Ribuan Pelajar di Malang Raya Skrining Jantung Rematik, Beberapa Terindikasi

Kegiatan skrining penyakit jantung rematik sebagai bagian deteksi dini kesehatan anak dilakukan di Kota Malang, Jawa Timur yang dilaksanakan oleh Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Cabang Malang Raya.

MALANG, BERITAKATA.id – Kegiatan skrining penyakit jantung rematik sebagai bagian deteksi dini kesehatan anak dilakukan di Kota Malang, Jawa Timur yang dilaksanakan oleh Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Cabang Malang Raya. Kegiatan yang menyasar seribu pelajar sekolah dasar ini dipusatkan di SD Model Kota Malang, Kecamatan Kedungkandang, pada Jumat (30/10/2026).

Pelaksanaan kegiatan ini dihadiri langsung oleh Wali Kota Malang Wahyu Hidayat. Wahyu mengapresiasi langkah preventif yang dilakukan oleh YJI Cabang Malang Raya. Menurutnya, deteksi dini sangat penting agar gejala awal pada anak-anak dapat segera diketahui dan ditindaklanjuti untuk meminimalisir risiko penyakit jantung di masa depan.

“Dan ini saya mengapresiasi atas Pemerintah Kota Malang, karena tentu dengan deteksi dini ini, dengan skrining ini, kita akan bisa melihat awal bahwa ada gejala-gejala yang terkena kepada anak-anak SD ini, agar ada tindak lanjutnya. Karena mereka juga bisa mengantisipasi kejadian-kejadian dengan adanya skrining ini, agar penyakit-penyakit jantung yang nanti akan terjadi, itu bisa kita minimalisir,” jelas Wahyu pada Jumat (30/10/2026).

Pihaknya juga telah berdiskusi intensif dengan pihak YJI untuk memastikan bahwa anak-anak yang menunjukkan kecurigaan medis langsung mendapatkan penanganan lanjutan yang detail agar tidak sampai terjangkit penyakit yang lebih berat.

“Ini jadi satu langkah yang baik secara dini, secara awal kita bisa antisipasi apabila terjadi anak-anak ini ada kecurigaan yang terjadi. Seperti yang di sini ini akan tidak lanjut dari skrining, jadi ada yang kecurigaan dari siswa-siswa SD tersebut yang sudah dilakukan skrining, akhirnya kita lanjuti agar nanti bisa diketahui secara detail kira-kira apa yang akan dilakukan,” katanya.

Program pemeriksaan kesehatan ini merupakan bagian dari arahan nasional oleh Yayasan Jantung Indonesia Pusat yang ada di Jakarta dengan menargetkan empat provinsi di Indonesia, meliputi Provinsi Jawa Timur di wilayah Malang Raya, Provinsi Lampung, Provinsi Jawa Barat di Bekasi, serta Provinsi Maluku Utara. Setiap daerah ditargetkan mampu menjangkau dua ribu anak yang difokuskan pada siswa kelas lima dan enam sekolah dasar serta kelas tujuh dan delapan sekolah menengah pertama.

“Jadi Yayasan Jantung Indonesia pusat Jakarta menunjuk 4 provinsi. Provinsi Jawa Timur, Jawa Timur ini Malang Raya. Kemudian provinsi Lampung. Kemudian provinsi Jawa Barat, ini Bekasi. Provinsi Maluku, ini di Maluku Utara. 4 provinsi ini diminta oleh Yayasan Pusat melaksanakan screening jantung rematik untuk anak-anak SD kelas 5 dan 6, serta SMP kelas 7 dan 8. Targetnya adalah setiap daerah itu 2 ribu,” ungkap Ketua YJI Cabang Malang Raya, Hanik Dwi Martya.

Sebelum pelaksanaan di Kota Malang, YJI Cabang Malang Raya telah melakukan skrining tahap pertama pada bulan Mei lalu di Kota Batu dan kawasan Tumpang di Kabupaten Malang. Berdasarkan data dari kegiatan sebelumnya, dari 364 anak yang diperiksa di Kota Batu, terdapat 3 anak yang terindikasi. Sementara itu, dari 400 anak di Tumpang, tercatat 21 anak yang menunjukkan indikasi dan langsung dilakukan pemeriksaan lanjutan menggunakan alat yang lebih canggih.

“Kami pada bulan Mei yang lalu sudah melaksanakan skrining tahap pertama di Kota Batu dan Kabupaten Malang di Tumpang. Dari jumlah 600 anak ini kurang. Maka pada sekarang ini akan melaksanakan di Kota Malang ini anak seribu. Seribu anak, SD kelas 5 dan 6, SMP kelas 7 dan 8. Besok pagi kami akan melaksanakan di Kabupaten Malang di Sumbermanjing Wetan dengan target 788 anak. Nah, dari anak-anak ini akan di skrining tentang jantung rematik. Nah, tentang jantung rematik, kalau ditemukan ini anak-anak akan segera ditangani mumpung masih dini,” kata Hanik.

Hanik menjelaskan bahwa pemilihan SD Model di kawasan Kedungkandang didasarkan pada pertimbangan wilayah yang padat penduduk serta fasilitas sekolah yang memadai untuk menampung ribuan siswa dari sekitar kawasan tersebut. Setelah kegiatan di Kota Malang ini, YJI Cabang Malang Raya akan melanjutkan agenda serupa keesokan harinya di Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, dengan target sasaran sebanyak 788 anak guna memaksimalkan pencegahan sejak dini.

