PROBOLINGGO, BERITAKATA.id – Sebanyak 14 anak penderita bibir sumbing di Kabupaten Probolinggo menjalani operasi gratis pada Minggu, 16 Agustus 2026. Aksi bakti sosial di RS Rizani itu menandai tahap ke-4 program “Merdeka Senyum” yang digelar bertepatan dengan HUT ke-81 RI.
Dengan tambahan 14 pasien baru, total anak yang telah ditangani sejak Agustus 2024 mencapai 63 orang dari wilayah Probolinggo dan sekitarnya.
Program ini digarap PT Paiton Energy, PT Paiton Operation & Maintenance Indonesia, RS Rizani, Yayasan Surabaya CLP Center, dan Smile Train Indonesia. Berbeda dari bakti sosial bedah satu kali, model yang dipakai adalah perawatan berantai.
“Penanganan celah bibir dan langit-langit memerlukan pendekatan komprehensif. Data pasien dicatat terintegrasi untuk perawatan lanjutan di Surabaya. Mulai terapi wicara, ortodonti, hingga tindakan lanjutan berikutnya, semua gratis,” kata Ketua Tim Medis Surabaya CLP Center, Lobredia Zarasade.
Jarak Probolinggo-Surabaya yang dekat disebut jadi kunci agar pendampingan bisa berlanjut bertahun-tahun.
President Director PT Paiton Energy Fazil Erwin Alfitri menyebut program ini masuk pilar CSR bErsiNERGY dan mendukung SDGs Pilar 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera.
“Ini tidak hanya mengembalikan senyum fisik, tapi membuka jalan anak tumbuh percaya diri. Memperingati kemerdekaan berarti memerdekakan masyarakat dari keterbatasan fisik dan sosial,” ujarnya.
Bupati Probolinggo Muhammad Haris menilai konsistensi empat tahap ini melampaui aksi simbolis.
“Operasi ini mengembalikan fungsi medis sekaligus kepercayaan diri. Di momen kemerdekaan, senyuman baru mereka adalah simbol kemerdekaan sejati untuk tumbuh dan bermimpi tinggi,” kata Haris.
Direktur RS Rizani Mirrah Samiyah menambahkan, layanan rutin ini menyasar keluarga kurang mampu agar mendapat akses spesialis tanpa beban biaya. Dampak bibir sumbing disebut tidak hanya pada bicara, tapi juga psikososial anak dan keluarga.
Data internal panitia mencatat empat dampak utama selama 2 tahun: peningkatan kualitas hidup dan rasa percaya diri anak, penurunan beban finansial warga untuk biaya operasi, berkurangnya kecemasan orang tua, dan kontribusi terhadap peningkatan IPM Kabupaten Probolinggo.
PT Paiton Energy menyebut model ini sebagai penerapan ESG berbasis sinergi multipihak: pemerintah, masyarakat, akademisi, pelaku usaha, dan media. Perusahaan yang merupakan IPP pertama dan terbesar di Indonesia itu juga menjalankan program serupa di pilar lingkungan dan ekonomi lokal Jawa Timur. ig/fa












