Hadapi Tantangan Industri Manufaktur, Upaya Kabupaten Probolinggo Tingkatkan Daya Saing IKM Lokal

Taufik Alami saat jemput bola memfasilitasi IKM lokal untuk memperoleh NIB.

PROBOLINGGO, BERITAKATA.id – Kabupaten Probolinggo, meski bukan kawasan industri utama, memiliki beberapa sektor manufaktur yang terus berkembang, khususnya di bidang tekstil dan industri rumah tangga seperti batik dan konveksi.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUPP) Kabupaten Probolinggo, Taufik Alami menjelaskan bahwa industri kecil menengah (IKM) di daerah ini tengah menghadapi berbagai tantangan dalam meningkatkan daya saing produk lokal.

Menurut Taufik, kelemahan daya saing industri lokal terutama disebabkan oleh keterbatasan permodalan serta masuknya produk luar negeri yang menawarkan kualitas dan variasi yang lebih menarik.

Sebagai IKM dan UKM, produsen lokal beroperasi dengan modal yang relatif kecil dibandingkan industri besar. Selain itu, produk impor yang murah dan berkualitas tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi pengembangan industri lokal, terutama untuk produk tekstil dan busana.

Namun, DKUPP Kabupaten Probolinggo berupaya mengatasi kendala ini dengan mengembangkan produk berbasis potensi lokal yang memiliki ciri khas budaya, seperti batik dengan motif dan cerita lokal yang memiliki makna mendalam, serta produk-produk kreatif berbasis budaya lokal.

“Untuk memaksimalkan potensi ini, DKUPP memfasilitasi pelatihan dan pembinaan bagi pelaku industri, mengembangkan sentra-sentra industri, serta mengadakan pameran produk unggulan guna meningkatkan kualitas dan jangkauan pasar IKM,” ujar Taufik, Kamis (31/10/2024).

Tren produksi di Kabupaten Probolinggo dalam dua hingga lima tahun terakhir difokuskan pada produk berbasis hasil pertanian dan perkebunan, seperti gula aren, kopi, dan madu.

Produk-produk ini menunjukkan potensi besar sebagai komoditas unggulan daerah yang bisa bersaing di pasar nasional. Di sektor busana, Probolinggo kini semakin dikenal dengan produk fashion khas yang dipamerkan dalam berbagai acara fashion, meningkatkan profil ekonomi kreatif lokal.

Kepala DKUPP menambahkan bahwa persaingan dengan komoditas impor, terutama dari sektor busana yang murah dan berkualitas, masih menjadi kendala signifikan.

Namun, pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan daya saing dengan memperkuat produk lokal melalui pelatihan dan peningkatan mutu.

Alhasil, industri kreatif lokal Kabupaten Probolinggo terus bertumbuh, dan saat ini terdapat sekitar 12.000 IKM yang tercatat secara resmi melalui Nomor Induk Berusaha (NIB) hingga tahun 2024.

Adapun data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat tren ekspor dan impor Jawa Timur per Juni 2024. Ekspor tercatat senilai USD 1,89 miliar, turun 10,79 persen dari bulan sebelumnya, sementara impor mencapai USD 2,22 miliar, turun 14,77 persen.

Namun, secara tahunan, ekspor mengalami peningkatan sebesar 24,61 persen. Bagi Kabupaten Probolinggo, angka ini menandakan pentingnya terus mendorong daya saing IKM agar produk lokal tetap berkembang di tengah ketatnya persaingan dengan produk impor. ig/fat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *