Wisata  

Rahman Rawat Candi Jabung Sejak 1994, Jaga Bata Asli Majapahit 1354 Tanpa Sabun

Rahman merawat Candi Jabung yang berusia 700 tahun.

PROBOLINGGO, BERITAKATA.id – Candi Jabung, cagar budaya peninggalan Kerajaan Majapahit berusia hampir 700 tahun di Desa Jabung, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, masih berdiri kokoh berkat perawatan manual tanpa bahan kimia.

Juru pelihara candi, Abd. Rahman (53), merawat kompleks seluas 2 hektare tersebut sejak 1994. Kini ia berstatus PNS Kementerian Kebudayaan.

“Gaji saya sebagai PNS petugas pemelihara Candi Jabung sudah cukup untuk menghidupi enam anggota keluarga. Saya bertugas sejak 1994,” ujar Rahman, Senin (21/9/2026).

Setiap hari, Rahman bertugas dari pagi hingga sore menyapu dedaunan, memotong rumput, dan menyiram tanaman. Pada musim kemarau, area candi kerap digunakan untuk perkemahan pelajar hingga membuat rumput mengering. Ia rutin menyiram setiap sore untuk memulihkan kehijauan.

Pantang Sabun dan Sapu Lidi
Candi Jabung dibangun tahun 1354 Masehi atau 1276 Saka berdasarkan inskripsi di pintu masuk. Candi bercorak Buddha Mahayana ini didirikan sebagai pendarmaan Bhre Gundal, kerabat kerajaan Majapahit.

Pemeliharaan bata merah asli abad ke-14 memiliki aturan ketat. Rahman dilarang menggunakan cat, sabun, deterjen, dan bahan kimia pelapis.

“Untuk lumut pakai sikat ijuk dan air bersih saja. Sapu lidi tidak boleh, bisa mengikis bata. Kalau kerak putih karena garam, pakai kertas koran,” kata Rahman.

Ia menyebut bata asli Majapahit justru lebih kokoh dibanding bata hasil pemugaran tahun 1983 yang kini lebih cepat aus dan keropos.

Secara arsitektur, Candi Jabung tergolong langka. Tubuh candi berbentuk silinder segi delapan, berbeda dari candi Jawa Timur yang umumnya persegi. Tinggi candi induk mencapai 15,58 – 16,20 meter dengan atap berbentuk stupa yang puncaknya sudah runtuh.

Dikunjungi Turis Australia
Rahman menyebut Candi Jabung kini kondusif dan ramai dikunjungi wisatawan lokal hingga mancanegara, termasuk dari Australia. Selain wisata, candi juga menjadi pusat edukasi dan kegiatan masyarakat.

Cerita lisan menyebut candi ini pernah ditimbun pasir oleh warga untuk menyelamatkannya dari ancaman bom tentara Jepang pada masa penjajahan.

“Dukungan fasilitas dari Pemerintah Kabupaten Probolinggo berupa toilet dan listrik telah dibangun sejak 2019. Bupati Probolinggo Gus Haris tercatat rutin berkunjung, termasuk bersepeda bersama komunitas,” pungkas Rahman. ig/fa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *