MALANG, BERITAKATA.id – Laju inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Malang pada bulan Juni 2026 dipastikan aman dan tetap berada pada rentang sasaran 2,5±1 persen. Hal ini menunjukkan harga kebutuhan masyarakat di Kota Malang stabil meski terdapat tekanan inflasi pada skala regional dan nasional.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Malang, Indra Kuspriyadi, memaparkan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Kota Malang pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,34 persen secara bulanan (mtm).
“Secara tahunan (yoy), inflasi Kota Malang tercatat sebesar 3,16 persen. Angka ini lebih rendah dan lebih terkendali jika dibandingkan dengan inflasi Provinsi Jawa Timur yang berada di angka 3,36 persen maupun inflasi nasional sebesar 3,34 persen,” tegas Indra pada Sabtu (4/7/2026).
Menjabarkan faktor pembentuk inflasi secara bulanan, Indra menyebutkan bahwa kelompok transportasi menjadi penyumbang utama dengan andil sebesar 0,31 persen. Komoditas penyumbang inflasi terbesar adalah bensin, bawang merah, angkutan udara, bawang putih, dan telepon seluler.
“Kenaikan harga bensin memberikan andil inflasi tertinggi sebesar 0,22 persen. Hal ini merupakan dampak langsung dari penyesuaian harga BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax dan Pertamax Turbo, yang diberlakukan sejak 10 Juni 2026,” jelas Indra.
Selain BBM, Indra juga merinci penyebab naiknya komoditas lain di pasar. Bawang merah menyumbang inflasi 0,06 persen akibat keterbatasan pasokan sebelum masuk masa panen raya pada Juli hingga Agustus. Sementara itu, bawang putih menyumbang 0,02 persen karena meningkatnya biaya impor imbas pelemahan nilai tukar Rupiah.
“Untuk angkutan udara yang menyumbang 0,03 persen, harganya naik karena tingginya permintaan masyarakat selama periode libur sekolah. Sedangkan kenaikan harga telepon seluler dengan andil 0,01 persen lebih disebabkan oleh faktor global, seperti tingginya biaya logistik dan gangguan rantai pasok cip mikro (microchip),” paparnya.
Meski terdapat tekanan dari sektor transportasi dan beberapa kebutuhan pokok, laju inflasi Kota Malang berhasil ditahan oleh penurunan harga pada komoditas lain.
Indra mengungkapkan bahwa deflasi terjadi pada komoditas daging ayam ras (andil -0,07 persen), cabai rawit (-0,04 persen), udang basah (-0,03 persen), dan emas perhiasan (-0,02 persen).
“Terjadinya normalisasi harga daging ayam ras, cabai rawit, dan udang basah di tingkat konsumen dipengaruhi oleh pasokan yang meningkat dan kapasitas produksi yang sangat memadai. Sementara itu, turunnya harga emas perhiasan sejalan dengan koreksi harga emas di pasar global,” terang Indra.
Stabilitas inflasi di Kota Malang tidak lepas dari intervensi dan sinergi kuat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Indra menekankan bahwa pihaknya konsisten menerapkan strategi pengendalian inflasi berbasis Kerangka 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.
Berbagai langkah antisipatif dan taktis telah dilakukan sepanjang Juni 2026.
“Kami melakukan pemantauan harga bahan pangan pokok secara intensif. Khusus untuk meredam dampak kenaikan harga BBM, TPID Kota Malang telah menggelar Rapat Koordinasi Teknis bersama Fuel Terminal Manager Pertamina pada 17 Juni lalu,” ungkap Indra.
Lebih lanjut, Indra mengatakan bahwa Bank Indonesia juga memperkuat koordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk menjamin kelancaran distribusi pangan, serta aktif dalam rapat koordinasi nasional rutin bersama Kementerian Dalam Negeri.
Menatap ke depan, Bank Indonesia berkomitmen penuh bersama Pemerintah Daerah untuk terus menjaga stabilitas perekonomian lokal.
“Kami akan terus memperkuat sinergi melalui implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) dan optimalisasi strategi 4K. Fokus utama kami adalah menjaga stabilitas pasokan dan harga, agar inflasi tetap berada pada sasaran nasional 2,5±1 persen, sehingga pertumbuhan ekonomi daerah tetap berkelanjutan,” pungkas Indra. (NP/ FAS)
Reporter: Nugraha Perdana












