MALANG, BERITAKATA.id – Alun-Alun Merdeka Kota Malang resmi dibuka kembali untuk masyarakat umum pada Rabu (28/1/2026) malam. Peresmian ini dihadiri oleh Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat dan sejumlah pejabat penting setelah menjalani proses revitalisasi selama 105 hari kerja.
Proyek perbaikan ini menelan biaya sebesar Rp 5 miliar yang bersumber dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Jatim. Pembukaan ini mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat yang memadati lokasi sejak awal kegiatan berlangsung.
Plh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Gamaliel Raymond Matondang, mengatakan bahwa kehadiran masyarakat saat malam pembukaan berada di luar prediksi awal pihaknya.
“Pembukaan alun-alun setelah direhabilitasi selama 105 hari kerja berjalan lancar. Dan tentunya di luar dugaan, ternyata masyarakat malam ini hadir mengikuti acara pembukaan. Di luar prediksi kami, atas arahan Pak Wali, masyarakat ikut dalam pembukaan mulai prosesi dari awal sampai akhir,” ujar Gamaliel saat ditemui di lokasi, Rabu (28/1/2026) malam.
Revitalisasi ini membawa perubahan signifikan, terutama pada area air mancur yang kini mengusung konsep dry fountain serta area bermain anak atau playground yang lebih modern. Raymond sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa area bermain anak menjadi salah satu komponen dengan biaya pembangunan paling besar.

“Perubahan untuk air mancur yang dulunya kolam, sekarang dalam bentuk dry fountain. Yang kedua, playground untuk anak-anak. Itu yang cukup mahal karena cat yang digunakan aman untuk anak-anak berdasarkan penelitian tim perencana. Walaupun buatan orang Malang, tapi showroom-nya di Malaysia,” jelasnya.
Ia juga memastikan bahwa area bermain tersebut telah memenuhi standar keamanan dan tersertifikasi Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA). Material yang digunakan cukup kokoh dengan mampu menahan beban dewasa hingga di atas 100 kilogram.
Pihaknya akan memberlakukan pengawasan ketat untuk menjaga fasilitas tersebut. DLH Kota Malang berencana menempatkan penjaga khusus di area playground untuk mengatur durasi bermain agar anak-anak dapat bergantian secara adil.
Terkait waktu operasional air mancur Alun-Alun Merdeka, akan menyesuaikan kegiatan ibadah keagamaan yang ada di sekitar lokasi.

“Untuk air mancur, nanti kita akan sesuaikan. Setiap hari kita menyesuaikan dengan waktu kegiatan di Masjid Jami’. Jadi kalau memang ada ibadah atau salat, maka kegiatan air mancur dihentikan,” tegas Gamaliel.
Untuk aspek keamanan, DLH bersinergi dengan Satpol PP Kota Malang guna melakukan patroli rutin di setiap sudut taman, termasuk untuk mengantisipasi tindakan asusila maupun pelanggaran aturan oleh Pedagang Kaki Lima (PKL).
Guna menjaga kondisi alun-alun tetap prima, DLH telah menyiapkan 20 petugas yang dibagi ke dalam tiga sif mulai dari pagi hingga dini hari. Gamaliel memperkirakan kebutuhan biaya operasional tambahan mencapai ratusan juta rupiah per tahun.
“Kami masih mencoba menghitung, tetapi perkiraan mungkin di angka sekitar Rp 300 juta sampai Rp 400 juta dalam setahun untuk anggaran tambahan perawatan dan keamanan,” ungkapnya.
Mengenai fasilitas toilet, pihak DLH bekerja sama dengan kelompok masyarakat untuk memastikan kebersihan terjaga selama 24 jam. Pengguna akan dikenakan tarif jasa kebersihan sebesar Rp 1.000 hingga Rp 2.000.
“Karena kondisi tidak memungkinkan kita menambah personel, maka toilet kita berikan kepada kelompok masyarakat yang bertanggung jawab. Kalau kotor, kerja samanya kita cabut,” pungkasnya. ig/nn












