MALANG, BERITAKATA.id – Universitas Brawijaya (UB) melalui akademisi Departemen Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Prof. Ali Mashuri, S.Psi., M.Sc., Ph.D, memperkenalkan model psikososial baru yakni Arsitektur Nalar Damai Identifikasi Nasional atau ANDAL pada Jumat (6/11/2026). Model ini dirancang sebagai kerangka kerja terintegrasi untuk menjelaskan bagaimana rasa memiliki dan mencintai Indonesia dapat dibangun secara kokoh, sehingga keragaman agama, etnis, dan budaya berfungsi sebagai pelekat sosial alih-alih menjadi sekat pemisah di tengah masyarakat majemuk.
Dalam pemaparannya, Prof. Ali menjelaskan bahwa ANDAL mengintegrasikan tiga bentuk kelekatan sosial utama yang mencerminkan kebaruan teoretis. Pertama adalah superordinate higher-order nested identity, yakni konstruksi kelekatan sosial yang menempatkan Indonesia sebagai identitas nasional yang inklusif, menaungi berbagai ragam identitas kelompok, namun secara hierarkis berada di atas identitas kelompok lokal.
Kedua, adalah dual identification atau identitas ganda, di mana masyarakat mengakui pentingnya identitas keindonesiaan sekaligus tetap menghargai dan merawat identitas kelompok, suku bangsa, agama, serta budaya lokal secara beriringan. Ketiga adalah constructive patriotism atau patriotisme konstruktif, yang mendorong masyarakat untuk berkomitmen memajukan bangsa sekaligus memiliki keterbukaan dalam mengkritisi kebijakan negara demi perbaikan di masa depan, bukan sekadar membela negara secara membabi buta (blind patriotism).
“ANDAL tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga mencerminkan integrasi identifikasi sosial konstruktif sebagai fondasi pemahaman mengenai ciri-ciri dan simbol identitas suatu bangsa, misalnya Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan bahasa Indonesia,” jelas Prof. Ali pada Jumat (6/11/2026).
Ia menambahkan, bahwa model ini berpotensi memotivasi masyarakat untuk memaknai keragaman secara positif sebagai model sosial yang memperkuat tali persaudaraan, rasa saling percaya, serta perdamaian antar kelompok, sekaligus mereduksi pemaknaan negatif keragaman yang kerap memicu fragmentasi sosial. Lebih lanjut, Prof. Ali memproyeksikan bahwa ANDAL mampu mengarahkan masyarakat menuju perdamaian positif (positive peace) yang melibatkan kerja sama dan interaksi aktif, bukan sekadar perdamaian negatif (negative peace) yang bersifat menghindari konflik tanpa komunikasi.
Menanggapi relevansi model ANDAL dalam menghadapi tantangan nasional seperti isu separatisme di Papua, Prof. Ali menjelaskan bahwa gerakan separatis umumnya bertentangan dengan prinsip higher-order nested identity karena menempatkan identitas etnis atau kelompok di atas identitas nasional. Kelompok separatis kerap menggunakan motif supresi identitas untuk melegitimasi aspirasi mereka.
“Yang jelas, untuk masyarakat dengan ANDAL yang tinggi, secara default mereka tidak akan mendukung separatisme karena tidak inline dengan konstitusi dan negara kesatuan kita,” ujar Prof. Ali.
Selain itu, pendekatan penyelesaian konflik bagi masyarakat ber-ANDAL tinggi cenderung lebih memilih solusi berbasis kebudayaan ketimbang pendekatan militeristik. Untuk mengimplementasikan model ANDAL secara komprehensif, Prof. Ali memaparkan lima langkah strategis, mulai dari pengujian model integratif dan konsensus empiris antarkelompok, integrasi faktor struktural seperti pemerataan dan pemberantasan korupsi, hingga pembentukan lembaga riset dan terapan.
Terkait implementasi di tingkat akar rumput, Prof. Ali menegaskan bahwa pendekatan ini harus berjalan dua arah antara pemerintah pusat dan daerah, serta merambah ranah seperti pendidikan mikro.
“Di level mikro, tantangannya memang nyata seperti adanya segregasi sosial, sehingga idealnya dapat diintegrasikan melalui kurikulum pendidikan di sekolah dasar hingga menengah untuk menanamkan nilai-nilai ke-Indonesiaan sekaligus penghargaan terhadap identitas kelompok secara seimbang,” pungkas Prof. Ali. (NP/ FAS)
Reporter: Nugraha Perdana












