SITUBONDO, BERITAKATA.id – Desa Selobanteng, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, kini memiliki sistem baru untuk menghadapi ancaman kekeringan panjang. Kolaborasi lintas sektor berhasil mengintegrasikan perlindungan mata air, pipanisasi, hingga Instalasi Pemanenan Air Hujan (IPAH) dengan total potensi tampungan sekitar 672 ribu liter air hujan dalam satu musim.
Kolaborasi tersebut diinisiasi Direktorat Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Perairan Darat, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) melalui program Desa Peduli Sumber Air (DPSA), bekerja sama dengan PT Paiton Energy, PT Paiton Operation & Maintenance Indonesia (POMI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Pemerintah Desa, dan masyarakat setempat.
Keterlibatan Paiton Energy – POMI terintegrasi dalam program pengembangan masyarakat Perlindungan Mata Air dan Keanekaragaman Hayati (PERMATA HATI) yang telah berjalan di Selobanteng sejak 2009. Program ini mendorong pengelolaan lingkungan terpadu mulai dari perlindungan sumber mata air, penguatan tutupan vegetasi, pelestarian keanekaragaman hayati, hingga peningkatan akses air warga.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Tampungan Air Hujan (TAMPAN). Inovasi ini memanfaatkan intermediate bulk container (IBC) tank bekas perusahaan dengan kapasitas 4.000 – 6.000 liter per unit. Satu unit TAMPAN berkapasitas 4.000 liter yang terisi penuh satu kali per minggu selama musim hujan berpotensi menampung 96.000 liter. Gabungan IPAH dan TAMPAN secara keseluruhan berpotensi menampung 672.000 liter atau 672 meter kubik air hujan dalam satu musim.
Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Madya KLH Amin Sutanto mengatakan program ini menjadi model nyata sinergi pengetahuan ilmiah, kebijakan pemerintah, dan dukungan dunia usaha yang menyatu dengan kebutuhan lokal.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Kabupaten Situbondo Ranti Seta Ayu Pratiwi mengatakan tampungan air hujan telah terpasang di 13 titik.
“Berkat bantuan dari Paiton Energy – POMI dan juga bantuan Kementerian Lingkungan Hidup, warga Desa Selobanteng sudah merasakan perubahan, yakni kemudahan untuk mendapatkan air,” ujarnya, Selasa (20/10/2026).
Head of External Relations PT Paiton Energy Bambang Jiwantoro mengatakan keterlibatan perusahaan merupakan bagian dari komitmen keberlanjutan.
Sementara Guru Besar bidang Sumber Daya Air UGM Prof. Agus Maryono menilai kunci keberhasilan mitigasi kekeringan adalah adaptasi teknologi. Metode pemanenan air hujan dan sumur resapan di Selobanteng telah disesuaikan dengan karakteristik tanah dan kebutuhan domestik warga.
Kepala Desa Selobanteng Muttaha mengaku optimistis desanya kini memiliki opsi cadangan air saat kemarau panjang.
“Desa Selobanteng selama ini kerap berhadapan dengan isu kekeringan dan kesulitan air bersih. Bagi warga kami, pemanenan air hujan ini adalah hal baru yang membuka mata. Sekarang warga memiliki banyak opsi saat kemarau panjang, dan kami berharap ke depan tidak ada lagi keluhan soal kelangkaan air,” katanya.
Head of Human Capital, Facility, and Community PT POMI Rochman Hidayat menambahkan perusahaan berharap masyarakat menjadi aktor utama dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air di wilayahnya. ig/fa












