Densus 88 dan Kementan Gelar Pelatihan Formulator Pakan Ternak Rumiansia di BBPP Kota Batu

Kegiatan pelatihan formulator pakan (rumiansia) dibawah naungan Densus 88 dan Kementerian Pertanian di Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu.

BATU, BERITAKATA.id – Densus 88 dan Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar pelatihan formulator pakan (rumiansia) di Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu, Jawa Timur. Para peserta belajar membuat pakan ternak yang bagus dan efisien.

Kepala BPPSDMP, Ida Widi Arsanti mengatakan, kegiatan ini diikuti total 10 warga binaan Densus 88. Mereka yakni 8 eks napi teroris dan 2 eks pengikut Jamaah Islamiah.

Para peserta berasal dari provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Tengah dan Jawa Timur. Fokus pelatihan ini untuk meningkatkan kompetensi dan keterampilan peserta dalam menyusun formulasi dan membuat pakan ternak ruminansia.

“Ini menjadi bekal agar nantinya peserta dapat mengakses atau menciptakan lapangan pekerjaan sendiri di bidang produksi pakan ternak ruminansia, ini pelatihannya baik di kelas maupun secara langsung untuk pendalamannya,” kata Ida, Selasa (18/2/2025).

Sementara itu, Yulian Indarto mengatakan, dirinya menjalankan usaha ternak kambing sudah satu tahunan ini. Saat ini, ada 10 kambing yang sedang dibesarkan untuk kemudian dijual ketika momen yang tepat.

Persoalan yang dihadapi saat ini ketika mencari pakan hewan ternaknya dengan cara ngarit atau mencari rumput secara asal tanpa ada perhitungan.

“Selama ini caranya manual, contoh pengambilan rumput asal tapi tanpa ada dasar perhitungannya, berapa mineralnya, kemudian enerjinya tidak ada semacam perhitungan pakan yang bagus untuk jenis dombanya,” kata Yulian Indarto.

Yulian Indarto memilih usaha ternak kambing karena dinilai memiliki potensi yang besar. Disamping itu, menurutnya untuk mengawali usaha ternak kambing tidak memerlukan modal banyak seperti ternak sapi.

“Melihat pangsa potensi pasarnya cukup besar, momen potong kambing, belum lagi yang konsumsi harian, karena di Jogja untuk konsumsi kambingnya cukup tinggi, dari sisi permodalan kambing juga tidak besar, tidak seperti sapi,” ungkapnya.

Dia selama dua hari mengikuti jalannya kegiatan pelatihan sudah menerima beberapa materi terkait pakan ternak.

Dia ingin setelah mengikuti pelatihan hingga 28 Februari nanti ini dapat memberikan pakan ternak yang efektif tak menguras banyak tenaga dan waktu.

“Kita dikenalkan jenis bahan apa saja, kemudian sampai dengan perhitungan pakannya, sampai dengan bagaimana pembesaran sampai peranakannya,” katanya.

Cerita yang sama juga didapatkan dari peternak lainnya yakni Imam Mustaqim. Dia sudah menjalani ternak susu kambing dalam kurun 5 tahun terkahir ini.

Imam memiliki 15 ekor kambing jenis Sanen Peranakan Etawa atau Sapera. Saat ini, ada tiga ekor kambingnya yang bisa diperah susunya dengan rata-rata menghasilkan 6 liter susu.

“Penjualannya kita jual sendiri, ada juga yang dikirim ke pabrik untuk diolah menjadi susu. Kalau ke pabrik kita kelompok diberi kuota, sebulan 1000 liter di pabrik, di Jogja dan Surabaya,” katanya.

Persoalan pemberian pakan ternak secara tradisional juga kerap dialaminya. Sebagai peternak, dia membutuhkan efisiensi pakan ternak yang tidak menguras tenaga dan waktu.

“Dari segi tenaga juga harus ngarit, pagi sore, kalau harus seperti itu peternakan tidak bisa kami tinggal, sementara itu kami saya pribadi sebagai guru pondok pesantren enggak mungkin kalau seharian ngurus kambing saja,” katanya.

Dia berharap, usai mengikuti pelatihan mendapatkan formula pemberian pakan terhadap kambing-kambingnya.

“Harapan kami kedepan akan lebih menekan produksi pakan itu biar efektif, lebih sedikit, ringan, sementara hasilnya yang khususnya sedang kami pelihara kambing perah itu bagaimana hasilnya supaya lebih bagus,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *