Tongkol Jagung Jangan Dibuang! Bisa Jadi Bahan Bakar Biobriket Berkualitas

biobriket

MALANG, BERITAKATA.id – Sebaiknya jangan membuang limbah tongkol jagung karena bisa dijadikan inovasi bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan yakni biobriket berkualitas tinggi. Hal itu dilakukan oleh lulusan Program Studi Teknik Kimia S-1, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) bernama Adam Yonanda.

Adam telah dikukuhkan pada wisuda ke 73 periode 1 tahun 2025. Pada tugas akhirnya Adam mengangkat judul ‘Optimalisasi Jenis dan Konsentrasi Perekat Alami Terhadap Karakteristik Biobriket Tongkol Jagung’.

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh variasi tepung tapioka, tepung sagu, dan tepung terigu terhadap karakteristik biobriket berbahan dasar tongkol jagung.

“Saat ini kita diambang kelangkaan bahan bakar fosil, padahal di sisi lain limbah tongkol jagung melimpah. Maka, kami ingin memanfaatkan limbah ini sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan dalam bentuk biobriket,” kata alumnus SMAN 1 Gedangan, Sidoarjo ini.

Menurut Adam, penggunaan perekat merupakan salah satu elemen penting dalam pembuatan briket yang berkualitas. Perekat tidak hanya berperan dalam menjaga kerapatan briket, tetapi juga mempengaruhi kualitas produk secara keseluruhan. Jenis perekat yang berbeda akan menghasilkan kualitas briket yang berbeda pula, karena adanya perbedaan komposisi kimiawi antar perekat.

Adam menguji tiga jenis perekat, yakni tepung tapioka, tepung sagu, dan tepung terigu dengan konsentrasi yang berbeda untuk mendapatkan hasil optimal. Pengujian karakteristik biobriket meliputi kadar air, kadar abu, nilai kalor, dan laju pembakaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biobriket dengan perekat tapioka 15 persen memiliki karakteristik terbaik.

“Biobriket ini telah memenuhi standar Standar Nasional Indonesia (SNI). Penelitian juga menunjukkan bahwa limbah tongkol jagung dapat diolah menjadi bahan bakar alternatif yang berkualitas,” jelas Adam, yang dibimbing dosen pembimbing Dr. Elvianto Dwi Daryono, ST., MT.

Proses pembuatan biobriket sangatlah sederhana. Dimulai dengan mengkarbonisasi 1 kg tongkol jagung hingga menghasilkan 600 gram arang. Arang tersebut kemudian dihaluskan menggunakan grinder dan diayak (saring) menggunakan ayakan ukuran 60 mesh hingga didapatkan serbuk arang. Kemudian serbuk arang dicampur dengan perekat alami seperti tepung tapioka.

“Jika sudah tercampur dalam wadah, kita tambahkan air hangat secukupnya dan diaduk hingga kalis. Pengalaman yang kami buat dari 50 gram serbuk arang bisa menghasilkan 3 buah briket,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *