Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Kelas Bawah Melalui Program Peti Koin Bermantra di Kabupaten Probolinggo

PROBOLINGGO, BERITAKATA.id – Program Peti Koin Bermantra di Kabupaten Probolinggo, menunjukkan hasil nyata. 

Peti Koin Bermantra sendiri merupakan Pemberdayaan Ekonomi Kolaboratif, Inklusif, Berkelanjutan, Mandiri dan Sejahtera dengan sasaran masyarakat kelas bawah. 

Pelaksanaan program Peti Koin Bermantra di Kabupaten Probolinggo meraih pencapaian signifikan dalam menurunkan angka kemiskinan dari sisi kesenjangan pendapatan. 

Kabupaten Probolinggo menjadi salah satu lokasi pelaksanaan program ini. Pelaksanaannya berdasarkan Peraturan Gubernur Jatim No. 70 Tahun 2022 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Pemberdayaan Ekonomi Kolaboratif, Inklusif, Berkelanjutan, Mandiri dan Sejahtera. 

Terdapat beberapa sub sektor kelompok usaha yang dijalankan Program Peti Koin Bermantra, di antaranya kelompok usaha peternakan lebah di Kecamatan Lumbang, usaha budidaya lele di Kecamatan Maron, usaha kopi, gula semut/aren dan kerajinan anyaman bambu di Kecamatan Krucil. 

Kepala Badan Perencanaan, Penelitian dn Pengembangan Daerah (Bapelitbangda) Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, M. Sjaiful Efendi, berharap agar kelompok pemberdayaan ini terus berkembang karena Peti Koin fokus pada peningkatan ekonomi masyarakat kelas bawah. 

Penerima manfaat peti koin merupakan masyarakat miskin berdasarkan kategori desil 3, desil 2 dan desil 1 yang menjadi kelompok atau komunitas pemberdayaan.  Mereka adalah kelompok ekonomi kelas bawah yang mau berusaha dalam hal pengembangan ekonomi masyarakat. 

Strategi umum penurunan kemiskinan di Kabupaten Probolinggo yakni menurunkan beban pengeluaran, meningkatkan pendapatan, dan menyasar wilayah kantong kemiskinan. 

“Program Peti Koin kuncinya adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat secara inklusif dan merata. Semua elemen masyarakat terutama masyarakat miskin desil 3, 2 dan 1, bisa merasakan dari dampak pertumbuhan ekonomi. Jangan sampai ekonomi kita tumbuh tapi masyarakat yang kelas ke bawah itu tidak merasakan dampaknya,” kata Sjaiful, Senin (13/5/2024).  

Pemberdayaan program Peti Koin Bermantra sangat mengandalkan sumberdaya daya lokal sebagai penggerak roda ekonomi, jadi bagaimana sumberdaya alam dapat dikelola menjadi nilai tambah ekonomi. 

Meminjam konsep dari Bappenas “LERD (Local Economic Resource Development), merupakan langkah yang tepat untuk mengembangkan ekonomi lokal berdasarkan sumber daya alam dalam pengentasan kemiskinan. Misalnya pengrajin gula semut/ gula aren di Desa Kalianan Kecamatan Krucil, menggunakan air nira dari pohon aren yang sangat melimpah untuk dijadikan gula semut/gula aren untuk menghasilkan nilai ekonomi. 

Dampak multiplier dari program pemberdayaan ekonomi masyarakat ini sangat besar, hal ini tidak hanya berdampak pada penurunan kesenjangan pendapatan saja akan tetapi berdampak pada sisi pendidikan. 

"Struktur ekonomi rumah tangga memberikan gambaran kepada kita semua bahwa dampak ekonomi tidak hanya sebatas dampak pendapatan semata, tapi dampaknya dapat dirasakan pada perbaikan pendidikan struktur rumah tangga tersebut," jelas Sjaiful. 

Sebagai contoh, masyarakat yang memperoleh manfaat atau pembinaan dari program Peti Koin budidaya lele selama 6 tahun dan rumah tangga tersebut mempunyai anak yang duduk pada Sekolah Dasar. Secara tidak langsung 6 Tahun kemudian anak tersebut sudah memasuki jenjang Perguruan Tinggi. Ketika program pemberdayaan ekonomi masyarakat ini sukses maka secara tidak langsung Pemerintah Daerah sudah berperan dalam membangun perbaikan daya beli masyarakat dan pendidikan. 

Salah satu kunci keberhasilan program Peti Koin Bermantra adalah berkat sinergi antar stakeholder melalui konsep perencanaan Pentahelix. Sinergi ini berupa dukungan pemerintah daerah berupa APBD Kabupaten Probolinggo dan Provinsi Jatim melalui Perangkat Daerah terkait. Ada juga dukungan CSR dari perusahaan, media sebagai promosi, komunitas dan pihak perguruan tinggi melalui lembaga pemberdayaan yang membantu dalam riset dan pengembangan. Pemberdayaan dari kolaborasi antara pihak seperti CSR dan pemerintah daerah berhasil bersinergi dalam pembangunan. Seluruh unsur ini bergotong royong dalam menyukseskan Peti Koin.

Keterlibatan perusahaan melalui CSR juga tak bisa dinafikan. Contohnya, PLN Nusantara Power yang fokus pada pengembangan gula semut. Nusantara Power mau membangun rumah produksi berskala industri kecil di Desa Kalianan. Ada pula PT KTI yang mengembangkan budidaya madu milik kelompok masyarakat yang ikut dalam program Peti Koin. CSR Bank Jatim juga berencana membantu mengembangkan budidaya Udang Vaname. 

Pencapaian program Peti Koin Bermantra di Kabupaten Probolinggo sangat memuaskan. Hal itu dibuktikan dengan program dan manfaat yang diterima. 

Salah satunya, kelompok Garuda Sakti yang bergerak pada pengolahan gula semut yang dibina oleh CSR dan Organisasi Perangkat Daerah terkait. Saat ini kelompok itu memiliki jumlah anggota sebanyak 31 orang, rata-rata produksi per bulan mencapai 400 kg dengan pemasaran sampai ke Jember, Malang, Pacitan, Purwokerto, sampai ke luar Jawa yaitu ke Jambi.   

Ada pula kelompok pengolahan kopi di Kecamatan krucil. Di sana ada sebanyak 4 kelompok dengan jumlah anggota kurang lebih 80 orang. Selain itu, kelompok pembudidaya lebah madu dengan delapan kelompok. Penerima manfaatnya sebanyak 86 kepala keluarga dengan rata-rata produksi sebanyak 2 ton. 

Budidaya lele di Kecamatan Maron, ada 5 kelompok. Salah satunya milik Ibu Aminah yang dengan tekun melakukan kegiatan budidaya lele hingga mampu menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi. Saat ini anaknya kuliah semester 6 mengambil jurusan perikanan di Universitas Brawijaya Malang saat dikonfirmasi pada acara Program Peti Bermantra Provinsi Jawa Timur (2024). ig/*/fa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *