Soal Proyek Cetak Sawah dan Tebu di Papua, Dekan UB Tekankan Pentingnya Koridor Ekologi

Dekan Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya (UB), Prof. Mangku Purnomo, S.P., M.Si., Ph.D.

MALANG, BERITAKATA.id – Program pemerintah yakni Proyek Strategis Nasional (PSN) berupa pembukaan lahan tebu dan cetak sawah di wilayah Papua, khususnya Merauke, mendapat masukan dari kalangan akademisi. Proyek yang bertujuan memperkuat ketahanan pangan ini dinilai memiliki potensi besar, asalkan dibarengi dengan komitmen pelestarian lanskap ekologi lokal.

Dekan Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya (UB), Prof. Mangku Purnomo, S.P., M.Si., Ph.D., menilai bahwa secara fisik dan geografis, wilayah Merauke sangat mumpuni untuk dijadikan lumbung pangan baru. Ia meluruskan kekhawatiran publik mengenai potensi kerusakan lingkungan akibat pembukaan lahan baru.

“Ini harus diluruskan dulu. Yang menjadi masalah di pertanian ketika membuka lahan itu di peatland atau lahan basah gambut, itu memang agak problem. Tapi kalau di Merauke itu bukan tanah gambut, dia tanah mineral yang dari pegunungan itu mengalir,” ujar Prof. Mangku saat ditemui pada Jumat (12/6/2026).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kawasan tersebut selama ini didominasi oleh rawa-rawa dengan tanaman yang tidak begitu produktif. Jika dikelola dengan tepat, menurutnya, tanah mineral tersebut memiliki kesuburan yang tinggi.

“Ketika dibuka kemudian bisa produktif ketika ditanam, memang sangat cocok untuk padi dan tebu. Itu fisik yang kita lihat,” tambahnya.

Meskipun mendukung proyek tersebut dari sisi kesesuaian lahan, Prof. Mangku menegaskan perlunya mitigasi risiko terhadap keanekaragaman hayati lokal. Ia mendesak pemerintah dan pelaksana proyek untuk tidak mengabaikan habitat satwa endemik Papua.

“Yang menjadi konsen kami sebenarnya adalah dihitung ulang berapa luasan yang harus mendukung flora fauna lokal seperti rusa, jangan sampai hilang. Harus dibuat koridor-koridor ekologi, tetapi tetap memperhatikan efisiensi dari penanaman sehingga tidak overdose,” tegas pakar pertanian tersebut.

Menurutnya, skala pembukaan lahan yang saat ini berjalan masih relatif kecil dibandingkan dengan total potensi wilayah yang ada. Kendati demikian, kelangsungan hidup satwa lokal seperti rusa dan burung harus menjadi perhatian utama sejak fase awal proyek.

Terkait tata ruang penanaman, Prof. Mangku menyarankan penerapan sistem zonasi spasial yang menyesuaikan dengan kontur tanah. Area dataran tinggi dinilai lebih optimal untuk komoditas tebu, sementara dataran rendah difokuskan untuk padi.

“Kalau tebu di area yang agak atas. Kalau yang bawah pasti akan lebih ke padi, kemudian sawit. Tetapi harus ada koridor dari atas gunung ke bawah. Hutan-hutan tetap dipertahankan sesuai lanskapnya mengikuti arah sungai,” paparnya.

Ia juga mengingatkan secara tegas agar proyek cetak sawah ini tidak merusak hidrologi alami di kawasan tersebut.

“Jangan sampai kemudian sungainya ditutup atau merubah lanskap sungainya. Nah, itu yang harus kita perjuangkan,” ucapnya.

Secara keseluruhan, Prof. Mangku memandang PSN di Papua sebagai langkah strategis yang menguntungkan dan mampu memacu pertumbuhan daerah, selama kaidah ekologi tidak diabaikan.

“Secara prinsipil memang dampak ekonomi dan sosialnya, benefitnya lebih besar sebenarnya. Sehingga dengan begitu kawasan-kawasan kita menjadi tumbuh,” pungkasnya. (NP/ FAS)

Reporter: Nugraha Perdana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *