Wisata  

Sisi Lain Yuwono Prasetijo Utomo: Kepala Bapelitbangda yang Menyimpan Jiwa Penyair Sejak Dua Dekade Lalu

Kepala Bapelitbangda Kabupaten Probolinggo Yuwono Prasetijo Utomo saat akan tampil dalam drama kolosal closing Harjakapro ke-280.

PROBOLINGGO, BERITAKATA.id – Di balik ketegasan menyusun rencana pembangunan daerah, Kepala Bapelitbangda Kabupaten Probolinggo, Yuwono Prasetijo Utomo, ternyata menyimpan sisi lembut seorang seniman.

Tak banyak yang tahu, birokrat yang akrab disapa Pak Yu ini adalah seorang penulis puisi dengan kedalaman makna yang ia rawat sejak puluhan tahun silam.

Bakat seni ini mulai terendus publik saat ia tampil memukau dalam drama kolosal penutupan Hari Jadi Kabupaten Probolinggo (Harjakapro) ke-280 pada 26 April lalu.

Baginya, seni bukan sekadar hobi, melainkan napas kehidupan. “Dengan seni hidup jadi indah,” ujar Yuwono saat berbincang santai, Jumat (1/5/2026).

Menyingkap Arsip 2002: Puisi Tentang Cinta dan Filosofi Perencanaan
Kecintaan Yuwono pada sastra bukan muncul kemarin sore. Ia menunjukkan lembaran arsip pribadinya dari tahun 2002-2004 yang tersimpan rapi. Di sana, tertuang pemikiran-pemikiran kritis sekaligus filosofis.

Dalam salah satu baitnya yang berjudul “Satu Kata”, ia menuliskan tentang kesederhanaan cinta yang melampaui ribuan kata bicara.

Namun yang paling menarik adalah bagaimana jiwa seninya beririsan dengan profesinya sebagai perencana daerah melalui puisi bertajuk “Sebentar Aku Persiapkan Diri”.

Dalam puisi tersebut, ia menyentil pentingnya persiapan dan perencanaan:“Waktu bukan alasan untuk tanpa persiapan… Karena hidup buatku adalah membuat perencanaan untuk menyelesaikan permasalahan.”

Bahkan, ia dengan berani mengutip Chairil Anwar sambil memberikan antitesis pribadinya. Jika Chairil menyebut “Hidup adalah menunda kekalahan”, bagi Yuwono, hidup adalah perjuangan untuk menang melalui perencanaan yang matang.

Pesan Tentang Keberanian Memulai
Yuwono juga membagikan bait tentang motivasi untuk terus mencoba. Baginya, setiap langkah besar dimulai dari langkah awal yang seringkali penuh rintangan, ibarat seorang bayi yang jatuh bangun hanya untuk sekadar belajar berjalan.

“Kapan bisa bila tanpa memulai… Bukankah bayi harus jatuh bangun dan menangis untuk hanya sekedar berjalan,” tulisnya dalam bait berjudul “Bagaimanapun Mencoba”.

Kehadiran sosok birokrat-seniman seperti Yuwono memberikan warna baru di lingkungan Pemkab Probolinggo. Hal ini membuktikan bahwa angka-angka statistik dan target pembangunan bisa bersinergi harmonis dengan kepekaan rasa dan estetika sastra. ig/fa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *