BMKG Sebut Efek El Nino Kuat, Musim Hujan di Malang Raya Mundur ke Desember 2026

Cuaca cerah berawan.

MALANG, BERITAKATA.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di wilayah Jawa Timur mengalami keterlambatan. Sebagian besar daerah, termasuk kawasan Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu), baru akan memasuki musim hujan pada Desember 2026.

Keterlambatan ini dipicu oleh fenomena El Nino yang menguat sejak pertengahan 2026 dan kini berada pada intensitas sangat kuat. Kondisi tersebut diperparah oleh munculnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Akibat perpaduan dua fenomena iklim ini, curah hujan di Indonesia menurun drastis sehingga periode musim kemarau berlangsung lebih panjang dari biasanya.

Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur BMKG, Anung Suprayitno mengonfirmasi adanya pergeseran jadwal turunnya hujan di wilayahnya. Ia menyebutkan bahwa hanya segelintir wilayah yang akan mendapati hujan di bulan November.

“Awal musim hujan untuk wilayah Jawa Timur diprediksi bakal mundur di bulan Desember. Namun saat November, sebagian kecil wilayah sudah merasakan mengalami hujan,” kata Anung pada Selasa (29/9/2026),

Berdasarkan data BMKG, daerah yang diprediksi mulai diguyur hujan pada bulan November hanya mencakup sebagian Bangkalan, Banyuwangi, Bojonegoro, Kediri, Madiun, Magetan, Nganjuk, Ngawi, dan Ponorogo. Sementara itu, mayoritas wilayah Jawa Timur lainnya masih tertahan dalam fase kemarau.

Transisi musim secara masif baru akan terjadi pada bulan Desember. BMKG memproyeksikan 68 dari 74 Zona Musim (ZOM) di Jawa Timur akan memasuki musim hujan pada periode tersebut.

“Pada Desember nanti, sebanyak 68 dari 74 zona musim di Jawa Timur. Atau kita lihat dari luasan daratan Jawa Timur 90,6 persen, atau hampir 91 persen wilayah Jawa Timur memasuki musim hujan baru di Desember,” jelasnya.

Lebih rinci, awal mula turunnya hujan pada bulan Desember akan tersebar secara bertahap pada Dasarian I, II, dan III. Selain Malang Raya, daerah lain yang baru memasuki musim hujan di bulan ini meliputi Blitar, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Lamongan, Lumajang, Mojokerto, Pasuruan, Probolinggo, Surabaya, Sumenep, Trenggalek, Tuban, serta Tulungagung.

Di sisi lain, kawasan Tapal Kuda mengalami kemunduran musim hujan yang paling panjang. Sejumlah wilayah di Situbondo meliputi Suboh, Banyuputih, Kapongan, Cendit, Mangaran, Panarukan, Panji, hingga Kota Situbondo diprediksi baru akan merasakan awal musim hujan pada Januari 2027.

Menghadapi pergeseran jadwal musim ini, BMKG meminta masyarakat untuk terus waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang kerap menyertai masa peralihan musim (pancaroba).

“Kami mengimbau kepada masyarakat untuk tetap memantau perkembangan informasi cuaca dan musim hujan. Ini sangatlah penting untuk mengantisipasi berbagai dampak yang dapat terjadi seiring masuknya musim hujan,” pungkas Anung. (NP/ FAS)

Reporter: Nugraha Perdana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *