PAMEKASAN, BERITAKATA.id – Fenomena alam Gerhana Bulan Total yang diprediksi terjadi pada 3 Maret 2026 mendatang mulai memicu diskusi di kalangan pemerhati astronomi. Pasalnya, fenomena yang sering disebut Blood Moon ini dikabarkan akan jatuh pada tanggal 13 atau malam ke-14 Ramadan 1447 H.
Guru Besar Ilmu Falaq UIN Madura, Prof. Dr. H. Achmad Mulyadi, M.Ag., menjelaskan bahwa secara teori, gerhana bulan hanya terjadi saat fase purnama (full moon). Namun, penetapan tanggal dalam kalender Hijriah memang bisa bervariasi.
“Dalam sistem kalender Hijriah, purnama secara teoritis jatuh sekitar tanggal 14-15. Namun praktiknya, gerhana bisa terjadi tanggal 13, 14, bahkan mendekati 15,” ujar Prof. Mulyadi dalam keterangannya, Kamis (26/2/2026).
Mengapa Tanggalnya Berbeda?
Menurut Prof. Mulyadi, ada beberapa faktor astronomis yang mendasari perbedaan tanggal tersebut.
Siklus Sinodik Variabel: Rata-rata siklus bulan adalah 29,5 hari, namun kenyataannya bisa lebih pendek atau lebih panjang, sehingga momen purnama tidak selalu tepat di tengah bulan.
Metode Penetapan Awal Bulan: Perbedaan penggunaan metode rukyat (observasi) dan hisab (perhitungan) memengaruhi penentuan tanggal 1 Ramadan. Jika awal bulan ditetapkan lebih awal, maka gerhana jatuh pada tanggal 13 malam.
Orbit Elips: Bentuk orbit bulan yang elips menyebabkan kecepatannya berubah-ubah (perigee dan apogee), yang menggeser waktu tepat terjadinya purnama.
Zona Waktu: Fase purnama terjadi secara global di satu waktu UTC, namun perbedaan zona lokal dan pergantian hari saat Maghrib membuat tanggal di tiap negara bisa berbeda.
Berdasarkan analisis data, puncak gerhana akan terjadi pada 3 Maret 2026 pukul 19:59 WIB. Pada saat itu, umur bulan mencapai 13,54 hari.
“Jika awal Ramadan dihitung lebih awal, maka gerhana terjadi pada 13 Ramadan malam 14. Jika awal bulan ditentukan mundur (20 Februari 2026), maka jatuh pada 14 Ramadan,” jelasnya.
Fenomena ini akan berlangsung cukup lama, yakni dengan durasi totalitas sekitar 1 jam 34 menit, dikarenakan posisi bulan yang tergolong dekat dengan bumi (perigee ringan).
Bagi masyarakat di Pulau Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep), fenomena ini akan terlihat sangat jelas. Bulan diprediksi terbit sekitar pukul 17:47 WIB dalam kondisi sudah mulai mengalami gerhana parsial.
Prof. Mulyadi menekankan bahwa posisi pengamatan di Madura sangat ideal. “Saat mencapai puncaknya pada pukul 19:59 WIB, posisi bulan berada di ketinggian 32°-35°. Ini sangat ideal untuk observasi karena sudah jauh dari gangguan polusi atmosfer bawah,” tambahnya.
Meski ada perbedaan koordinat antar kabupaten di Madura, selisih waktu kontak hanya berkisar 30 detik, sehingga seluruh wilayah Madura berada dalam zona visibilitas optimal untuk menyaksikan keindahan Blood Moon 1447 H tersebut. ig/an












