MALANG, BERITAKATA.id – Pendidikan adalah jalan terang bagi mereka yang kerap tak terlihat oleh gemerlapnya pembangunan. Bagi Rivan Alif Fachryza (16), remaja asal Desa Genengan, Kabupaten Magetan, Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 22 Kota Malang bukan sekadar tempat belajar.
Sekolah ini adalah jawaban atas doanya untuk terus merajut asa di tengah himpitan ekonomi dan kondisi keluarga yang tak utuh. Lahir di Magetan pada 27 September 2009, jalan hidup Rivan kecil tidaklah mudah.
Kedua orang tuanya berpisah sejak usianya belum genap dua bulan. Sebagai anak pertama, ia dibesarkan oleh nenek dari pihak ayah. Sang ayah yang bekerja serabutan sebagai buruh tani dan tukang bangunan kini menetap di Indramayu, Jawa Barat.
Sementara itu, ibu kandungnya yang hanya diketahui berprofesi sebagai wiraswasta sesuai catatan Kartu Keluarga (KK), hingga kini tak diketahui keberadaannya.

Lulus dari SMPN 1 Lembeyan pada tahun 2025, Rivan yang memiliki tinggi badan 171 sentimeter ini sadar diri. Keinginannya untuk mendaftar di SMA atau SMK Negeri terbentur tembok ekonomi.
Di tengah kebimbangan tersebut, secercah harapan datang dari pamannya yang membawa informasi mengenai program Sekolah Rakyat dibawah naungan Kemensos RI yakni sebuah inisiatif pendidikan yang berpihak penuh pada wong cilik.
“Awalnya saya mau sekolah di Magetan, tapi ekonomi keluarga belum tercukupi. Lalu dapat info dari pak lek (paman) saya tentang Sekolah Rakyat. Saya ditawari dan dijelaskan bahwa sekolahnya gratis. Saya pikir-pikir sekitar dua atau tiga hari, lalu memutuskan mau sekolah,” ungkap Rivan saat ditemui pada Jumat (5/6/2026).
Setelah sempat terkendala syarat domisili mendaftar Sekolah Rakyat di Pacitan, Rivan tidak patah semangat dan kemudian diantar oleh paman serta bibinya menuju SRMA 22 Kota Malang yang berlokasi di Jalan Kawi Nomor 41, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen. Ia resmi menjadi siswa pada 2 Juli 2025.
Aksi Nyata Memfasilitasi Bakat ‘The Invisible People’
SRMA 22 Kota Malang tidak hanya memberikan pendidikan akademis dan asrama gratis, tetapi juga menjamin kesejahteraan dan pengembangan bakat siswanya. Rivan, yang telah mencintai olahraga bola voli sejak duduk di bangku Kelas III SD, mendapatkan ruang seluas-luasnya untuk mengasah kemampuannya.
Rivan memiliki rekam jejak perkembangan di dunia voli tarkam (antar kampung). Ia awalnya pernah mewakili sekolahnya bersama tim dalam ajang O2SN tingkat kecamatan saat Kelas V SD, tergabung dalam klub IVOKA, hingga malang melintang di berbagai turnamen desa di Magetan.
Bakatnya semakin terasah berkat gemblengan fisik dari guru SMP-nya, Bayu.
“Ada namanya Pak Bayu, sekarang guru di SMP saya. Beliau sering mengajak latihan dan memberi latihan fisik, misalnya sprint di tanjakan. Saya merasa permainan jadi lebih ringan dan berkembang,” kenang Rivan.
Memasuki SRMA 22 Kota Malang, bakat Rivan tidak dibiarkan mati. Pihak sekolah memfasilitasinya untuk bergabung dengan Gilas Kharisma Volleyball Club.
Sekolah bahkan membelikan sepatu voli dan memfasilitasi transportasi dari asrama menuju tempat latihan, baik secara daring (ojek online) maupun antar-jemput sesama rekan klubnya.
Kini, ia berlatih rutin tiga kali seminggu di lapangan Klayatan Gang 3 (outdoor) dan SMK 7 Kacuk (indoor). Berkat dukungan penuh SRMA 22, Rivan bersama timnya berhasil menembus 4 besar turnamen di Kabupaten Malang, meraih Juara 2 Kejuaraan Kota (Kejurkot) Malang Kelompok Usia 16 Tahun, hingga bertanding di turnamen Lanud Abdulrachman Saleh.
“Saya bersyukur di sini masih bisa mengembangkan bakat voli. Latihan tiga kali seminggu dan sekolah juga membantu fasilitas, termasuk sepatu voli dan transport latihan,” tuturnya antusias.
Disiplin yang Melahirkan Generasi Hebat
Lebih dari sekadar fasilitas fisik seperti tempat tinggal, seragam, perlengkapan mandi, hingga buku tulis yang diberikan secara cuma-cuma, SRMA 22 Kota Malang menanamkan fondasi karakter yang kuat. Transformasi kedisiplinan sangat dirasakan oleh Rivan sejak bergabung dengan sekolah ini.
“Dulu saya sering bangun siang. Sekarang terbiasa bangun jam 4 subuh, tidak tidur lagi setelah subuh, senam, lebih disiplin contohnya tidak telat Salat dan sekolah. Aktivitas juga lebih teratur,” tegasnya.
Kedisiplinan inilah yang menjadi modal utama Rivan untuk mengejar impian tertingginya. Remaja ini bercita-cita mengabdi kepada negara dengan menjadi anggota Kepolisian Republik Indonesia (POLRI).
Ia berharap dapat menembus Akademi Kepolisian (AKPOL) atau mendaftar melalui jalur Bintara dan Tamtama. Selain itu, ia juga memiliki mimpi sederhana untuk beternak sapi demi mengangkat derajat ekonomi keluarganya di kampung halaman.
