PAMEKASAN, BERITAKATA.id- Upaya Pemerintah Kabupaten Pamekasan dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih modern terus diperkuat melalui kolaborasi dengan lembaga riset nasional. Dukungan teknologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjadi bagian dari langkah Pemkab menghadirkan solusi pengolahan sampah yang tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan limbah bernilai ekonomi, Sabtu (27/6/2026).
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penerimaan dua unit mesin pencacah sampah organik dari BRIN melalui pendampingan Universitas Brawijaya Malang. Fasilitas itu nantinya akan dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kabupaten Pamekasan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pamekasan Supriyanto mengatakan, bantuan teknologi tersebut menjadi langkah lanjutan pemerintah daerah dalam memperkuat tata kelola persampahan melalui pendekatan inovasi.
“Pamekasan mendapatkan hibah dua alat pencacah organik dari BRIN yang ditangani Universitas Brawijaya Malang dalam rangka penanganan sampah di Kabupaten Pamekasan,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan mesin tersebut sejalan dengan upaya Pemkab Pamekasan untuk mengubah pola pengelolaan sampah dari sekadar membuang menjadi mengolah dan memanfaatkan kembali. Sampah organik yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan dapat diarahkan menjadi produk yang memiliki manfaat.
Mesin tersebut mampu mengolah sampah organik menjadi kompos sekaligus memproses limbah buah-buahan menjadi cairan enzim yang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk rumah tangga.
“Mesin ini bisa mengolah sampah organik menjadi kompos, juga bisa mencacah sisa buah menjadi enzim yang nantinya dapat diolah menjadi sabun mandi, cairan pel, hingga sabun cuci piring,” jelas Supriyanto.
Untuk memastikan teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal, Pemkab Pamekasan juga telah mendorong proses pendampingan kepada masyarakat. Sebanyak sekitar 40 peserta dari berbagai unsur, mulai masyarakat umum hingga pegiat lingkungan, telah mengikuti pelatihan penggunaan alat dan pengolahan sampah.
Pelatihan tersebut tidak hanya memberikan pemahaman teori, tetapi juga praktik langsung agar masyarakat mampu mengoperasikan mesin yang disiapkan dalam bentuk portable.
“Sudah berlangsung sejak sebulan lalu. Sekitar 40 orang ikut pelatihan, mulai masyarakat sampai pegiat lingkungan. Kami juga menyediakan alat portable yang bisa dipindahkan ke mana saja jika dibutuhkan untuk kegiatan pelatihan,” katanya.
Pemkab Pamekasan juga membuka peluang pemanfaatan fasilitas tersebut bagi kelompok masyarakat maupun organisasi pemberdayaan, termasuk PKK dan komunitas lingkungan. DLH siap mendampingi agar penggunaan mesin dapat berjalan sesuai tujuan program.
“Kalau ada masyarakat seperti PKK atau komunitas lain yang ingin menggunakan alat tersebut, nanti kami bantu bersama teman-teman DLH untuk membimbing penggunaannya,” ungkapnya.
Ke depan, Pemkab Pamekasan masih memiliki peluang mendapatkan dukungan lanjutan berupa mesin pengolah sampah plastik. Namun, proses tersebut masih menunggu evaluasi terhadap keberhasilan penerapan mesin organik yang saat ini mulai digunakan.
“Pamekasan juga berpotensi mendapatkan mesin pencacah plastik. Sekarang menunggu percobaan alat yang ini dulu. Kalau berhasil, kemungkinan kita akan mendapatkan mesin pengolah plastik juga,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi bersama BRIN dan Universitas Brawijaya, Pemkab Pamekasan berharap pengelolaan sampah dapat semakin berkembang menjadi sistem yang lebih efektif, melibatkan masyarakat, serta mendukung terciptanya lingkungan yang bersih dan berkelanjutan. ig/an












