PROBOLINGGO, BERITAKATA.id — Wakil Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo, KH Didik Humaidi, menyerap berbagai aspirasi krusial masyarakat dalam agenda reses yang digelar di sejumlah desa, mulai dari persoalan infrastruktur desa, kesejahteraan nelayan, irigasi pertanian, hingga pemberdayaan UMKM.
Politisi senior Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang akrab disapa Gus Didik ini mengutarakan bahwa dalam kegiatan reses di Desa Kalikajar, Sumberanyar, Bucor Wetan, dan beberapa wilayah lainnya, warga menyampaikan harapan besar terkait keberlanjutan bantuan dana afirmasi pemerintah.

“Banyak dari mereka yang belum menerima bantuan dana afirmasi berharap ada tindak lanjut pada tahun 2027, namun mereka juga berharap tetap bisa mendapatkan alokasi anggaran pada 2026 ini,” ujar Gus Didik, Selasa (21/7/2026).
Gus Didik menjelaskan, peningkatan pembangunan infrastruktur menjadi sorotan utama warga di berbagai lokasi seperti Desa Bucor Wetan, Sumberejo, Plampang, dan Pondok Kelor. Keterbatasan Alokasi Dana Desa (ADD) dan Dana Desa (DD) memicu warga untuk meminta intervensi serta perhatian lebih dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo.
“Intinya warga meminta support dari Pemkab Probolinggo untuk ikut mendukung percepatan dan penyelesaian pembangunan infrastruktur di desa, mengingat keterbatasan anggaran desa saat ini,” ungkapnya.

Selain infrastruktur, nasib masyarakat pesisir di kawasan Sumberanyar dan Randutatah juga menjadi perhatian mendesak. Masyarakat nelayan setempat sangat membutuhkan bantuan sarana dan prasarana penunjang, seperti alat tangkap ikan dan mesin kapal berkapasitas kecil.
Sementara di sektor pertanian, warga di kawasan Kotaanyar—khususnya Desa Sambirampak Kidul dan Sambirampak Lor—mengeluhkan keterbatasan akses air untuk irigasi persawahan. Saat ini, lahan pertanian warga hanya bisa dimanfaatkan dua kali dalam setahun karena sangat bergantung pada curah hujan.
“Saat musim hujan mereka menanam padi, lalu dilanjutkan dengan tanaman tembakau. Setelah itu, satu musim sisanya lahan mati dan tidak bisa dimanfaatkan sama sekali karena tidak ada air,” jelas Gus Didik.

Gus Didik menegaskan, pembangunan sumur bor pertanian menjadi solusi vital agar petani bisa mengolah lahan hingga tiga kali masa tanam dalam setahun (padi, jagung, dan tembakau). Menurutnya, peningkatan frekuensi panen ini akan berdampak langsung pada kenaikan taraf ekonomi petani setempat.
Tidak hanya sektor kelautan dan pertanian, aspirasi juga datang dari pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya kaum ibu. Mereka membutuhkan dukungan konkret dari Pemkab Probolinggo berupa program pelatihan berkelanjutan serta bantuan peralatan produksi untuk mendongkrak perekonomian keluarga. ig/fa












