MALANG, BERITAKATA.id – Universitas Brawijaya (UB) mengukuhkan lima profesor baru di Gedung Samantha Krida pada Rabu (11/2/2026) mendatang. Kelima guru besar tersebut berasal dari disiplin ilmu yang beragam, yakni tiga dari Fakultas Kedokteran (FK), satu dari Fakultas Peternakan (Fapet), dan satu dari Fakultas Hukum (FH).
Profesor yang dikukuhkan salah satunya adalah Prof. Dr. Ir. Mashudi, M.Agr.Sc., IPM., ASEAN Eng., sebagai profesor aktif ke-21 di Fapet dan ke-448 di UB. Dalam pidatonya nanti, Prof. Mashudi memperkenalkan model “Nutrisi Presisi Ruminansia Perah (NPRP)”.
Ia menyoroti masalah inefisiensi pakan pada ternak ruminansia, di mana sebagian besar protein pakan terdegradasi menjadi amonia dan terbuang ke lingkungan.
“Kondisi ini menyebabkan rendahnya efisiensi pemanfaatan nitrogen dan meningkatnya kehilangan nitrogen ke lingkungan, yang tercermin dari tingginya milk urea nitrogen (MUN) pada ternak perah,” papar Mashudi pada Senin (9/2/2026).
Melalui model NPRP, ia menawarkan solusi proteksi protein dan asam amino berbasis konden tanin. Model ini diharapkan menjadi fondasi peternakan perah tropis yang efisien, meningkatkan produktivitas susu, serta menjaga keberlanjutan lingkungan.
Dari bidang hukum, Prof. Dr. Prija Djatmika, SH., M.S., dikukuhkan sebagai profesor aktif ke-14 di FH dan ke-449 di UB. Ia memaparkan konsep “Clear-Asset Model” yang berfokus pada pengembalian aset tindak pidana korupsi.
Menurut Prof. Prija, model ini menempatkan pengembalian aset sebagai inti keadilan. Ia menawarkan mekanisme perampasan aset in rem, yaitu perampasan aset tanpa harus menunggu putusan pidana dalam kondisi tertentu.
“Model ini memformulasikan mekanisme pengembalian aset yang sistematis, terpisah dari pemidanaan, serta mengakomodasi perampasan aset in rem tanpa harus menunggu putusan pidana, dengan tetap menjamin kepastian hukum dan perlindungan hak asasi manusia,” jelasnya.
Selanjutnya, Prof. Dr. dr. Tatit Nurseta, Sp. O.G., Subsp. Onk., menjadi profesor ke-450 yang dikukuhkan UB. Pakar Onkologi Ginekologi ini merancang model preventif bernama “PERMATA MOLA” untuk mencegah Mola Hidatidosa atau hamil anggur.
Prof. Tatit menjelaskan bahwa hamil anggur merupakan komplikasi langka yang berisiko bertransformasi menjadi keganasan (kanker). Model yang ia tawarkan berfokus pada intervensi nutrisi sebelum kehamilan.
“Model ini menggabungkan epidemiologi nasional, karakteristik molekuler trofoblas, regulasi hormonal, serta peran nutrisi maternal pada kelompok risiko tinggi,” ujar Tatit.
Ia menekankan pentingnya pencegahan pada kelompok risiko tinggi, seperti kehamilan pertama di usia muda dan kehamilan berulang di usia tua.
“Pendekatan ini penting untuk memastikan bahwa pencegahan tidak hanya dilakukan pada fase klinis, tetapi juga pada tahap prakonsepsi,” tegasnya.
Kemudian, Prof. Dr. rer.nat Tri Yudani Mardining Raras, M.App.Sc., akan dikukuhkan sebagai profesor ke-451 di UB dalam bidang Biokimia Biomolekuler. Ia mengembangkan model protein rekombinan fungsi ganda menggunakan model Ag38.
Prof. Tri Yudani mengkritisi paradigma riset di Indonesia yang sering berhenti pada publikasi. Ia menawarkan solusi di mana satu jenis protein rekombinan dapat berfungsi ganda yakni sebagai alat diagnosis, prototipe vaksin, hingga protein terapeutik.
“Konsep ini memiliki beberapa kelebihan yaitu efisiensi ekonomi dan waktu. Dengan karakterisasi komprehensif, satu protein bisa digunakan untuk berbagai tujuan dan mengurangi variabel perancu,” ungkapnya.
Profesor terakhir yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. dr. Agustin Iskandar, MKes, Sp.PK (K), sebagai profesor ke-452 di UB. Dalam bidang Patologi Klinik, ia memperkenalkan model “HOPE-ID” (Host-Oriented Prognostic Evaluation in Infectious Diseases).
Prof. Agustin menyoroti bahwa diagnosis penyakit infeksi saat ini sudah canggih, namun kemampuan memprediksi luaran klinis pasien masih kurang. Pasien dengan infeksi serupa bisa mengalami nasib berbeda, mulai dari sembuh hingga kematian.
“HOPE-ID merepresentasikan pergeseran paradigma Patologi Klinik dari sekadar penegakan diagnosis menuju prediksi luaran klinis yang lebih bermakna dan presisi,” jelas Agustin.
Model ini mengintegrasikan biomarker inflamasi dan faktor klinis untuk membantu tenaga medis mengambil keputusan yang lebih tepat waktu dan presisi dalam menangani pasien infeksi. ig/nn












