Inflasi Kota Malang Oktober 2026 Terkendali Berkat Sinergi TPID dan Pasokan Pangan yang Terjaga

Foto ilustrasi sayur mayur.

MALANG, BERITAKATA.id – Kondisi perekonomian Kota Malang pada bulan Oktober 2026 kembali menunjukkan tren yang stabil dan terkendali. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Malang mencatat inflasi bulanan atau month-to-month (mtm) sebesar 0,06 persen, angka yang melandai secara signifikan jika dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 0,27 persen.

Sementara itu, secara tahunan atau year-on-year (yoy), tingkat inflasi Kota Malang tercatat pada angka 2,93 persen. Capaian tersebut masih berada dalam koridor rentang sasaran inflasi nasional yang ditetapkan sebesar 2,5 plus minus 1 persen. Menariknya, angka inflasi tahunan Kota Malang ini juga tercatat lebih rendah dibandingkan dengan tingkat inflasi Provinsi Jawa Timur yang berada di angka 3,09 persen secara tahunan, serta inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,23 persen yoy.

Menanggapi dinamika ekonomi tersebut, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang, Indra Kuspriyadi, mengatakan bahwa stabilitas harga di wilayahnya masih berada dalam batas yang aman meskipun di tengah berbagai tantangan fluktuasi pasokan pangan.

“Perkembangan ini mencerminkan bahwa tekanan harga di Kota Malang tetap terjaga dengan baik di tengah dinamika pasokan pangan serta pergerakan harga sejumlah komoditas strategis,” ujar Indra Kuspriyadi pada Jumat (6/11/2026).

Ia menambahkan, bahwa pencapaian inflasi yang tetap berada di dalam kisaran sasaran nasional ini merupakan buah dari koordinasi dan kerja sama yang konsisten dari seluruh unsur pemangku kepentingan di daerah.

Secara rinci, tekanan inflasi pada periode Oktober 2026 terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 0,07 persen secara bulanan. Komoditas utama yang menjadi penyumbang terbesar adalah cabai merah dengan andil sebesar 0,06 persen, disusul beras sebesar 0,03 persen, serta tomat dan cabai rawit yang masing-masing memberikan andil sebesar 0,02 persen, serta labu siam sebesar 0,01 persen.

Terkait dengan kenaikan harga cabai merah, Indra menjelaskan bahwa hal tersebut dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan pascapanen raya serta distribusi dari daerah surplus ke daerah defisit yang belum merata sepenuhnya. Ia juga menyampaikan terkait faktor penyebab inflasi pangan tersebut.

“Untuk beras, kenaikan harga dipengaruhi oleh keterbatasan pasokan Gabah Kering Panen menjelang berakhirnya musim kemarau, sementara komoditas hortikultura seperti tomat dan labu siam terimbas oleh minimnya ketersediaan air di sentra produksi yang menurunkan hasil panen,” ungkap Indra.

Meski demikian, tekanan inflasi secara keseluruhan berhasil tertahan oleh penurunan harga pada sejumlah komoditas penting lainnya yang mengalami deflasi. Komoditas emas perhiasan dan daging ayam ras masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen secara bulanan. Di samping itu, semangka menyumbang andil deflasi sebesar 0,02 persen, sedangkan telur ayam ras dan alpukat masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen.

Penurunan harga emas perhiasan tersebut berjalan seirama dengan melemahnya pergerakan harga emas di pasar global. Sementara itu, penurunan harga daging dan telur ayam ras didorong oleh melimpahnya pasokan di tingkat peternak, di tengah normalisasi permintaan masyarakat yang membuat pasokan belum terserap secara optimal. Adapun penurunan harga buah semangka dan alpukat dipengaruhi oleh melimpahnya ketersediaan di pasar seiring dengan berlangsungnya musim panen.

Kestabilan inflasi Kota Malang ini juga ditopang oleh konsistensi kinerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang mengimplementasikan strategi 4K secara optimal, meliputi Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif. Sepanjang Oktober 2026, fokus kebijakan diarahkan pada penguatan stabilitas harga pangan strategis melalui pemantauan pasar secara berkala serta pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang mencakup komoditas beras, gula, tepung, dan minyak goreng, di samping pemantauan langsung terhadap pasokan energi.

Menyoroti langkah strategis tersebut, Indra Kuspriyadi menegaskan komitmen penuh lembaganya dalam mendukung pemerintah daerah.

“Kami bersama seluruh anggota TPID akan terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi, salah satunya melalui implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera atau GPIPS serta optimalisasi strategi 4K demi menjaga ekspektasi positif masyarakat,” tutur Indra.

Memasuki periode mendatang, sinergi yang solid antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan seluruh anggota TPID akan terus ditingkatkan guna mengantisipasi potensi risiko kenaikan harga. Kebijakan pengendalian ke depan diprioritaskan pada penguatan ketersediaan pasokan pangan, kelancaran rantai distribusi, keterjangkauan harga komoditas strategis, serta peningkatan efektivitas koordinasi dan komunikasi publik.

Melalui langkah-langkah terpadu tersebut, Indra optimistis stabilitas ekonomi daerah dapat terus dipertahankan.

“Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat memastikan inflasi Kota Malang senantiasa berada dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5 plus minus 1 persen, sekaligus memberikan dampak positif bagi perlindungan daya beli masyarakat, stabilitas perekonomian daerah, dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan,” pungkasnya. (NP/ FAS)

Reporter: Nugraha Perdana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *