MALANG, BERITAKATA.id – Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Cabang Malang menggelar kegiatan Malang Cardiovascular Update (MCVU) 2026, Sabtu (3/10/2026) di Kota Malang, Jawa Timur. Simposium dan lokakarya berskala internasional ini menjadi langkah strategis untuk menekan angka kematian akibat penyakit jantung yang trennya kian bergeser ke usia produktif.
Ketua PERKI Cabang Malang, Prof. dr. M. Saifur Rohman, Sp.JP, Subsp. K.I.(K), PhD, memaparkan bahwa ancaman penyakit jantung saat ini mengintai masyarakat pada usia yang lebih muda akibat gaya hidup yang buruk.
“Dulu rata-rata serangan pertama terjadi di usia 55 tahun. Sekarang, di usia 45 hingga 48 tahun sudah kena serangan jantung pertama. Penyebabnya adalah gaya hidup, banyak konsumsi makanan cepat saji tinggi kolesterol, serta kebiasaan merokok,” tegas Prof. Saifur pada Sabtu (3/10/2026).
Ia menambahkan, saat ini satu dari tiga orang Indonesia menderita hipertensi. Kondisi ini sering kali diikuti oleh obesitas, diabetes, dan kolesterol tinggi yang berujung pada kerusakan fungsi jantung dalam jangka waktu 10 tahun ke depan.
Menghadapi tingginya risiko tersebut, MCVU 2026 mengumpulkan sekitar 700 peserta yang terdiri dari dokter spesialis jantung, dokter umum, dan perawat dari wilayah Ponorogo hingga Lumajang. Kegiatan ini mengusung tema Precision, Practice, and Collaboration.
Selain meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan, PERKI Cabang Malang juga telah merilis sejumlah program inovatif untuk mempercepat penanganan pasien di tahap pra rumah sakit atau hulu. Beberapa di antaranya adalah penyediaan unit ambulans khusus kardiovaskular dan peluncuran aplikasi DETAK-C berbasis Android guna mempercepat sistem rujukan pasien serangan jantung.
PERKI Malang juga aktif turun ke desa-desa binaan. Mereka melatih kader kesehatan untuk mengukur tekanan darah warga dan membekali kader dengan perangkat iPad guna memudahkan pelaporan data kesehatan warga ke pemerintah daerah.
“Data hasil pelaporan tersebut kami olah dan jadikan bahan diskusi bersama bupati dan wali kota untuk menyusun program kesehatan yang strategis. Kami juga mendorong agar pemerintah daerah turut campur tangan meregulasi fasilitas publik, misalnya dengan memperbanyak jogging track untuk masyarakat,” papar Prof. Saifur.
Ketua Panitia MCVU 2026, dr. Valerinna Yogibuana Swastika Putri, Sp.JP(K), merinci bahwa acara yang berlangsung selama tiga hari ini mencakup 17 simposium, 9 sesi workshop, serta perlombaan studi kasus kardiovaskular.
“Tujuannya adalah untuk memperbarui ilmu pengetahuan dan keahlian tenaga medis. Dengan begitu, setiap lini layanan, mulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga rumah sakit rujukan, dapat bekerja dengan standar klinis yang sama,” ujar dr. Valerinna.
Langkah konkret dari PERKI Cabang Malang ini mendapat apresiasi penuh dari Pengurus Pusat (PP). Ketua Umum PP PERKI, Dr. dr. Ade Meidian Ambari, Sp.JP(K), Ph.D, menjelaskan bahwa penanganan penyakit kardiovaskular tidak bisa lagi hanya difokuskan pada tahap akhir, seperti operasi bypass atau pemasangan ring.
“Penyakit kardiovaskular masih menjadi pembunuh nomor satu di Indonesia. Biaya yang dikeluarkan oleh negara melalui BPJS Kesehatan untuk menangani penyakit jantung ini mencapai Rp 17 triliun. Jumlah yang sangat besar,” ungkap dr. Ade.
Untuk memastikan efisiensi anggaran kesehatan negara, PP PERKI saat ini aktif berdialog dengan Kementerian Kesehatan dalam menyusun Panduan Nasional Praktik Kedokteran (PNPK) sebagai standar baku mutu layanan medis di seluruh Indonesia.
“Kami butuh dukungan nyata dari tingkat cabang seperti yang dilakukan PERKI Malang. Mulai dari meluncurkan ambulans jemput bola untuk memangkas keterlambatan penanganan pasien, hingga mengedukasi masyarakat. Mengubah perilaku masyarakat harus dimulai dari mengubah pola kesadarannya terlebih dahulu,” tutup dr. Ade. (NP/ FAS)
Reporter: Nugraha Perdana












