Ponpes DWK di Mata Bupati Probolinggo, Tempat Lahirnya Kader Bangsa yang Berakhlak dan Tangguh

Gus Haris menyampaikan sambutan di hadapan ribuan santri Ponpes DWK.

PROBOLINGGO, BERITAKATA.id – Dalam momen Reuni Akbar dan Halal Bihalal ke-10 Ikatan Santri dan Alumni Pondok Pesantren Darul Lughah Wal Karomah (IKSADA), Minggu (4/5/2025), Bupati Probolinggo dr. H. Mohammad Haris menyampaikan pandangan mendalamnya tentang eksistensi Pondok Pesantren Darullughah Wal Karomah (DWK) sebagai pusat penggemblengan moral dan ilmu untuk masa depan bangsa.

Acara yang dihadiri ribuan alumni di Gedung Islamic Center Kota Kraksaan itu menjadi ruang refleksi sekaligus panggung pernyataan komitmen. Di hadapan para alumni, Gus Haris, sapaan akrab bupati, menyebut bahwa DWK bukan sekadar pondok biasa.

“DWK ini tempat penggemblengan manusia agar kuat, tegar, dan hebat, baik secara keilmuan maupun akhlak. Ini adalah benteng masa depan Kabupaten Probolinggo agar menjadi daerah baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.

Gus Haris juga mengungkap bahwa pondok pesantren yang didirikan oleh KH Ahmad Baidlowi asal Pamekasan itu memiliki akar sejarah kuat, termasuk keterkaitannya dengan keluarga besar Bani Zaman (Ponpes Zainul Hasan Genggong) dan restu langsung dari KH Hasan Saifurizal.

Adapun penunjukkan lokasi pondok di Rejoso sendiri, kata dia, merupakan hasil petunjuk dari KH Zaini Mun’im (pendiri Ponoes Nurul Jadid), yang menegaskan pentingnya menjaga semangat kekeluargaan dalam membangun pesantren.

“Jangan anggap kami pejabat, anggap kami keluarga. Al Fakir dan Ra Fahmi (Wakil Bupati Probolinggo) ini juga bagian dari keluarga besar pesantren. Maka perjuangan untuk dunia pesantren dan madrasah di Kabupaten Probolinggo sudah menjadi tanggung jawab kami,” tegasnya.

Diketahui, Ra Fahmi merupakan kekuarga besar dari Ponpes Nurul Jadid Paiton. Ponpes DWK sendiri masih memiliki hubungan kerabat dengan dua Ponpes besar di Probolinggo itu (Ponpes Zainual Hasan Genggong dan Ponpes Nurul Jadid).

Dalam sambutannya, Bupati Haris mengajak para alumni DWK agar tak berhenti pada nostalgia semata. Ia mendorong mereka menjadi agen perubahan di masyarakat, terutama dalam dunia pendidikan dan penguatan karakter generasi muda.

“Kita bisa mencetak anak pintar, tapi itu belum cukup. Kita butuh anak yang punya akhlak, sikap baik, dan keyakinan kuat kepada orang tua dan agama. Di DWK, semua itu digodok,” jelasnya.

Gus Haris juga mengajak para alumni agar terus menyiarkan keberkahan pesantren. Salah satu cara yang paling mudah, menurutnya, adalah dengan mengajak minimal satu orang anak muda untuk mondok di DWK.

“Ilmu itu didapat dengan belajar, tapi barokahnya datang dengan khidmah. Kalau mau dapat ilmu yang manfaat, maka khidmah kepada guru dan menjaga akhlak adalah kuncinya,” pesannya.

Lebih jauh, ia menyentil rendahnya indeks pendidikan di Kabupaten Probolinggo, yang menurutnya masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Untuk itu, ia menggagas Program 100 Hari Ngantor di Kecamatan dan Desa, agar seluruh pemangku kebijakan benar-benar turun melihat kondisi riil masyarakat.

“Saya ingin semua pejabat hadir dan melihat sendiri desa-desa kita. Banyak kepala desa bahkan tidak pernah duduk di kantor desanya. Ini harus kita ubah, harus jadi budaya baru,” ujarnya.

Terkait pembangunan fisik, Gus Haris juga memohon doa masyarakat karena Pemkab akan segera memulai proyek pengaspalan dan infrastruktur lainnya di pertengahan bulan ini. “PR kita masih banyak, terutama dalam bidang pendidikan,” tambahnya.

Sebagai penutup, Gus Haris menitip pesan kepada seluruh alumni untuk terus menebar syiar ilmu dan akhlak di tengah masyarakat.

“DWK ini adalah cahaya. Mari jaga nama baik pondok dan perjuangan ini agar berlanjut. Kalau kita semua ambil bagian, insyaallah Kabupaten Probolinggo akan menjadi kabupaten yang berkah dan beradab,” tutupnya. ig/fat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *