KPU Gelar Podcast Literasi Digital, Gandeng Forum Media Probolinggo

Ketua Forum Media Probolinggo Ahmad Faisol memaparkan situasi informasi di era digital.

PROBOLINGGO, BERITAKATA.id – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Probolinggo menggelar podcast edukasi bertajuk “Literasi Digital dan Filter Hoaks Menjadi Pemilih Cerdas di Era Informasi” pada Selasa (5/5/2026).

Kegiatan ini bertujuan untuk membekali masyarakat dengan kemampuan menyaring informasi di tengah masifnya peredaran disinformasi menjelang Pemilu.

Komisioner KPU Kabupaten Probolinggo, Bayu Rizky Pramudya Ershandi, menyatakan podcast ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat pemahaman pemilih terhadap dinamika informasi digital.

Menurutnya, maksud dan tujuan utama dari program ini adalah menciptakan ruang edukasi yang inklusif agar pemilih tidak mudah terprovokasi oleh konten negatif yang dapat mencederai proses demokrasi.

Hadir sebagai narasumber, Ketua Forum Media Probolinggo, Ahmad Faisol.

Dalam diskusi yang dipandu oleh host Aisyah, Faisol menyoroti fenomena psikologis “jempol lebih cepat dari otak”.

Dia menjelaskan, algoritma media sosial seringkali memicu emosi pengguna sehingga mengabaikan logika saat menerima informasi.

“Media sosial menciptakan Confirmation Bias, di mana pemilih cenderung hanya mencari informasi yang mendukung pilihannya saja. Ini berbahaya karena bisa memicu perpecahan dan membuat kita memandang perbedaan sebagai permusuhan,” ujar wartawan yang telah bertugas sejak 2006 tersebut.

Faisol juga membedah ancaman baru berupa teknologi Deepfake dan Artificial Intelligence (AI) yang mulai digunakan untuk memanipulasi konten politik. Ia mengimbau masyarakat untuk memperhatikan detail fisik video dan melakukan verifikasi ke sumber resmi jika menemukan konten yang terasa janggal atau bombastis.

Selain isu teknologi mutakhir, tren hoaks di Probolinggo juga disorot, terutama yang bersifat delegitimasi penyelenggara pemilu, seperti isu surat suara yang sudah dicoblos atau perubahan jadwal teknis secara sepihak.

Sebagai solusi praktis, Faisol memperkenalkan rumus “SSC” (Stop, Saring, Cek) sebagai langkah mitigasi tiga detik sebelum membagikan informasi. Masyarakat disarankan memanfaatkan informasi di akun media sosial dan website resmi KPU dan lembaga negara.

“Khusus untuk generasi muda, Gen Z dan Milenial, kalian adalah penduduk asli dunia digital. Jadilah penyaring informasi di grup-grup keluarga. Satu konten edukasi dari kalian bisa menyelamatkan ratusan orang dari disinformasi,” tegasnya. ig/fa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *