MALANG, BERITAKATA.id – Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si., menanggapi wacana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) terkait rencana penutupan program studi (prodi) di perguruan tinggi. Ia menilai, wacana menutup prodi dengan alasan tidak relevan dengan kebutuhan industri merupakan pandangan yang sangat sempit.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badru Munir Sukoco, melontarkan wacana penutupan prodi untuk menekan kesenjangan antara kompetensi lulusan kampus dan dunia kerja. Pemerintah Pusat mempertimbangkan penutupan prodi yang dinilai tak lagi relevan dengan delapan industri strategis, yakni kesehatan, ketahanan pangan, digitalisasi, hilirisasi, pertahanan, material maju dan manufaktur, energi, serta maritim.
Merespons hal tersebut, Prof. Nazaruddin menilai bahwa pada dasarnya tidak ada bidang ilmu yang mengalami kejenuhan. Oleh karena itu, kebijakan penutupan program studi dinilai tidak perlu dilakukan.
“Saya kira program studi itu tidak ada yang jenuh ya, jadi tidak perlu ditutup saya kira. Karena kalau pendidikan itu hanya orientasinya dilihat lurus atau linear, link and match-nya itu sebatas pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya, tentu sangat sempit,” tegas Prof. Nazaruddin pada Sabtu (2/5/2026).
Ia memaparkan, esensi pendidikan tinggi tidak boleh direduksi semata-mata pada konsep pemenuhan tenaga kerja industri. Institusi pendidikan memiliki tanggung jawab yang jauh lebih luas, yakni membekali mahasiswa dengan keterampilan hidup agar mampu bertahan di berbagai sektor.
“Jadi saya kira pendidikan itu tidak sekadar link and match, tapi harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki keterampilan hidup atau life skill, memiliki kualitas untuk menjalankan seluruh aspek kehidupannya yang bermartabat,” paparnya.
Terkait fluktuasi minat calon mahasiswa pada program studi tertentu di UMM, Nazaruddin menyebut hal tersebut sebagai dinamika yang wajar dan tidak bisa dijadikan alasan untuk menutup sebuah jurusan. Evaluasi pendidikan harus dilihat dari kualitas proses pembentukan karakter, bukan sekadar angka peminat per prodi.
“Situasinya ada yang mengalami penurunan minat, ada yang masih tetap bagus. Tapi kan sebuah pendidikan yang terintegrasi tentu kualitas prosesnya yang harus dilihat, bukan sekadar melihat per prodi-per prodi, tetapi secara komprehensif harus dibangun karakternya, kualitas prosesnya,” ungkapnya.
Rektor UMM ini juga menekankan bahwa orientasi lulusan perguruan tinggi tidak selalu harus linier dengan program studi yang diambil.
“Tidak sekadar orang sekolah itu lalu tujuannya hanya untuk bekerja di bidangnya kan. Dia bisa bekerja di bidang apa pun karena punya daya yang disebut life skill itu tadi, keterampilan mengelola dan menjalankan kehidupannya masing-masing. Itu yang paling penting karena yang dibekali adalah daya pikir dan intelektual,” urai Nazaruddin.
Dengan prinsip tersebut, Nazaruddin memastikan bahwa UMM tidak akan menutup program studi apa pun. Prodi-prodi yang ada akan terus eksis, baik yang sedang tinggi peminat maupun mengalami penurunan.
“Artinya prodi-prodi yang masih diminati dan yang berkurang masih terus akan eksis. Saya kira tidak ada prodi yang akan ditutup di UMM. Itu pandangan yang sangat sempit kan (kalau menutup prodi),” tegasnya.
Alih-alih menutup jurusan, UMM justru mengambil langkah ekspansif dengan merancang program-program studi baru, terutama yang berbasis lintas disiplin ilmu, guna menjawab tantangan zaman tanpa harus mematikan bidang ilmu yang sudah ada.
“Bahkan kita terus akan memunculkan aneka prodi, termasuk prodi yang lintas bidang. Banyak, itu sudah muncul ada Energi Terbarukan, ada Saintek dan Budaya, ada banyak lagi saya kira, Mekatronika,” pungkasnya.