Namun, di balik kerasnya pukulan spike Rivan di lapangan voli dan tingginya cita-cita yang ia gantungkan, terselip satu harapan dari seorang anak yang merindukan kasih sayang yang hilang. Kehadiran Sekolah Rakyat telah menyelamatkan masa depannya, namun kerinduan kepada sang ibu tetap menjadi ruang kosong di hatinya.
“Belum bertemu lagi, sudah lama. Saya ingin sekali bertemu ibu saya lagi,” tutup Rivan pelan.
Melalui Sekolah Rakyat, negara dan masyarakat membuktikan bahwa pendidikan yang memerdekakan dan berpihak pada wong cilik bukanlah isapan jempol. Dari asrama di Jalan Kawi Malang ini, asa anak-anak yang kerap tak terlihat kembali direngkuh, dididik menjadi generasi hebat, dan disiapkan untuk masa depan yang lebih sejahtera.
Sementara itu, Kepala SRMA 22 Kota Malang, Rahmah Dwi Nor Wita Imtikhanah, S.Pd, M.Sc, menyampaikan perkembangan kegiatan di sekolahnya. Ia menyampaikan, bahwa SRMA 22 Kota Malang menetapkan pendekatan pendidikan yang berbeda dengan memprioritaskan penanganan psikososial dan pembentukan karakter di atas target prestasi akademik.
Saat ini, SRMA 22 Kota Malang memiliki total 69 murid yang terdiri dari 25 siswa laki-laki dan 44 siswa perempuan. Terkait arah perkembangan sekolah, Wita menegaskan bahwa pencapaian prestasi akademik bukanlah target utama sejak awal.
Sekolah menerapkan tiga tahapan prioritas dalam mendidik para siswanya.
“Jadi memang yang pertama kalau di SRMA 22 ini penanganan psikososialnya dulu. Habis psikososial, karakter. Habis itu baru akademis. Nah, ini yang dua (psikososial dan karakter) masih terus berjalan,” ujar Wita.
Penanganan psikososial dan kesehatan di SRMA 22 dilakukan secara mendalam dan individual. Pihak sekolah tidak hanya memantau kondisi mental, tetapi juga menangani masalah kesehatan fisik dasar siswa satu per satu, seperti masalah gigi berlubang hingga asam lambung, yang diakui Wita jarang ditangani sedalam itu oleh sekolah negeri pada umumnya.
Pembentukan Karakter Melalui Praktik Langsung
Untuk membentuk karakter siswa, SRMA 22 memberikan tanggung jawab besar kepada murid dalam mengelola kegiatan sekolah. Sejak Januari pada semester ini, siswa mulai dilatih menjadi sebuah agensi atau panitia acara. Salah satu implementasinya adalah kegiatan praktikum komunitas ke Banyuwangi.
Dalam kegiatan tersebut, seluruh persiapan dan pelaksanaan diorganisasi langsung oleh siswa, mulai dari penyusunan proposal, susunan acara (rundown), dan lainnya.
“Jadi, misalnya bangun pagi, saat subuh keluar dari kamar harus jam enam. Siapa yang belum keluar itu mereka sudah nyari temannya sendiri. Siapa yang belum bangun, mereka akan menyiapkan dirinya sendiri. Lalu persiapan ke museum atau ke apa, itu semuanya mereka. Jadi guru itu hanya tinggal memantau saja,” ungkapnya.
Proses menjadi panitia acara ini sengaja dirancang untuk melatih ketangguhan siswa. Wita menyebutkan bahwa tekanan persiapan, mulai dari kelengkapan dokumen hingga dinamika kerja sama tim menjadi tantangan penting untuk melatih mental mereka.
Selain ketangguhan, kehidupan asrama juga berhasil membangun empati yang kuat antar-siswa.
“Kalau ada anak yang sudah mulai murung atau nangis, itu pasti yang saya kejar teman satu kamarnya dulu atau teman dekatnya. Kalau empati sudah tidak usah ditanya, anak-anak asrama sudah pasti mereka mempunyai empati yang lebih besar,” tegas Wita.
Tantangan Akademik dan Sistem Penjajakan
Meski fokus pada karakter, akademik tetap berjalan berdampingan dengan kegiatan non akademik seperti olahraga yang sudah rutin terlaksana. Wita mengakui bahwa akademik masih menjadi tantangan besar.
Untuk menyikapi hal ini, SRMA 22 menerapkan sistem penjajakan yang ketat. Siswa tidak diizinkan mengikuti ujian jika belum menyelesaikan seluruh tanggung jawab akademiknya dalam satu semester.
“Anak-anak nggak bisa ujian kalau nggak melalui gurunya. Jadi harus sistem penjajakan. Penjajakan itu dia harus clear semua nilai tugas, semua nilai ulangan dalam satu semester. Kalau nggak selesai, nggak bisa ujian. Kalau nggak bisa ujian, ya nggak terima rapor, berarti nggak naik kelas,” jelasnya.
Sekolah juga menyediakan program remedial bagi siswa yang belum mencapai standar nilai. Namun, Wita menekankan bahwa penilaian akhir tidak hanya melihat angka, melainkan juga karakter dan usaha keras siswa.
“Ketika anak nilainya sudah remedial, remedial lagi, tetap saja nggak tuntas, kita lihat bagaimana usahanya. Kalau anak ini tugasnya aman, mengerjakan tepat waktu, tidak pernah tidur di kelas, dan sering bertanya ke guru, berarti karakter itu yang akan kita pertimbangkan. Kapasitasnya memang seperti itu, tapi usahanya ada,” tutup Wita. ig/nn
Reporter: Nugraha Perdana












