Umum  

Hal-Hal yang Tidak Mereka Bicarakan tentang Hadist

BERITAKATA.idMereka yang saya maksud di sini adalah para orientalis, sekelompok orang barat yang memiliki sifat skeptis terhadap keandalan hadist sebagai sumber sejarah dan teologi agama.

Sekelompok skeptis melakukan kajian hadist berangkat dari keraguan menerima hadist yang relatif banyak bertentangan dengan fakta sejarah, sehingga anggapan mereka adalah hadist tidak dapat dibuktikan secara autentik.

Agak menggelitik sebenarnya jika dia yang tidak memahami islam, khususnya kajian hadist secara utuh, kemudian melakukan kritik terhadap keautentukan hadist. Pun dengan hal itu, gagasannya dapat memberikan spirit bagi para sarjana Muslim untuk membenahi celah-celah dalam kajian hadist.

Karya-karya para orientalis sering kali dicirikan oleh perspektif bersifat kritis dan skeptis, yang fokus terhadap aspek-aspek kontroversial dan kejanggalan daam tradisi hadist.

Tulisan ini ingin mengeksplorasi berbagai aspek yang jarang atau bahkan tidak dibicarakan oleh orientalis dalam kajian hadist. Sementara kritik-kritik terhadap orientalisme telah dinyatakan dengan jelas, melihat luar batas-batas kritik dan mencari pemahaman yang lebih luas tentang tradisi hadist Islam.

Saya tidak ingin menyingkirkan pemikiran orientalis yang kian melebur, hanya saja ingin memberikan pandangan tersebut dengan merangkul dimensi-dimensi yang sering terabaikan.

Kearifan Timur dan Metodologi Barat

Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu menyajikan bagaimana karakteristik kajian hadist di timur dan barat. Perbedaan ini mencakup cara pandang, pendekatan peneliian, serta pemahaman atas sumber-sumber keislaman.

Pertama, kearifan timur dalam kajian hadist memiliki kecenderungan yang mengadopsi pendekatan holistik. Sebagian besar, hadist dapat dilihat sebagai bagian dari tradisi keislaman yang lebih besar, termasuk konteks budaya dan sejarah.

Cendikiawan Muslim seringkali mengikuti tradisi keilmuan yang menekankan pemahaman hadist dalam konteks budaya tempat ia muncul, yang terdiri dari adat, nilai-nilai masyarakat dan dinamika sosial.

Selain itu, kecenderungan yang dimiliki orang timur adalah sering kali terjadi menyoroti aspek-aspek ruhani dan moralitas dalam ajaran hadist. Cendikiawan Muslim menilai hadist dari sudut pandang kebijaksanaan spiritual dan etika agama.

Maka, tradisi kearifan timur memiliki nilai tinggi terhadap pemahaman radisional Islam. Mereka selalu merujuk pada warisan keilmuan Islam klasik dan berusaha memahami hadist melalui pandangan ulama terdahulu.

Kedua, Metodologi Barat dalam kajian hadist cenderung mengadopsi pendekatan kritis dan ilmiah. Ini mencakup analisis teks secara kritis, mempertimbangkan metode transmisi, dan mengevaluasi keandalan sumber-sumber hadist.

Kajian hadist dalam tradisi Barat sering menekankan aspek sejarah dan hukum. Penelitian cenderung lebih terfokus pada konteks historis ketika hadist muncul dan bagaimana hadist tersebut mempengaruhi perkembangan hukum Islam.

Dinamika Kritikal dalam Kajian Hadist Modern

Berbicara tentang orientalis tidak terlepas dari Joseph Schacht yang melahirkan metode analisis kritiknya terhadap sanad. Joseph Schacht sendiri menggunakan dasar temuan dasar Ignaz Goldziher dalam dua bukunya yang berjudul The Origins Of Muhammadan Jurisprudence dan An Introduction to Islamic Law.

Joseph Schacht mengembangkan teorinya yaitu back projection, the speed of isnads, family isnads dan common link. Dalam istilah sunnah, Schacht mengikuti pandangan Goldziher dan Margoliouth, ia juga mengutip Ibn al-Muqaffa yang mengatakan sunnah berarti living tradition (tradisi yang hidup) yang berarti kebiasaan atau praktek yang disepakati .

Schacht mengungkap bahwa dalam konteks awal Islam sunnah memiliki konotasi hukum dan tidak secara khusus dilekatkan kepada Nabi, seperti sunnah Abu Bakar dan sunnah Umar. Konsep sunnah Nabi baru ada di sekiar abad ke-2 yang dibuat oleh orang Irak, berbeda dengan Madinah, dan Syafi’i, mereka memposisikannya sebagai pratek Nabi secara khusus.

Menurut Schacht, madzhab syuriah dan irak melakukan projection back atau dapat disebutkan memproyeksikan tradisi yang hidup dari madzhab dari Nabi. Teori projection back menisbahkan atau mengaitkan pendapat para ahli fiqih abad ke-2 dan abad ke-3 hijriah kepada tokoh-tokoh terdahulu untuk mendapatkan legitimasi orang-orang yang memilki otoritas tinggi dalam periwayatan hadist sehingga membentuk sanad hadist.

Dengan itulah Schacht berpendapat bahwa hadist tersebut telah dipalsukan oleh ulama abad ke3, termasuk kitab hadist Bukhari itu sendiri.

Hal-hal yang Tidak Dibicarakan Orientalis Tentang Hadist

Pemaparan di atas menunjukkan bahwa orientalis khsusunya Schacht berfokus pada keberadaan hadist. Jika Schacht menganggap hadist atau sunnah tersebut adalah sebuah mitos, maka sikap tersebut bisa dikatan augumen yang memihak. Gini-gini, dalam perkembangan pengetahuan di akhir abad modern, khususnya postmodern ini. Hadist memiliki cara tersendiri dalam memandang realitas, artinya, sesuatu yang disandarkan kepada Nabi dapat dibuktikan secara soial, etika dan kebudayaan.

Coba kita memakai cara pandang Ayer, yaitu positivisme logisnya, maka kita dibawa untuk mengabaikan keberadaan atau keautentikan hadist, tapi mencoba untuk mencari kebenarannya secara positivisme.

Saya rasa para orientalis enggan mengakui kebijaksanaanya Nabi Muhammad iu sendiri yang jasa-jasanya tidak hanya dinikmati oleh kaum Muslim itu sendiri bahkan seuruh dunia.Tentang demokrasi misalnya, jauh sebelum era modern, Nabi Muhammad telah melakukannya, bahkan masa khulafa’ rasydin.

Shacht telah menggunakan perangkat pemikiran orang barat untuk mengkritisi kearifan orang timur, tapi dia mengabaikan cara pandang yang digagas oleh orang barat juga, termasuk Ayer.

Tantangan sarjana Muslim saya rasa perlunya melampaui pemahaman-pemahaman orang modern yang digagalkan oleh kemodernitasannya itu sendiri. Sebab, di era postmodern mencoba mencari dan membuktikan kebenaran Nabi dengan membenturkan beberapa disiplin keilmuan dengan hadist. ig/fat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *