Wanita dengan Berat Badan di Atas 70 Kilogram Berisiko Hamil Anggur

Ilustrasi perut perempuan hamil.

MALANG, BERITAKATA.id – Seorang profesor dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB), Prof. Dr. dr. Tatit Nurseta, Sp.O.G., Subsp. Onk, menyoroti korelasi kuat antara berat badan berlebih dan gaya hidup tidak sehat dengan risiko terjadinya hamil anggur atau Mola Hidatidosa (MH).

Prof. Tatit mengungkapkan bahwa wanita dengan berat badan di atas 70 kilogram memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap komplikasi kehamilan ini.

Hamil anggur merupakan kelainan biologis kehamilan yang bersifat proliferatif dan invasif. Meski tergolong jinak, kondisi ini memiliki risiko bertransformasi menjadi Penyakit Trofoblas Maligna (keganasan) jika tidak ditangani dengan tepat.

Prof. Tatit mengungkapkan bahwa faktor epidemiologi hamil anggur sering kali berkaitan dengan status sosial ekonomi dan pengetahuan gizi yang rendah. Hal ini memicu pola konsumsi tidak seimbang, seperti asupan makanan instan, daging olahan, dan junk food secara berlebihan.

“Postur tubuh yang gemuk, BMI (Body Mass Index) tinggi, jadi wanita dengan berat badan di atas 70 kilogram memiliki risiko,” ujar Prof. Tatit pada Senin (9/2/2026).

Ia menjelaskan bahwa pencegahan hamil anggur sejatinya dimulai dari perbaikan gizi, bukan penanganan medis di rumah sakit.

“Mencegah mola bukan di rumah sakit atau kamar operasi, tapi di piring wanita,” tegasnya.

Menurutnya, asupan Vitamin A, Vitamin D, dan antioksidan memegang peranan vital dalam menjaga kualitas sel telur perempuan untuk kehamilan.

“Vitamin A ternyata sangat berguna yang menyebabkan sel-sel yang berhubungan dengan kehamilan menjadi baik, tidak abnormal. Vitamin D bekerja sama dengan Vitamin A agar sel-sel tadi tidak mudah rusak,” jelas Prof. Tatit.

Ia menambahkan, sumber nutrisi tersebut mudah didapat, seperti sinar matahari untuk Vitamin D, serta sayuran hijau dan buah merah untuk antioksidan pelindung genom.

Guna menekan angka kejadian hamil anggur yang masih tinggi di Indonesia, Prof. Tatit merancang model pencegahan integratif bernama PERMATA MOLA. Model ini menggabungkan epidemiologi nasional, karakteristik molekuler, regulasi hormonal, dan nutrisi maternal.

Prof. Tatit menekankan perlunya pergeseran paradigma penanganan dari hilir (kuratif) ke hulu (preventif).

“Selama ini kita kan bekerja di Rumah Sakit Saiful Anwar atau di beberapa rumah sakit swasta, kita itu selalu menerimanya ini sudah hamil anggur. Nah, dari konsep Permata Mola ini, kita ingin pencegahannya itu lebih hulu lagi. Lebih hulu lagi, ya tidak terbentuk hamil anggur,” paparnya.

Fokus utama model ini adalah intervensi prakonsepsi atau sebelum kehamilan. Hal ini didasari temuan bahwa kelainan sel telur menjadi salah satu penyebab utama hamil anggur, di mana sel telur kosong memungkinkan terjadinya pembuahan abnormal.

“Jadi kalau ada orang hamil anggur itu, tertuduhnya perempuan bukan laki-laki. Kenapa? Karena menghasilkan sel telur yang kosong dan barrier-nya itu bisa dilewati lebih dari satu sperma,” tambahnya.

Prof. Tatit juga menyoroti fenomena gaya hidup modern yang memperburuk risiko, termasuk kebiasaan makan anak kos dan diet ekstrem calon pengantin demi mengejar ukuran baju pernikahan.

“Diet boleh, tapi yang dikurangi glikemiknya tadi. Yang maksudnya itu karbohidratnya yang dikurangi. Protein, minum jus atau sayur atau buah segar,” imbaunya.

Ia menyayangkan kebiasaan masyarakat yang melakukan diet karbohidrat tinggi namun miskin nutrisi, seperti makan nasi dengan lauk mi instan, atau kombinasi makanan berpengawet.

“Pagi rendang malamnya rawon, tapi itu mi instan semua,” katanya.

Dalam implementasinya, PERMATA MOLA mendorong keterlibatan lintas sektor, mulai dari Dinas Kesehatan, Pendidikan, KUA, hingga Kepolisian untuk edukasi ke sekolah dan komunitas. Selain itu, peran suami dalam rumah tangga juga dinilai krusial dalam menjamin ketersediaan nutrisi istri.

“Perannya laki-laki kalau ngasih belanja istrinya jangan terlalu irit. Demi kesehatan. Maksudnya kalau irit itu nanti belanjanya lebih banyak tadi itu ya karbohidrat. Konsumsinya makan nasi, lauk mi instan, sayurnya teh manis, lauk dadar jagung,” ujar Tatit.

Sebagai informasi, Prof. Dr. dr. Tatit Nurseta, Sp.O.G., Subsp. Onk akan dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang ilmu obstetri dan ginekologi dengan kepakaran onkologi ginekologi pada Rabu (11/2/2026) mendatang. Ia tercatat sebagai profesor aktif ke-7 di Fakultas Kedokteran dan ke-450 di Universitas Brawijaya. ig/nn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *