Bangkitkan Kopi Lokal, Bakorwil Malang Gagasi Perhelatan Malangopi Fest 2026

Kepala Bakorwil Malang, Asep Kusdinar (kanan), melakukan pertemuan dan diskusi bersama Wakil Bupati Malang, Lathifah Shohib (tengah), di Kantor Bakorwil III Malang pada Jumat (16/10/2026).

MALANG, BERITAKATA.id – Badan Koordinasi Wilayah Pemerintahan dan Pembangunan (Bakorwil) III Malang mengambil langkah strategis untuk mengangkat kembali pamor kopi lokal di kancah global. Langkah tersebut diwujudkan melalui perhelatan akbar bertajuk Malangopi Fest 2026 yang dijadwalkan bergulir pada 17 hingga 19 November 2026 di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Kota Malang.

Festival ini dirancang sebagai wadah sinergi lintas sektor guna membangun ekosistem perkopian yang tangguh dari hulu hingga hilir, sekaligus mendongkrak daya saing produk lokal di pasar internasional.

Inisiatif ini didasari oleh potensi besar yang dimiliki wilayah Malang sebagai salah satu pusat penghasil komoditas perkebunan utama di Jawa Timur. Sejumlah kawasan seperti Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo, dan Dampit telah lama dikenal sebagai sentra penghasil biji kopi berkualitas. Khusus untuk Kopi Dampit, reputasinya bahkan sudah menembus pasar ekspor dan menjadi salah satu ikon kebanggaan daerah.

Kendati demikian, besarnya potensi pasar ini masih menyisakan tantangan pada sektor pasokan. Berdasarkan data historis, permintaan ekspor kopi dari Kabupaten Malang pernah menyentuh angka 45.000 ton.

Sementara itu, kemampuan produksi lokal pada masa tersebut baru mampu memenuhi sekitar 15.000 ton saja, di mana selisih pasokan dipasok dari daerah tetangga seperti Blitar dan Pasuruan. Kondisi ini menegaskan urgensi untuk memperkuat rantai pasok dan meningkatkan produktivitas petani lokal secara berkelanjutan.

Gagasan penyelenggaraan festival ini matang setelah Kepala Bakorwil Malang, Asep Kusdinar, melakukan pertemuan dan diskusi bersama Wakil Bupati Malang, Lathifah Shohib, di Kantor Bakorwil III Malang pada Jumat (16/10/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Asep menjelaskan bahwa Malang memiliki fondasi sejarah dan kultural yang kuat sebagai basis produksi kopi dan kakao kelas dunia. Semangat inilah yang ingin kembali dihidupkan melalui Malangopi Fest 2026.

“Malang punya akar, potensi, dan sejarah yang sangat kuat sebagai pusat penghasil kopi dan kakao tingkat dunia. Semangat ini yang hendak kita munculkan kembali melalui gelaran Malangopi Fest 2026. Ini bisa jadi solusi kita,” ungkap Asep.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kemajuan ekosistem industri kopi di Malang memerlukan orkestrasi yang terstruktur. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan konsep grand design Malang Raya Megapolitan, di mana penguatan sektor unggulan daerah harus berjalan selaras dengan peningkatan konektivitas kawasan, ekspansi industri, serta daya saing ekonomi masyarakat.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Bupati Malang, Lathifah Shohib, menyoroti pentingnya integrasi kearifan lokal dalam pengembangan Koridor Selatan-Selatan Jawa Timur. Menurutnya, potensi agroindustri kopi dan kakao harus menjadi pilar utama dalam strategi pembangunan kawasan yang berkesinambungan.

“Kopi dari Malang sudah diakui dunia. Buktinya dari angka ekspor kopi dari Malang. Namun, kita masih sangat membutuhkan program kerja inovatif dan kolaboratif untuk membangun keseluruhan ekosistemnya. Agar bisa lebih menjamin keberlanjutan dan keunggulannya,” ujar Lathifah.

Lathifah juga menekankan pentingnya peran aktif kaum perempuan dalam menggerakkan perekonomian kawasan selatan Jawa Timur, baik melalui pemberdayaan ekonomi keluarga maupun pengolahan potensi lokal bernilai tambah.

Sebagai daya tarik tambahan dalam festival tersebut, Lathifah secara khusus mengusulkan agar Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dilibatkan sebagai juri utama dalam lomba seduh kopi. Ia menilai Gubernur memiliki pemahaman yang mendalam mengenai komoditas kopi sehingga kehadirannya dapat mendongkrak apresiasi terhadap cita rasa khas kopi lokal.

“Ibu Khofifah itu sangat ahli dalam hal kopi. Beliau sangat mendalaminya. Semoga beliau berkenan menjadi juri utama dalam Malangopi Fest 2026,” imbuhnya.

Penyelenggaraan Malangopi Fest 2026 tidak hanya berfokus pada sektor perkebunan, tetapi juga dirancang untuk menyemarakkan berbagai momentum penting, di antaranya:

  • Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur
  • Hari Jadi ke-1266 Kabupaten Malang
  • Hari Jadi ke-25 Kota Batu
  • Peringatan Hari Pahlawan
  • Hari Disabilitas Internasional 2026

Selain itu, kegiatan ini turut bersinergi dengan program pemberdayaan perempuan Ibu Pertiwi yang konsisten digalakkan Bakorwil Malang selama empat tahun terakhir. Tahun ini, Bakorwil Malang memperluas partisipasi masyarakat melalui kolaborasi antara Dharma Wanita Persatuan (DWP) dan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) dalam aspek sosial, budaya, dan ekonomi.

Ketua Pelaksana Malangopi Fest 2026, Aditya Candra, menyampaikan bahwa acara ini dipersiapkan agar dapat menjadi agenda rutin tahunan demi menjaga kontinuitas ekosistem kopi di Malang Raya.

“Kita konsepnya dijadikan event rutin tahunan agar keberlanjutan bisa kita jaga bersama. Prinsip utamanya adalah kolaborasi dan orkestrasi. Kita terbuka. Ini event kita bersama. Semoga bermanfaat untuk kita semuanya,” tutur Aditya yang juga pemilik Wondo Kopie Kawi.

Festival ini terlaksana berkat kolaborasi erat antara Bakorwil Malang, Wondo Kopie, TosanAji.id, serta berbagai komunitas pegiat kopi dan budaya. Melalui sinergi ini, Bakorwil Malang optimistis kopi Malang tidak hanya semakin dikenal luas, tetapi juga mampu menghadirkan nilai tambah ekonomi yang signifikan bagi masyarakat serta mengembalikan kejayaannya di panggung global. (NP/ FAS)

Reporter: Nugraha Perdana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *