Perkuat Wirausaha Perempuan Diaspora, FEB UB Gelar Pelatihan Resiliensi di Malaysia

Kegiatan Program Studi Kewirausahaan (Prodi Kwu) FEB Universitas Brawijaya, bekerja sama dengan PCIMNU Malaysia.

MALANG, BERITAKATA.id – Menghadapi tekanan pekerjaan, adaptasi budaya, dan kerinduan pada tanah air adalah tantangan sehari-hari bagi perempuan diaspora Indonesia di Malaysia. Banyak dari mereka bahkan memikul peran ganda sebagai pekerja dan tulang punggung keluarga. Kondisi ini sering kali memicu stres berkepanjangan yang dapat menghambat potensi diri dan usaha.

Menjawab tantangan tersebut, tim dosen Program Studi Kewirausahaan (Prodi Kwu) FEB Universitas Brawijaya (UB) menginisiasi kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Strengthening Social Entrepreneurial Character and Business Resilience”.

Acara yang diikuti oleh 40 perempuan diaspora ini terdiri dari pekerja dan pelaku UMKM dan diselenggarakan pada 28 September 2025 di Sekretariat Pengurus Cabang Istimewa Muslimat Nahdlatul Ulama (PCIMNU) Malaysia, Kuala Lumpur.

Kegiatan ini merupakan implementasi dari Hibah Dosen Berkarya UB 2025 oleh tim yang terdiri dari Dr. Ana Sofia Aryati, SE., MM., Radityo Putro Handrito, SE., MM., Ph.D., Risca Fitri Ayuni, SE., MM., Ph.D., dan Kardina Yudha Parwati, SE., MM.

Dr. Ana Sofia Aryati, salah satu pemateri, menekankan bahwa ketangguhan usaha tidak hanya bergantung pada modal finansial, tetapi juga pada pola pikir yang resilien. Menurutnya, resiliensi adalah kemampuan untuk beradaptasi, belajar dari kegagalan, dan memiliki kekuatan spiritual untuk menghadapi ketidakpastian.

“Resiliensi bukan sekadar bertahan (to survive), tetapi mampu mentransformasi pengalaman sulit menjadi kekuatan untuk berkembang (to thrive). Kekuatan usaha berawal dari kekuatan diri,” tegasnya.

Para peserta diajak untuk melihat tantangan bukan sebagai beban, melainkan sebagai peluang untuk tumbuh lebih kuat. Pelatihan ini juga membekali peserta dengan metode pengelolaan stres yang aplikatif.

Salah satu teknik sederhana yang diperkenalkan adalah metode pernapasan “4–4–4” yakni tarik napas selama empat detik, tahan selama empat detik, dan hembuskan perlahan selama empat detik untuk mengembalikan ketenangan dan kontrol emosi.

Lebih dari sekadar teknik, Dr. Ana Sofia mengingatkan bahwa kekuatan spiritual adalah fondasi resiliensi. Ia menjelaskan bahwa stres sering kali muncul saat seseorang terbebani oleh ekspektasi dan hal-hal di luar kendalinya.

“Manusia memiliki Tuhan sebagai tempat berkeluh kesah dan memohon pertolongan. Rasa syukur dan ikhlas membantu kita menerima realitas dengan tenang, tanpa kehilangan semangat untuk terus berusaha,” tambahnya.

Ketua PCIMNU Malaysia, Dra. Mimin Mintarsih, menyambut baik dan mengapresiasi inisiatif ini.

“Kolaborasi antara akademisi dan komunitas diaspora adalah contoh nyata sinergi lintas negara yang strategis untuk pemberdayaan perempuan,” katanya.

Prodi Kwu FEB UB berkomitmen menjadikan program ini sebagai kegiatan berkelanjutan. Hal ini menegaskan bahwa implementasi tridharma perguruan tinggi dapat melampaui batas ruang akademik dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya komunitas diaspora Indonesia di seluruh dunia. ig/fa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *