Inflasi Kota Malang Mei 2026 Terkendali, BI Beberkan Sejumlah Faktor Pemicunya

ilustrasi grafik inflasi.

MALANG, BERITAKATA.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kota Malang mengalami inflasi sebesar 0,18 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Mei 2026. Dengan angka tersebut, inflasi tahunan Kota Malang tercatat berada di level 3,10 persen (year-on-year/yoy).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, Indra Kuspriyadi, mengatakan bahwa capaian inflasi di Kota Malang saat ini masih berada dalam batas yang aman.

“Realisasi inflasi Kota Malang pada bulan Mei 2026 tetap terjaga dalam kisaran sasaran yang ditetapkan, yaitu 2,5 plus minus 1 persen. Jika kita bandingkan, inflasi tahunan kita yang sebesar 3,10 persen masih di bawah tingkat inflasi tahunan Provinsi Jawa Timur yang mencapai 3,49 persen, meskipun sedikit di atas inflasi nasional sebesar 3,08 persen,” kata Indra di Malang.

Indra menjelaskan, laju inflasi bulanan pada Mei 2026 didominasi oleh pergerakan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini menyumbang andil inflasi sebesar 0,06 persen (mtm).

“Ada lima komoditas utama yang menjadi pendorong inflasi bulanan kita. Komoditas tersebut adalah cabai merah dengan andil 0,04 persen, minyak goreng 0,03 persen, telepon seluler 0,03 persen, serta vitamin dan pizza yang masing-masing menyumbang 0,02 persen,” paparnya pada Kamis (4/6/2026).

Lebih lanjut, Indra merinci faktor-faktor penyebab kenaikan harga pada komoditas tersebut. Tekanan inflasi pada komoditas pangan dan barang elektronik dipengaruhi oleh faktor cuaca hingga dinamika global.

“Harga cabai merah naik akibat pasokan yang terbatas karena cuaca ekstrem. Untuk minyak goreng, harganya terkerek oleh tingginya permintaan masyarakat menjelang Idul Adha. Hal ini diperberat dengan naiknya biaya kemasan yang merupakan dampak lanjutan dari kenaikan harga minyak mentah global,” jelas Indra.

“Sementara itu, kenaikan harga telepon seluler terjadi akibat tingginya biaya logistik dan adanya gangguan rantai pasok global pada komponen elektronik, terutama krisis microchip,” tambahnya.

Meski demikian, Indra menegaskan bahwa laju inflasi di Kota Malang berhasil ditekan oleh sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga atau deflasi. Komoditas penahan inflasi tersebut antara lain telur ayam ras (andil -0,06 persen), emas perhiasan (-0,04 persen), daging ayam ras (-0,04 persen), bawang putih (-0,02 persen), dan tarif kendaraan roda dua online (-0,02 persen).

“Terjadinya deflasi pada telur dan daging ayam ras didorong oleh meningkatnya pasokan dari tingkat produsen. Penurunan harga bawang putih dipengaruhi oleh realisasi impor yang mulai masuk sejak April 2026 lalu,” ungkap Indra.

Terkait penurunan harga emas dan transportasi online, Indra menuturkan bahwa harga emas perhiasan terkoreksi mengikuti tren penurunan harga emas global akibat tekanan jual serta pergerakan nilai tukar.

“Sedangkan untuk tarif kendaraan roda dua online, penurunannya didorong oleh program promosi dan diskon aplikasi yang sifatnya lokal dan sementara,” katanya.

Terkendalinya inflasi Kota Malang pada Mei 2026 tidak terlepas dari langkah strategis Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Indra menjabarkan setidaknya ada empat langkah konkret yang telah dijalankan oleh TPID sepanjang bulan tersebut.

“Pertama, kami secara intensif melakukan pemantauan harga bahan pangan pokok selama bulan Mei 2026. Kedua, kami telah berkoordinasi dengan daerah penghasil bawang merah pada 14 Mei 2026 guna menjajaki Kerjasama Antardaerah (KAD) antara Perumda Tunas dengan Kelompok Tani Harapan Mulya, Kabupaten Malang,” ujar Indra.

Langkah ketiga adalah upaya pengawasan langsung di lapangan.

“Kami melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pasar dan sejumlah distributor pada 25 Mei 2026 untuk memastikan tidak ada oknum yang menimbun barang. Keempat, kami terus berpartisipasi dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian Inflasi mingguan bersama Kementerian Perdagangan RI,” terangnya.

Menutup pernyataannya, Indra memastikan komitmen Bank Indonesia untuk terus berkolaborasi dengan pemerintah.

“Ke depan, sinergi kebijakan antara Bank Indonesia dengan Pemerintah Pusat maupun Daerah akan terus dilanjutkan. Fokus kami adalah mengimplementasikan Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) dan memperkuat program 4K, yaitu Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, serta Komunikasi Efektif. Langkah ini penting untuk mengamankan agar inflasi tetap berada di rentang sasaran 2,5 plus minus 1 persen ke depannya,” pungkas Indra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *