Pemkab Pamekasan Perkuat Pertanian, 13 Sumur Bor Disiapkan untuk Bantu Petani Atasi Kendala Air

Aktivitas Petani Saat Memantau Pertumbuhan Tembakaunya di Desa Lembung, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan.

PAMEKASAN, BERITAKATA.id – Persoalan ketersediaan air masih menjadi salah satu tantangan dalam menjaga produktivitas pertanian di Kabupaten Pamekasan. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Pemerintah Kabupaten Pamekasan menyiapkan pembangunan 13 titik sumur bor pertanian sebagai upaya memperkuat akses air bagi petani di berbagai wilayah, Jumat (12/6/2026).

Program tersebut dijalankan melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pamekasan dengan rencana penyebaran bantuan di 13 kecamatan. Pemkab berharap keberadaan sumur bor bisa menjadi dukungan tambahan bagi petani, terutama di wilayah yang selama ini menghadapi ketetbatasan sumber air.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DKPP Pamekasan Almarah Sugandi menyampaikan, penentuan lokasi sumur bor tidak dilakukan secara asal, namun disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi wilayah pertanian.

“Tahun 2026 ini ada bantuan bor air pertanian sebanyak 13 titik yang akan disebar di 13 kecamatan. Tentu kami melihat kebutuhan dan potensi wilayah, apakah memang daerah tersebut membutuhkan sumur bor atau tidak,” katanya.

Ia menjelaskan, program tersebut merupakan bagian dari langkah Pemkab Pamekasan dalam menjaga keberlangsungan sektor pertanian. Menurutnya, peningkatan produksi pertanian tidak hanya bergantung pada kemampuan petani, tetapi juga dukungan infrastruktur yang memadai.

DKPP Pamekasan, lanjut dia, terus mendorong agar hasil pertanian masyarakat dapat meningkat, baik dari sisi kualitas maupun jumlah produksi.

“Hal ini dilakukan guna mendorong hasil pertanian petani. Kami fokus bagaimana kualitas dan kuantitas hasil pertanian masyarakat bisa semakin berkembang, ujarnya.

Saat ini, bantuan tersebut masih dalam proses persiapan karena pemerintah daerah masih melakukan pemetaan terhadap wilayah yang dinilai paling membutuhkan.

“Sampai Juni ini belum ada realisasi, karena kami masih melihat wilayah mana yang memang membutuhkan,” jelas Almarah.

Kebutuhan air menjadi persoalan yang cukup dirasakan oleh sebagian petani, khususnya di kawasan tertentu yang memiliki keterbatasan sumber air. Salah satunya disampaikan Moh Dikkrih, petani asal Kecamatan Galis.

Ia menilai keberadaan sumur bor dapat membantu aktivitas pertanian masyarakat. Namun, menurutnya, biaya penggunaan air juga masih menjadi pertimbangan bagi petani.

“Program ini sebenarnya membantu, tapi yang disayangkan harga airnya masih bisa dibilang sama dengan ketika kami ambil dari PDAM,” ungkapnya.

Dikkrih menyebut, dalam satu kali musim tanam, petani dapat mengeluarkan biaya sekitar Rp600 ribu untuk kebutuhan air dari sumur bor saja. Meski begitu, kebutuhan tersebut tetap harus dipenuhi karena tanaman seperti tembakau sangat bergantung pada pasokan air.

“Sekarang saya tanam tembakau. Mau tidak mau tetap harus bayar, karena kalau tidak, tanaman tidak akan hidup,” katanya.

Ia menambahkan, kondisi wilayah Galis yang berdekatan dengan kawasan pegaraman membuat sebagian air tanah memiliki kadar garam cukup tinggi sehingga kurang cocok digunakan untuk pertanian.

“Di daerah kami yang notabene dekat kawasan garam, airnya asin. Jadi untuk kebutuhan pertanian memang harus beli air,” tuturnya.

Dengan adanya program sumur bor tersebut, Pemkab Pamekasan berharap persoalan akses air pertanian dapat semakin teratasi. Pemerintah daerah menilai penguatan infrastruktur pertanian menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas petani dan mendukung ketahanan pangan daerah. ig/an.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *