Jangkau Pelosok Negeri, Mahasiswa Kalimantan Bisa Kuliah S2 di UM dengan PJJ

Universitas Negeri Malang.

MALANG, BERITAKATA.id – Universitas Negeri Malang (UM) resmi meluncurkan Program Magister (S2) Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) untuk Tahun Akademik 2026/2027 pada Rabu (1/7/2026). Program ini diluncurkan untuk memperluas akses pendidikan pascasarjana bermutu, khususnya bagi guru dan tenaga kependidikan yang terkendala jarak dan waktu.

Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menegaskan bahwa program PJJ ini merupakan komitmen UM dalam memberikan layanan pendidikan tanpa melanggar regulasi pemerintah.

“Untuk pembelajaran jarak jauh adalah sebuah program yang ingin dilakukan oleh UM, bagaimana kita bisa melayani saudara-saudara kita yang sedang bekerja atau jarak tempat tinggalnya itu tidak di dekat UM tetapi secara kualitatif maupun administratif itu tidak melanggar regulasi. Dan ini yang dirintis oleh Pak WR 1,” tegas Prof. Hariyono pada Rabu (1/7/2026).

Sementara itu, Wakil Rektor 1 UM, Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd., menjelaskan bahwa inisiatif ini bermula dari tingginya permintaan masyarakat di berbagai daerah seperti Probolinggo, Blitar, Kutai Timur, hingga Tana Tidung (Kalimantan Utara) untuk membuka kelas jauh. Namun, pemerintah melarang praktik kelas jauh yang tidak resmi dan hanya mengakui tiga sistem yakni Kelas Reguler, Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU), dan PJJ.

“UM sejak dulu memang taat kepada aturan pemerintah, tidak mau melanggar, sehingga kami merintislah namanya Pendidikan Jarak Jauh. Pemerintah mengharapkan tidak S1, karena S1 sudah ada UT, juga tidak S3, supaya S3 tetap terjaga kualitasnya tetap tatap muka, sehingga kami buka S2,” ujar Prof. Ibrahim.

UM memilih jalur PJJ berizin dan terakreditasi LAMDIK karena dinilai lebih efisien dibandingkan PSDKU yang menuntut pembangunan kampus fisik secara lengkap di daerah. PJJ UM dibangun di atas program studi reguler yang telah terakreditasi Unggul dengan dosen berkualifikasi Doktor dan Profesor serta kurikulum yang sama.

Saat ini, UM merintis enam Program Studi S2 PJJ yakni Teknologi Pendidikan, Pendidikan Matematika, Pendidikan Dasar, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Pendidikan Non Formal. Berdasarkan data per 1 Juli 2026, empat prodi di antaranya telah mendapat izin resmi dan terdaftar di PD DIKTI, sementara dua lainnya yakni Pendidikan Bahasa Indonesia dan Pendidikan Non Formal dalam tahap penyelesaian akhir administrasi setelah asesmen LAMDIK.

UM membuka kuota penerimaan mahasiswa antara 50 hingga 100 orang setiap angkatan untuk menjaga kualitas pembelajaran. Seluruh program ditargetkan meluncur serentak pada Agustus 2026. Teknis pelaksanaan PJJ UM menggunakan sistem daring (online) secara penuh melalui platform Learning Management System (LMS) Sipejar milik UM, dikombinasikan dengan kelas mentoring di Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ).

UM membentuk dua UPBJJ di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur dan Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, sesuai dengan tingginya data peminatan dari kedua wilayah tersebut yakni Kutai Timur 23 persen, Tana Tidung 13 persen. Pendampingan dilakukan oleh mentor lokal bersertifikat yang ditunjuk melalui SK Rektor.

“Mentoring-nya biasanya per bulan satu kali,” jelas Prof. Ibrahim.

Meski berkonsep PJJ, mahasiswa diwajibkan hadir di kampus UM di Malang satu kali dalam satu semester.

“Kami tata agar tidak murni semuanya PJJ, tapi ada satu pertemuan ada di kampus,” tambah WR 1.

Selain itu, tidak ada perbedaan biaya antara program PJJ dengan program reguler. UKT ditetapkan sebesar Rp8.500.000 setiap semester.

Dalam pelaksanaan PJJ ini, UM memastikan bahwa peran dosen tetap menjadi unsur utama. Penggunaan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dalam sistem PJJ UM ditegaskan hanya sebatas alat bantu pelengkap, bukan pengganti interaksi akademik.

“AI itu dipakai sebagai alat saja ya, alat untuk melengkapi, untuk memperluas. Tentu lebih banyak yang melalui prakarsa dosen yang bersangkutan,” tegas Prof. Ibrahim.

Untuk memastikan kesiapan operasional, UM telah mempersiapkan ekosistem pembelajaran digital selama setahun penuh. Para dosen UM juga telah mendapatkan pelatihan intensif terkait pengelolaan PJJ dari SEAMOLEC (Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Open Learning Centre) sejak Juli tahun 2025 lalu, yang terus berlanjut hingga saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *