok, mahasiswa diharapkan dapat menerapkan sistem sif atau penjagaan stan secara bergantian. Abdurrahman menegaskan, program kegiatan ini tidak boleh mengganggu perkuliahan. Jika jadwal jaga stan berbenturan dengan jadwal kuliah, mahasiswa dipersilakan memprioritaskan kuliah dan mendiskusikannya dengan dosen pengampu mata kuliah terkait. Para dosen di FEB UB diklaim sudah memahami dan mendukung program MED 2026 ini.
Mengenai keluhan permodalan, pihak prodi telah memberikan solusi berupa clue. Mahasiswa tidak diwajibkan mengeluarkan modal besar, atau tidak adanya penetapan batas minimal modal yang harus disiapkan. Mereka didorong untuk melakukan sistem konsinyasi dengan tenant yang ada, bekerja sama dengan pihak Transmart, atau menerapkan sistem white label (menggunakan produk mitra dengan merek sendiri).
“Jadi bahkan bisnis tanpa modal pun itu bisa gitu lho, ataupun nanti bekerja sama dengan pihak eksternal dan lain sebagainya kan enggak harus modal,” kata Abdurrahman.
Biaya operasional juga ditekan seminimal mungkin. Kegiatan tersebut hanya menetapkan sistem bagi hasil sebesar 2,5 persen dari penjualan yang awalnya sempat di atas angka tersebut. Angka 2,5 persen ini ditujukan murni untuk menutup biaya seperti penggunaan listrik mal selama kegiatan berlangsung.
Selain itu, Abdurrahman mengakui bahwa pemilihan lokasi Mal Transmart juga didasarkan pada strategi institusi. MED 2026 menjadi bentuk partisipasi FEB UB untuk ikut menghidupkan atau meramaikan mal Transmart, yang sebagian area untuk operasionalnya saat ini telah dikelola oleh pihak Universitas Brawijaya.
“Sekarang ini kan (sebagian) dikelola oleh UB di sini (Mal Transmart). Maka kami berpartisipasi dengan itu. Kemudian atas itu kami punya fasilitas yang kemudian mudah untuk kami kelola izinnya dan lain sebagainya, semua kooperatif,” katanya.
Untuk menjamin keberhasilan program ini, pihak prodi telah menyiapkan strategi untuk membantu meramaikan lokasi kegiatan nantinya. MED 2026 akan dilengkapi dengan panggung dan acara hiburan seperti live music dan kegiatan lainnya setiap harinya. (NP/ FAS)
Reporter : Nugraha Perdana












