MALANG, BERITAKATA.id – Perkembangan pesat kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kian merambah sektor pendidikan. Teknologi ini menawarkan berbagai kemudahan, mulai dari pengolahan informasi hingga sistem asesmen.
Namun, pemanfaatan AI harus diimbangi dengan etika dan kemampuan berpikir kritis (critical thinking) agar teknologi tersebut berperan sebagai mitra belajar, bukan pengambil alih nalar manusia. Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Program Studi S1 Teknik Informatika sekaligus Koordinator Program Studi S2 Teknik Elektro Universitas Negeri Malang (UM), Dr. Eng. Didik Dwi Prasetya, S.T., M.T.
Didik memaparkan berbagai potensi sekaligus batasan penggunaan AI di lingkungan akademik. Menurut Didik, AI sangat potensial untuk meringankan beban kerja pendidik. Salah satu implementasinya adalah pada proses evaluasi atau penilaian hasil belajar mahasiswa.
Saat ini, ia bersama timnya tengah merancang sebuah model AI yang bertujuan untuk menjaga konsistensi dan akurasi penilaian guru terhadap peserta didik.
“Secara spesifik, yang saya lakukan dengan tim adalah mengembangkan sebuah model AI yang bisa membantu guru dalam melakukan asesmen. AI akan membantu memberikan
reasoning, penalaran, dan sebagainya,” ungkap Dr. Didik pada Sabtu (29/8/2026).
Untuk pengerjaan tugas akademik, Didik mengingatkan para pelajar dan mahasiswa mengenai batasan etis. Ia menyarankan agar AI difungsikan sebagai teman diskusi, pemantik ide, atau pemberi masukan. Pengguna tidak dibenarkan menyerahkan seluruh proses pengerjaan tugas kepada mesin.
“Kita dapat memberikan bahan diskusi yang idenya dari kita, kemudian didiskusikan dengan AI. Saya rasa itu akan menghasilkan tulisan yang jauh lebih bagus. Jadi, kita berkolaborasi dan memanfaatkan AI, tentu dengan batas-batas etika,” tegasnya.
Tingkat kecanggihan AI yang terus meningkat justru menuntut penggunanya untuk lebih teliti. Seseorang tidak boleh sekadar menerima hasil mentah dari sistem AI. Mereka harus mampu menelaah, mempertanyakan, serta mengevaluasi validitas informasi yang disajikan. Di sinilah letak peran vital kemampuan analitis yang tidak bisa digantikan oleh mesin.
“Kemampuan-kemampuan yang masih selalu dibutuhkan salah satunya adalah critical thinking,” papar Didik.
Lebih lanjut, Didik memandang bahwa kemajuan teknologi merupakan keniscayaan yang tidak bisa dibendung. Oleh karena itu, kemampuan beradaptasi menjadi sangat krusial.
Ia mempersilakan penggunaan AI secara luas, asalkan tujuannya adalah untuk memperkaya pemahaman, bukan sebagai jalan pintas untuk menghindari proses belajar itu sendiri.
“Silakan pakai AI, tetapi harus diselaraskan dengan proses berpikir. Use AI to learn, not to avoid learning,” pesannya.
Menurutnya, implementasi AI dalam dunia pendidikan bermuara pada optimalisasi kolaborasi antara manusia dan teknologi. AI bertugas mempercepat pekerjaan dan menyuplai data, sementara manusia tetap memegang kendali utama dalam mengambil keputusan, berpikir kritis, dan memahami konteks.
Langkah mengintegrasikan teknologi secara bertanggung jawab ini sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yakni Pendidikan Berkualitas. Pemanfaatan AI yang tepat sasaran diharapkan menciptakan ekosistem pendidikan yang adaptif, sekaligus membekali sumber daya manusia dengan kompetensi digital yang relevan untuk menghadapi disrupsi dunia kerja. (NP/ FAS)
Reporter: Nugraha Perdana