“Jadi kami itu Kota Malang, kemudian di Kedung Kandang. Kenapa Kedungkandang? Karena Kedungkandang itu kan daerah padat penduduk. Nah daerah penduduk, sehingga kami mengambil tindakan untuk tempat SD model. Karena tempatnya luas, dan ini hanya ke SD modelnya, tapi SD yang lain, sebanyak seribu anak ini, dan SMP, ini dari sekitaran Kedungkandang,” kata Hanik.

Terkait prosedur penanganan lanjutan bagi anak-anak yang terindikasi, Hanik Dwi Martya menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan alur rujukan yang terpadu mulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga rumah sakit rujukan utama. Tindak lanjut dari Yayasan nanti akan merujuk pertama ke Puskesmas, karena menggunakan BPJS, lalu Puskesmas dirujuk ke rumah sakit, dan Rumah Sakit Saiful Anwar akan menangani jantung rematik agar bisa diobati secara dini dalam tahap awal.

“Tindak lanjutnya dari Yayasan nanti akan merujuk pertama ke Puskesmas. Puskesmas untuk, karena BPJS, Puskesmas dirujuk ke rumah sakit, rumah sakit Saiful Anwar. Rumah sakit Saiful Anwar akan menangani jantung rematik. Nah, kalau mungkin perlu dioperasi dan sebagainya, mumpung masih dini mungkin, akan diobati secara dini,” jelas Hanik.

Selain penanganan jantung rematik, YJI juga telah memberikan bantuan penuh bagi anak-anak penderita kelainan jantung bawaan yang membutuhkan operasi lanjutan di luar daerah. Bantuan biaya yang diberikan meliputi pembiayaan operasional selama di Jakarta, bantuan akomodasi dan makan bagi orang tua yang mendampingi, hingga penanggung biaya transportasi pulang-pergi Malang-Jakarta. Tercatat sejak tahun 2004 hingga saat ini, YJI telah membantu 116 anak penderita jantung bawaan untuk menjalani operasi di rumah sakit rujukan nasional seperti Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita di Jakarta.

Sementara itu, Dokter Spesialis Jantung RSUD Saiful Anwar Malang, dr. Wella Karolina, Sp.JP, memaparkan bahwa penyakit jantung rematik merupakan jenis penyakit jantung katup yang dapat dipicu oleh infeksi tenggorokan berulang akibat kuman atau bakteri tertentu. Infeksi yang tidak ditangani dengan baik dan terjadi secara berulang akan menyerang katup jantung, menyebabkan kekakuan atau kebocoran, sehingga pada tahap lanjut membutuhkan tindakan operasi penggantian katup.

“Skrining ini sebenarnya adalah skrining untuk penyakit jantung rematik, itu adalah penyakit jantung katup. Jadi pada negara seperti di negara kita ini, itu infeksi tenggorokan yang berulang, yang disebabkan oleh kuman tertentu, itu bisa menyebabkan pada saat infeksinya berulang itu menyerang katup jantung. Biasanya, pasien akan datang ke kita, saya dinas di Saiful Anwar ya, jadi kalau sudah kita lakukan ekokardiografi, usg jantung, itu ketemunya katupnya sudah rusak, sudah tidak bisa buka atau bocor berat atau apa, sehingga dibutuhkan operasi ganti katup dan sebagainya,” kata dr. Wella.

Lebih lanjut, dr. Wella menjelaskan bahwa kegiatan skrining ini bertujuan melihat kondisi katup jantung anak-anak secara langsung melalui pemeriksaan ekokardiografi atau USG jantung. Jika pada tahap awal ditemukan kekakuan atau kebocoran katup, anak tersebut dapat segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi untuk dipastikan kondisinya dan diberikan pencegahan berupa pemberian antibiotik.

“Jadi kalau pada saat dini seperti ini, kita ketahui dari dini, itu bisa kita cegah, tujuannya kayak gitu. Cegahnya dengan apa? Nanti pemberian antibiotik. Jadi yang kita lihat di skrining itu adalah melihat katup jantung. Melihat katup jantungnya ini, ada kekakuan apa enggak? Ada bocor apa enggak? Kalau ada kekakuan dan bocor, nah ini kecurigaannya ada ke arah penyakit jantung katup atau penyakit jantung rematik ini tadi, yang akan kita follow up, sehingga dari dokter yang di sekitar sini, dari Kota Malang ini, bisa dirujuk ke faskes kesehatan yang lebih tinggi, kemudian bisa kita follow up dan kita pastikan, kemudian bisa kita berikan antibiotik,” ungkap dr. Wella.

Ia juga meluruskan bahwa penyakit ini tidak memiliki kaitan langsung dengan paparan asap rokok, melainkan lebih dipengaruhi oleh infeksi bakteri tenggorokan yang kerap mendera anak-anak di lingkungan pemukiman padat penduduk dengan faktor kebersihan dan gizi tertentu yang mempermudah penularan.

“Enggak, jadi sebenarnya bukan, enggak ada hubungannya sama merokok, tapi sebenarnya jadi bakteri yang menyerang tenggorokan dan berulang, tapi akan biasanya lebih terkena pada anak-anak yang misalnya gizinya orang, yang mungkin pada orang dengan pemukiman yang padat, yang padat penduduk yang lebih gampang untuk menularkan, jadi memang faktornya banyak. Tapi kalau hubungannya sama yang tadi ditanyakan, enggak ada. Jadi benar-benar memang karena infeksi,” pungkasnya. (NP/ FAS)

Reporter: Nugraha Perdana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *