Penguatan Desain Kemasan Jadi Kunci Peningkatan Daya Saing Produk UMKM Blitar dan Malang

Kepala Bakorwil Malang, Asep Kusdinar dalam kegiatan fasilitasi desain kemasan produk berbasis program Millennial Job Center (MJC) yang diselenggarakan pada hari Kamis (5/11/2026).

MALANG, BERITAKATA.id – Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur terus memperkuat daya saing serta nilai tambah produk usaha mikro, kecil, dan menengah serta Kelompok Tani Hutan (KTH) di kawasan Selatan-Selatan Jawa Timur. Langkah strategis tersebut direalisasikan melalui kegiatan fasilitasi desain kemasan produk berbasis program Millennial Job Center (MJC) yang diselenggarakan pada hari Kamis (5/11/2026), bertempat di Angkringan Pak Joko, Desa Minggirsari, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar.

Kegiatan ini mempertemukan unsur pemerintah, mentor profesional, talenta kreatif, Kelompok Tani Hutan, serta pelaku usaha guna membangun identitas dan kualitas visual produk lokal agar semakin kompetitif di pasar yang lebih luas.

Kepala Bakorwil Malang, Asep Kusdinar, memaparkan bahwa pelaku usaha dan kelompok tani hutan merupakan fondasi ekonomi daerah yang harus dikembangkan secara berkelanjutan lewat penguatan kapasitas serta inovasi. Berdasarkan data yang dihimpun dalam kegiatan tersebut, jumlah unit usaha mikro, kecil, dan menengah tercatat sebanyak 35.115 unit di Kabupaten Blitar, sekitar 104.000 unit di Kabupaten Malang, serta mencapai 2.581.251 unit secara keseluruhan di wilayah Provinsi Jawa Timur.

Besarnya potensi tersebut menuntut optimalisasi agar masyarakat mampu mengolah bahan baku lokal menjadi produk bernilai jual tinggi.

“Potensi daerah harus mampu kita ubah menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Kita tidak boleh hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi harus mampu menciptakan produk olahan yang memiliki identitas, kualitas, dan nilai tambah. Kemasan menjadi bagian penting karena tidak hanya menarik perhatian konsumen, tetapi juga melindungi produk, menceritakan identitas daerah, dan meningkatkan nilai jual,” kata Asep pada Kamis (5/11/2026).

Asep menambahkan bahwa penguatan ekonomi lokal memerlukan kolaborasi erat dan optimisme dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan pada tahun 2030. Bakorwil Malang sendiri telah konsisten menjalankan fungsi fasilitasi koordinasi pengembangan usaha mikro, kecil, menengah, dan desa wisata sejak tahun 2023 melalui program MJC sebagai wadah mempertemukan talenta muda kreatif dengan para pelaku usaha.

“Melalui MJC, kita mempertemukan potensi lokal dengan kompetensi talenta muda. Harapannya, lahir desain kemasan yang khas dan bernilai jual, terbangun jejaring antara talenta, KTH, dan pelaku usaha, serta semakin banyak produk lokal kawasan Selatan Jawa Timur yang mampu bersaing dan menjangkau pasar lebih luas,” imbuhnya.

Sementara itu, akademisi Prof. Asihing Kustanti menjelaskan bahwa pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat dimulai dengan mengenali potensi sederhana di lingkungan sekitar, seperti komoditas lokal di Kabupaten Blitar yang meliputi nanas madu, sukun, dan pisang Cavendish. Menurutnya, selain desain kemasan, pelaku usaha juga harus memahami strategi penetapan harga, segmentasi pasar, serta karakteristik produk secara komprehensif.

“Untuk menjadi masyarakat yang berdaya, kita harus mengenali potensi yang dimiliki, meningkatkan kemampuan, kemudian mengembangkan potensi tersebut agar memberikan nilai ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan. Identifikasi peluang usaha dapat dimulai dengan pendekatan 5W+1H, yaitu apa potensinya, di mana lokasinya, kapan waktu pengembangannya, siapa konsumennya, mengapa perlu dikembangkan, dan bagaimana meningkatkan nilai tambahnya,” tutur Prof. Asihing.

Ia juga menyebutkan bahwa pengembangan produk lokal telah didukung melalui nota kesepahaman dengan Tim Penggerak PKK di sembilan kabupaten dan kota, serta penyediaan fasilitas ruang pamer atau show window di kantor Bakorwil Malang.

Dari sisi pengelolaan kehutanan, Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Malang, Sapto Yuwono mengungkapkan bahwa Kabupaten Blitar memiliki potensi kelompok tani hutan yang cukup besar dengan beragam produk hasil hutan. Kendati demikian, pengembangan kapasitas sumber daya manusia serta inovasi kemasan dan pemasaran masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan jumlah tenaga penyuluh yang saat ini hanya berjumlah tiga orang untuk mendampingi sekitar 225 kelompok.

“Pengembangan KTH tidak hanya berorientasi pada kegiatan produksi, tetapi juga bagaimana potensi sumber daya lokal dapat memberikan nilai ekonomi sekaligus mendukung pemulihan lahan kritis. Dukungan diperlukan melalui kebijakan afirmatif, bantuan alat ekonomi produktif, serta fasilitasi nonfiskal seperti pendampingan perizinan, sertifikasi halal, dan perluasan akses pasar,” jelas Sapto.

Cabang Dinas Kehutanan juga telah menjalin kerja sama strategis dengan pihak Kampung Coklat dalam hal penyediaan bibit kakao bagi kelompok tani hutan.

Dukungan serupa disampaikan oleh Camat Kanigoro, Siti Supartiyah yang menilai bahwa perkembangan wilayah selatan kian ditopang oleh keberadaan Jalur Lintas Selatan (JLS) sebagai penggerak kunjungan pariwisata. Di balik potensi besar tersebut, pelaku usaha di daerahnya masih menghadapi berbagai kendala klasik seperti keterbatasan modal, kapasitas produksi, serta jangkauan pemasaran.

“Pengembangan potensi wilayah selatan harus diikuti dengan peningkatan kualitas produk dan kemampuan pelaku usaha. Kemasan menjadi salah satu faktor penting karena dapat meningkatkan daya tarik sekaligus nilai jual produk khas daerah. Meskipun berbagai pelatihan dan kemudahan perizinan telah diberikan, pelaku UMKM masih menghadapi tantangan keterbatasan modal, kapasitas produksi, dan pemasaran. Karena itu, kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi perkembangan UMKM dan perekonomian masyarakat, khususnya di kawasan selatan Kabupaten Blitar,” ungkap Camat Kanigoro.

Pelaksanaan program MJC ini melibatkan dua mentor profesional, 25 talenta kreatif, dan 25 pelaku usaha sebagai klien. Setiap peserta mendapatkan pendampingan rebranding secara intensif selama dua minggu untuk satu produk prioritas, mulai dari identifikasi karakteristik produk, penyusunan konsep desain, pengembangan merek, hingga konsultasi teknis hingga menghasilkan berkas desain siap cetak.

Melalui serangkaian proses tersebut, Bakorwil Malang optimis ekosistem kolaborasi antar-pemangku kepentingan dapat semakin menguat guna mengangkat produk unggulan kawasan Selatan Jawa Timur ke tingkat yang lebih kompetitif. (NP/ FAS)

Reporter: Nugraha Perdana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *