MALANG, BERITAKATA.id – Panitia Kurban Masjid Babul Hidayah, Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang, menggunakan daun jati sebagai alternatif pembungkus daging kurban pada Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, Rabu (27/5/2026). Langkah ini dipilih untuk menekan pengeluaran operasional di tengah melonjaknya harga kantong plastik di pasaran.
Perwakilan Panitia Idul Adha Masjid Babul Hidayah, Muhammad Firdaus Zulkarnain mengatakan bahwa penggunaan daun jati didasari oleh pertimbangan ekonomi dan lingkungan. Masjid yang berlokasi di Jalan I.R. Rais Gang 14 ini memanfaatkan potensi lokal untuk mengemas paket kurban.
“Daun jati itu ekonomis, ramah lingkungan, karena kita tahu bahwasanya plastik itu sekarang semakin mahal dan akhirnya kita memilih untuk membungkusnya dengan daun jati,” kata Firdaus saat ditemui di lokasi penyembelihan, Rabu (27/5/2026).
Firdaus menambahkan, persediaan daun jati tersebut diperoleh secara mandiri dari swadaya masyarakat sekitar, sehingga prinsip pemanfaatannya kembali kepada warga.
“Alhamdulillah ada warga kita yang kebetulan menanam daun jati. Jadi kita gunakan, kita buat untuk bungkus daging tersebut,” jelasnya.
Pada ibadah kurban tahun 2026 ini, Masjid Babul Hidayah menyembelih sebanyak 10 ekor hewan kurban. Seluruh proses pemotongan dipastikan berjalan aman dengan pengawasan langsung dari tim medis veteriner.
“Di Masjid Babul Hidayah ini kami menyembelih hewan kurban sejumlah 2 ekor sapi berserta 8 ekor kambing. Dan alhamdulillah-nya juga, kami kedatangan tim ahli dokter hewan untuk memeriksakan bagian-bagian yang mana saja yang bisa dikonsumsi dan bagian-bagian mana yang tidak bisa dikonsumsi dan alhamdulillah-nya semuanya sehat, dari hasil pemeriksaan tersebut,” papar Firdaus.
Panitia memproyeksikan distribusi daging kurban ini akan mencapai ratusan paket yang menyasar warga di sekitar masjid serta beberapa wilayah luar.
“Rencana kami beserta seluruh panitia akan menyebarkan daging hewan kurban tersebut. Yang pertama, kita liputi dari RW 04 yang berisikan RT 1, RT 11, RT 10 dan RT 14, di luarnya kita memberikan ke beberapa warga. Kurang lebih paket perbungkusnya Insya Allah berjumlah 300 kurang lebih, 300 bungkus dan itu mungkin bisa bertambah karena ini hanya hitungan kotor gitu, kita perkirakan 300 lebih,” urai Firdaus.
Di tempat yang sama, jalannya pemeriksaan kesehatan hewan kurban dikawal ketat oleh Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya (FKH UB). Pemeriksaan dilakukan dalam dua tahap utama demi menjamin kelayakan daging sebelum dikonsumsi masyarakat.
Dokter Hewan FKH UB, Dimas Haryo Kuncoro menjelaskan bahwa pemeriksaan telah berjalan sejak pagi hari sebelum proses penyembelihan dimulai.
“Untuk kali ini kegiatannya mulai dari pagi kita melakukan antemortem, yaitu pemeriksaan apakah kambingnya sudah sehat dan siap untuk dilakukan kurban di kemudian hari, dan setelah dilakukan sembelih kita melakukan pengecekan namanya postmortem yaitu pengecekan organ dalam meliputi dari paru-paru, jantung, dan hepar atau hati,” kata Dimas.
Dari hasil pemeriksaan postmortem, tim dokter menemukan adanya indikasi klinis pada salah satu organ dalam hewan kurban yang disembelih. Temuan tersebut didapati pada organ hati salah satu sapi.
“Ditemukan ada beberapa hati yang terindikasi penyakit cacing tapi masih dalam keadaan aman. Aman untuk dikonsumsi. Jadi, beberapa hanya kita afkir yang tidak layak untuk dikonsumsi, yang lainnya tetap layak untuk dikonsumsi. (Temuan) di hati sapi,” ungkap Dimas.
Meskipun ditemukan indikasi parasit, Dimas menegaskan kondisi tersebut tidak dikategorikan sebagai kerusakan fatal. Pihak medis langsung melakukan tindakan lokalisasi pada bagian organ yang terdampak agar tidak ikut terdistribusi kepada warga.
“Tidak ada kerusakan parah di heparnya atau di hatinya, jadi tetap masih bisa dikonsumsi. Aman. Untuk temuan tadi sudah kita potong bagian yang ada indikasi cacing, jadi untuk yang diedarkan di masyarakat tidak untuk bagian yang terindikasi cacing, jadi masih tetap aman,” pungkas Dimas.












