Pasca Gempa di Flores, Pertamina Pastikan 56 SPBU Beroperasi Normal

Kondisi tempat pengungsian pasca gempa di Flores, NTT.

FLORES, BERITAKATA.id – Pertamina memastikan distribusi pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali normal pasca gempa bumi yang melanda wilayah tersebut pada Sabtu (15/8/2026). Selain memulihkan layanan energi, Pertamina juga bergerak cepat mendistribusikan bantuan kemanusiaan ke sejumlah titik pengungsian.

Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus PT Pertamina Patraniaga, Ahad Rahedi, menyampaikan bahwa seluruh lembaga penyalur atau SPBU di Pulau Flores telah beroperasi penuh pada Selasa (18/8/2026). Pemulihan operasional ini dilakukan secara bertahap sejak hari pertama bencana.

“Untuk lembaga penyalur di Pulau Flores, pada hari pertama dari 56 lembaga penyalur, sebanyak 32 SPBU sudah bisa beroperasi. Pada hari kedua jumlahnya bertambah menjadi 48 SPBU. Sampai hari ini, semuanya sudah beroperasi, meskipun dua di antaranya beroperasi dengan mode darurat menggunakan listrik dari genset karena belum dialiri listrik dari PLN,” ujar Ahad saat dihubungi pada Selasa (18/8/2026).

Ahad menjelaskan, tidak beroperasinya sejumlah SPBU pada hari pertama bencana dipastikan bukan karena kerusakan sarana dan prasarana. Hal tersebut murni karena kendala tenaga operasional dan pasokan listrik.

“Pada hari pertama, 20 SPBU yang belum beroperasi bukan karena sarpras rusak, tetapi karena operatornya pulang mengecek keluarganya dan menunggu kesiapan aliran listrik disiapkan,” tegasnya.

Terkait pasokan dari terminal-terminal BBM di Pulau Flores, Ahad memastikan mayoritas terminal meliputi Terminal Labuan Bajo, Ende, Maumere, dan Larantuka beroperasi normal tanpa kendala.

“Hanya Terminal Reo yang belum bisa beroperasi secara normal. Kami perlu memastikan kekuatan struktur dermaga untuk bersandar kapal pembongkaran BBM,” paparnya.

Meski seluruh SPBU telah beroperasi, Ahad menyampaikan bahwa saat ini, fokus masyarakat terdampak masih pada pemulihan kondisi serta pengecekan tempat tinggal masing-masing, sehingga mobilitas dan aktivitas warga belum sepenuhnya normal.

Di samping fokus pada pemulihan distribusi energi, tim relawan kemanusiaan Pertamina telah terjun ke lokasi bencana sejak Minggu (16/8/2026). Tim tersebut telah menjangkau titik episentrum dan sebaran posko utama di Flores, yakni Posko Mbay di Nagekeo, Posko Barangkolong di Reo, dan Posko di Maumere.

Ahad menuturkan, ketiga lokasi tersebut menjadi sentra pengungsi utama di wilayah Pulau Flores.

“Bantuan kemanusiaan sebagai respon cepat tahap pertama yang kami siapkan meliputi makanan siap saji, terpal, selimut, dan tikar untuk alas istirahat para pengungsi,” jelas Ahad.

Memasuki penanganan tahap kedua yang berlangsung sejak Senin (17/8/2026) hingga Selasa (18/8/2026), Pertamina mulai mendirikan dapur umum. Bantuan yang diberikan mencakup penyiapan logistik dapur, bahan makanan, hingga pasokan bahan bakar LPG.

Ke depannya, Pertamina berencana menggandeng tim medis dan berbagai pihak terkait untuk melaksanakan program penyembuhan trauma (trauma healing) bagi masyarakat di posko-posko pengungsian.

“Hal ini penting karena banyak anak-anak yang terganggu aktivitasnya dan harus tinggal di posko yang kurang nyaman, sehingga pemulihan trauma menjadi tahapan kami berikutnya,” pungkas Ahad. (NP/ FAS)

Reporter: Nugraha Perdana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *