MALANG, BERITAKATA.id – Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang terus mengoptimalkan peran East Java Super Corridor (EJSC) sebagai pusat inkubasi ekonomi kreatif dan digital. Sepanjang tahun 2020 hingga 2025, Co-Working Space EJSC Bakorwil III Malang tercatat telah memfasilitasi pertemuan ribuan talenta muda dengan ratusan mentor profesional serta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Kepala Bakorwil III Malang, Asep Kusdinar, menjelaskan bahwa fasilitas ini disediakan secara gratis untuk mendukung pengembangan ekosistem digital di Jawa Timur, khususnya di wilayah Malang Raya. Program ini menyasar pelajar, mahasiswa, perusahaan rintisan (startup), hingga pelaku UMKM.
“Di EJSC Bakorwil Malang, khususnya di Co-working Space, itu merupakan sebenarnya satu tempat yang free (gratis) kita sediakan untuk masyarakat. Khususnya pelajar, mahasiswa, startup, terus pelaku UMKM. Nah itu merupakan tempat gratis untuk kerja dan bisnis,” ujar Asep Kusdinar.
Salah satu program unggulan yang dijalankan di EJSC adalah Millennial Job Center (MJC). Program ini dirancang sebagai wadah inkubasi untuk meningkatkan keahlian (upgrade skill) para generasi muda agar siap menghadapi kebutuhan pasar digital.
Fokus utama pelatihan meliputi pembuatan marketing tools yang penting bagi UMKM, seperti fotografi, videografi, dan desain grafis.
“Nah di situ, dalam rangka inkubasi meng-upgrade skill para talenta dan juga mentor di situ. Terutama terkait dengan marketing tools. Itu kan senjata utamanya para UMKM. Kayak ada fotografi, jadi mereka dilatih menjadi ahli,” jelas Asep.
Ia menambahkan bahwa program ini tidak hanya mencetak talenta, tetapi juga mendatangkan mentor-mentor profesional.
“Kita upgrade semua, para calon-calon talenta menjadi talenta tulen di situ. Dan juga mentornya kita datangkan dari mentor-mentor yang sudah profesional,” tambahnya.
Berdasarkan data rekapitulasi kegiatan selama lima tahun terakhir, EJSC Bakorwil III Malang telah mencatatkan angka partisipasi yang signifikan dalam mempertemukan tiga pilar utama yakni talenta, mentor, dan klien (UMKM).
Untuk kategori talenta, tercatat sebanyak 2.047 orang di bidang fotografi, 2.132 orang di bidang desain grafis, dan 1.175 orang di bidang videografi. Guna mendukung ribuan talenta tersebut, EJSC melibatkan mentor profesional yang terdiri dari 91 mentor fotografi, 122 mentor desain grafis, dan 82 mentor videografi.
Sinergi ini telah memberikan dampak langsung kepada 905 klien atau UMKM yang menggunakan jasa para talenta tersebut. Berbagai kegiatan pelatihan teknis telah digelar, mulai dari pelatihan digital marketing, konten kreator, fotografi produk, pembuatan katalog, hingga motion graphic. Ratusan proyek riil juga telah digarap melalui kolaborasi ini.
“Jadi diharapkan nantinya juga dengan Co-working Space ini mereka bisa saling mengisi. Di situ ada talenta, ada mentor, ada klien, pelaku-pelaku UMKM dan banyak pengusaha. Saling mengisi juga di situ,” tegas Asep.
Terkait mekanisme masyarakat yang ingin bergabung, Asep menjelaskan bahwa pihaknya menerapkan sistem penjaringan. Tim EJSC melakukan jemput bola ke lapangan dan juga menerima pendaftar yang datang langsung ke kantor Bakorwil. Peserta kemudian diklasifikasi berdasarkan minat atau passion mereka untuk selanjutnya diberikan pelatihan yang sesuai.
Asep juga menyoroti dampak ekonomi dari aktivitas di EJSC. Kehadiran para talenta digital dinilai telah membantu perputaran ekonomi.
“Perputaran ekonominya tentunya dengan hadirnya para talenta, ini sudah membantu perekonomian yang ada di wilayah Jawa Timur,” ungkapnya.
Keberhasilan model kerja EJSC Bakorwil III Malang menjadikan tempat ini sebagai rujukan studi banding bagi daerah lain. Asep menyebut bahwa konsep ini merupakan pionir di Indonesia dan telah diadopsi oleh berbagai instansi pemerintahan dari provinsi lain.
“Buktinya sekarang sudah ditiru oleh berbagai daerah. Ada yang dari Sumatera Utara pernah ke sini, nah itu akan meniru EJSC. Kemudian dari Jawa Tengah juga,” pungkas Asep. ig/nn












