Tingkatkan Daya Saing Global, FIA UB Perluas Program Double Degree

Konferensi Pers Pengembangan Kelas Internasional dan Double Degree di FIA UB pada Kamis (12/3/2026).

MALANG, BERITAKATA.id – Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB) terus memperkuat langkah internasionalisasi guna meningkatkan daya saing lulusan di tingkat global. Hal ini diwujudkan melalui pengembangan Kelas Internasional dan program Joint/Double Degree untuk jenjang Sarjana (S1), Magister (S2), dan Doktoral (S3).

Pengumuman ini disampaikan dalam Konferensi Pers Pengembangan Kelas Internasional dan Double Degree di FIA UB pada Kamis (12/3/2026).

Dekan FIA UB, Prof. Dr. Hamidah Nayati Utami, S.Sos., M.Si, menjelaskan bahwa penguatan kelas internasional merupakan bagian dari visi dan misi universitas dalam membangun jejaring akademik dan reputasi global. Saat ini, 13 program studi di FIA UB telah meraih akreditasi unggul dan terakreditasi internasional.

“Daya saing di tingkat global adalah target kami. Melalui kerja sama akademik dengan universitas luar negeri, mahasiswa mendapatkan pengalaman akademik lintas negara dan memperluas perspektif ilmu administrasi global. Ini adalah upaya kami menyiapkan lulusan agar dapat berkontribusi pada kebijakan administrasi publik maupun administrasi bisnis yang saat ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan global,” tegas Prof. Hamidah pada Kamis (12/3/2026).

Pembukaan program akademik berganda ini didasarkan pada Surat Keputusan Rektor UB Nomor 263 Tahun 2026 yang dapat digunakan mahasiswa sebagai syarat penyetaraan ijazah. Izin penyelenggaraan program mencakup tiga universitas mitra utama, yakni Master of International Community Development di Victoria University (Australia), Graduate School of Asia Pacific Study di Ritsumeikan Asia Pacific University/APU (Jepang), dan National Graduate Institute for Policy Studies atau GRIPS (Jepang).

Prof. Hamidah memaparkan, FIA UB memiliki rekam jejak panjang dalam penyelenggaraan program ini. Sejak 2007 hingga 2022, FIA telah menjalin kerja sama dengan enam kampus di Jepang, termasuk Tohoku University, Takushoku University, GRIPS, dan APU.

Pada periode 2010-2015, kerja sama juga mencakup universitas di Thailand dan Taiwan untuk jenjang doktoral (S3), meskipun sempat terhenti akibat pembatasan mobilitas saat pandemi Covid-19.

“Pada tahun 2024 kami melanjutkan kerja sama dengan GRIPS dan APU di Jepang. Kemudian, pada tahun 2026 ini kami menambah kemitraan dengan Victoria University di Australia untuk program S2. Saat ini sudah ada mahasiswa yang sedang menempuh studi di Malang dan semester depan akan berangkat ke luar negeri,” jelas Prof. Hamidah.

Selain S2 dan S3, program ini juga membidik mahasiswa S1. FIA UB telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan perguruan tinggi di Selandia Baru.

Menurut Prof. Hamidah, program double degree S1 menawarkan efisiensi biaya. Mahasiswa dapat belajar selama 2 tahun di UB dan 1,5 tahun di luar negeri.

“Biaya kuliah di sini relatif terjangkau, dan mahasiswa akan lulus dengan dua gelar, misalnya dari UB dan Victoria University. Ini sangat efisien bagi orang tua dengan dana terbatas namun ingin anaknya mendapat pengalaman dan daya saing global,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Program Studi Magister Administrasi Bisnis (MAB) FIA UB, Prof. Andriani Kusumawati, menyatakan komitmennya untuk segera menjalankan skema double degree bagi mahasiswa MAB, menyusul kesuksesan yang telah diraih oleh Magister Administrasi Publik (MAP).

Untuk mendukung hal tersebut, pihaknya aktif mencari mitra kampus baru dan lembaga penyedia beasiswa.

“Kami akan mengaktifkan kembali kerja sama dengan universitas di Taiwan dan menjajaki MoU dengan perguruan tinggi di Selandia Baru. Kami juga berupaya mencari partner beasiswa, termasuk kerja sama agar program ini bisa diikutkan dalam skema beasiswa LPDP,” ujar Prof. Andriani.

Prof. Andriani menekankan bahwa kompetisi global menuntut kesiapan mahasiswa. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya mendapat ilmu akademis, tetapi juga keahlian yang tidak bisa didapatkan di ruang kelas biasa.

“Mereka memiliki kesempatan untuk mengenal budaya lain, membangun jaringan, dan mendapatkan nilai jual (nilai plus) serta softskill unggul. Lebih dari itu, program ini tidak hanya melibatkan mahasiswa, tetapi juga dosen melalui pertukaran dosen, publikasi bersama, hingga penyelenggaraan workshop dan seminar,” terang Prof. Andriani.

Wakil Dekan Bidang Akademik FIA UB, Dr. Fadillah Amin, M.AP., Ph.D., mengungkapkan bahwa program Joint/Double Degree ini telah berjalan aktif dan mencetak banyak lulusan. Skema reguler untuk jenjang magister umumnya adalah satu tahun studi di UB dan satu tahun berikutnya di perguruan tinggi mitra di luar negeri.

“Untuk tahun ini, ada tujuh mahasiswa yang mengikuti program Double Degree. Mereka akan berangkat studi ke Jepang pada September 2026. Sementara untuk tahun lalu, ada enam mahasiswa yang sebagian berangkat ke Victoria University di Melbourne,” ungkap Fadillah.

Ia juga menambahkan bahwa mayoritas peserta program saat ini didukung oleh beasiswa pemerintah. Bantuan pendanaan utama berasal dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) yang bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA), serta program beasiswa Australian Awards.

Ketua Pusat Kerjasama Pendidikan Internasional Bergelar pada UPT Global Partnership and Reputation UB, Dadang Meru Utomo, Ph.D., memastikan bahwa universitas memberikan dukungan penuh.

“Program Double/Joint Degree merupakan program akademik berganda internasional yang dikelola langsung oleh Kantor Pusat UB. Program ini menawarkan kesempatan bagi seluruh mahasiswa UB, baik di level S1, S2, maupun S3, untuk menyelesaikan studinya di universitas mitra internasional,” pungkas Dadang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *