OPINI, BERITAKATA.id – Polemik program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mendampingi potret buram kesejahteraan guru honorer bukan sekadar masalah kebijakan, melainkan ujian moral bagi bangsa.
Sangat ironis ketika anggaran pendidikan sebesar 20 persen lebih dari APBN mulai dialokasikan untuk memenuhi piring makan siswa, namun di saat yang sama, guru-guru yang menyuapi mereka dengan ilmu masih harus bertahan hidup dengan upah yang tak cukup untuk membeli beras satu karung.
Ketimpangan ini semakin menyakitkan ketika publik melihat pembentukan birokrasi baru untuk MBG yang diduga kuat menjadi ajang “bagi-bagi kue” kekuasaan bagi tim sukses, lengkap dengan standar gaji yang jauh melampaui pendapatan guru honorer di pelosok negeri.
Pemerintah sering kali bersembunyi di balik tameng otonomi daerah, dengan dalih bahwa kesejahteraan guru honorer adalah urusan Pemerintah Daerah (Pemda), sementara MBG adalah program strategis nasional.
Argumen ini adalah bentuk “pingpong” tanggung jawab yang tidak masuk akal. Jika negara mampu menciptakan program nasional sebesar MBG dan mengambil dananya dari pos pendidikan pusat, maka negara secara teknis dan hukum juga mampu melakukan intervensi nasional untuk menetapkan standar upah minimum guru.
Negara tidak boleh menjadi penonton saat Pemda mengklaim keterbatasan anggaran, padahal guru adalah aset strategis yang menentukan keberhasilan investasi gizi tersebut.
Solusinya bukan dengan membatalkan asupan gizi siswa, melainkan dengan memangkas inefisiensi birokrasi dan menutup celah “bancakan” proyek bagi vendor-vendor titipan.
Pemerintah Pusat harus berani melakukan intervensi melalui Dana Alokasi Umum (DAU) yang dikunci (earmarked) khusus untuk gaji guru honorer agar setara dengan upah minimum.
Jangan biarkan program MBG dikelola oleh badan eksklusif yang boros operasional, sebaliknya, berdayakanlah ekosistem sekolah dan ekonomi lokal agar dana tetap berputar di lingkungan pendidikan.
Tanpa langkah konkret untuk memuliakan guru, program MBG hanya akan menjadi proyek mercusuar yang kenyang secara fisik namun keropos secara kualitas, karena membiarkan para pendidiknya kelaparan dalam ketidakpastian. ig/fat












