Simulasi Hadapi Krisis, Parimaya dan Perhumas Malang Raya Tantang Praktisi PR Hadapi Tekanan Media

Kegiatan Crisis Simulation Lab bertajuk "2 Hours After It Goes Viral" pada Sabtu (31/1/2026).

MALANG, BERITAKATA.id – Di tengah arus informasi digital yang serba cepat, krisis reputasi sering kali berkembang menjadi krisis informasi yang tak terkendali. Merespon tantangan tersebut, Pariwisata Malang Raya (Parimaya) berkolaborasi dengan Perhumas DPC Malang Raya menggelar kegiatan Crisis Simulation Lab bertajuk “2 Hours After It Goes Viral” pada Sabtu (31/1/2026).

Kegiatan tidak hanya menyimak materi, para peserta yang terdiri dari praktisi humas, marketing communication (Marcomm), pelaku pariwisata, hingga perwakilan instansi pemerintah, dilibatkan langsung dalam simulasi penanganan krisis nyata. Para jurnalis yang hadir juga tidak sekadar meliput sebagai penonton, melainkan turut serta sebagai aktor dalam simulasi untuk menciptakan kondisi realistis.

Ketua Perhumas DPC Malang Raya sekaligus Station Manager MFM Radio, Yossi Beta Vinasari, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membangun kesiapan mental dan teknis para praktisi komunikasi. Menurutnya, anggota yang terlibat kali ini sangat heterogen, mulai dari akademisi universitas, pelaku pariwisata, hingga dinas di pemerintah daerah.

“Memang sempat saya sampaikan bahwa tidak ada satu institusi pun yang kebal akan krisis. Secara tiba-tiba datang, kemudian hal-hal yang sebenarnya itu kan tidak terduga,” ujar Yossi pada Sabtu (31/1/2026).

Yossi menekankan urgensi penguasaan manajemen krisis mengingat perubahan pola konsumsi informasi masyarakat saat ini. Ia menyoroti fenomena kecepatan informasi sering kali mendahului akurasi, yang menjadi tantangan berat bagi seorang humas.

“Apalagi dengan kondisi hari ini media sosial, kemudian digital ya, aset yang luar biasa memberitakan itu, yang penting di-up dulu, viral dulu, konfirmasi nanti. Ini ada sedikit pergeseran. Kalau dulu kan kita cari dulu informasi, kita cari datanya, kita baru sebarkan ke masyarakat. Tapi hari ini kan tidak, viral dulu nih, heboh dulu. Nah, itulah yang harus dipelajari sama teman-teman Humas dan Marcomm hari ini,” jelas Yossi.

Dalam simulasi ini, peserta dihadapkan pada skenario dan dilatih merumuskan langkah taktis, menyusun klarifikasi, hingga menghadapi desakan pertanyaan-pertanyaan media.

“Kita harus tahu bagaimana perkembangan digital, kemudian bagaimana kita handling-nya. Karena itu tadi, krisis itu datang secara tiba-tiba dengan beberapa contoh yang memang tadi kami bawa, beberapa isu-isu viral yang baru terjadi,” tambah Yossi.

Keterlibatan aktif jurnalis dalam simulasi menciptakan atmosfer dua arah. Hal ini terciptanya ruang dialog terbuka mengenai ekspektasi media, transparansi, dan kecepatan informasi, sekaligus memperkuat relasi profesional antara jurnalis dan praktisi komunikasi.

Peserta kegiatan menyambut positif metode praktik langsung ini. Marcomm Manager Grand Mercure Malang Mirama, Gledy Webyansyah, menilai simulasi semacam ini sangat krusial karena jarang tersentuh dalam pelatihan teoritis.

“Ya pastinya sangat penting karena crisis management plan itu sangat jarang sekali teman-teman PR aware terkait hal tersebut. Jadi Simulation Lab kali ini perdana yang di pertemuan ketiga dari Parimaya dan sangat-sangat penting sekali untuk PR,” ungkap Gledy.

Gledy menambahkan bahwa Simulation Lab memberikan pengalaman riil yang tidak didapatkan di bangku kuliah atau seminar biasa. Peserta diminta untuk berpikir cepat di bawah tekanan.

“Pastinya kan kalau dari teman-teman PR tuh mereka mostly hanya belajar secara teori tanpa praktik. Nah, kali ini kan dari Parimaya memberikan Simulation Lab itu adalah untuk belajar praktik secara roleplay. Istilahnya secara roleplay bagaimana ketika krisis itu terjadi, bagaimana presscon itu terjadi, termasuk juga doorstop interview yang tadi kita lakukan,” pungkas Gledy. ig/nn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *