Poktan di Kota Malang Andalkan Mesin Raksasa Untuk Panen Padi, Pangkas Waktu dari Satu Bulan Jadi Satu Hari

Alat Combine Harvester yang digunakan Kelompok Tani di Kota Malang.

MALANG, BERITAKATA.id – Kelompok tani (Poktan) di Kota Malang, Jawa Timur mengoptimalisasi penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) berukuran besar yakni combine harvester untuk mempercepat masa panen. Penggunaan teknologi ini mampu memangkas waktu pengerjaan lahan seluas 4 hektare dari yang semula hampir satu bulan secara konvensional menjadi hanya satu hari.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan, mengatakan bahwa alat ini memiliki peran strategis dalam mendukung swasembada pangan dan ketersediaan gabah di tingkat daerah.

Salah satu implementasinya terlihat saat kegiatan panen di lahan Kelompok Tani Rukun Makmur, Kelurahan Gadang, Kecamatan Sukun, pada Minggu (18/1/2026). Menurut Slamet, efisiensi yang ditawarkan combine harvester mencakup tiga tahap pekerjaan sekaligus dalam satu proses berjalan.

“Itu sangat efektif banget. Biasanya untuk panen padi itu kan butuh tenaga untuk memotong (ngarit), kemudian merontokkan benih biji padinya atau nggeblok, kemudian memasukkan ke karung. Nah, dengan combine harvester, dengan luas 4 hektar itu hanya satu hari selesai dan biji padinya langsung masuk di karung plastik,” ujar Slamet Husnan saat ditemui pada Selasa (20/1/2026).

Ia membandingkan durasi tersebut dengan metode konvensional yang memakan waktu jauh lebih lama.

“Kalau 4 hektar itu sekitar hampir satu bulan itu baru selesai (secara konvensional). Kalau dengan combine harvester itu hanya satu hari selesai,” jelasnya.

Saat ini, terdapat satu unit combine harvester di Kota Malang yang merupakan bantuan dari Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Pertanian pada tahun 2025. Meskipun berada di wilayah Kota Malang, aset tersebut bukan milik Dispangtan, melainkan diserahkan langsung kepada kelompok tani.

“Asetnya dari pusat langsung ke kelompok tani. Kebetulan yang mengelola kelompok tani di Tlogowaru, Kedungkandang. Karena yang mengawali mengajukan permohonan kelompok tani di sana dan secara luasan lahan di Kedungkandang lebih luas,” jelas Slamet.

Ia menambahkan bahwa alat ini dapat digunakan secara bergantian untuk melayani seluruh wilayah Kota Malang, bahkan bisa diperbantukan ke luar daerah jika diperlukan. Hingga kini, tercatat sekitar 25 kelompok tani telah memanfaatkan alat tersebut.

Meski sangat efektif, penggunaan combine harvester memiliki keterbatasan akses fisik. Alat ini tidak diperbolehkan melintas langsung di atas jalan aspal karena dapat merusak komponen roda plastiknya.

“Karena untuk manuver kendaraan, kan itu enggak boleh jalan di aspal, harus diangkut oleh towing. Kalau lewat aspal ini roda plastiknya itu cepat rusak. Kelompok tani yang membutuhkan bisa langsung menghubungi kelompok tani pengelolanya,” imbuhnya.

Terkait stok beras di awal tahun 2026, Slamet memastikan kondisi di Malang Raya cukup aman. Hal ini didorong oleh distribusi masa tanam yang berbeda-beda di tiap kelompok tani, sehingga panen raya tidak terjadi secara bersamaan yang dapat menyebabkan penumpukan stok atau kelangkaan di waktu tertentu.

“Stok cukup aman dengan kegiatan panen raya di seluruh wilayah Malang Raya. Karena padi yang panen bisa diserap Bulog dan Bulog bisa menyetok cukup banyak,” tuturnya.

Mengenai pengadaan alat di masa yang akan datang, Dispangtan Kota Malang akan tetap memprioritaskan pengajuan bantuan ke pemerintah pusat untuk alat besar seperti combine harvester. Sementara itu, alokasi APBD Kota Malang difokuskan pada pengadaan sarana yang lebih kecil.

“Untuk yang APBD Kota Malang, kami mengajukan peralatan yang lebih kecil seperti hand tractor roda dua, bantuan benih jagung, benih padi, kemudian jaring pengaman bulir. Untuk combine harvester tahun ini belum (mengajukan), mudah-mudahan ada kelompok tani yang mengajukan lagi,” pungkas Slamet. ig/nn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *