PROBOLINGGO, BERITAKATA.id – Pj Bupati Probolinggo, Jawa Timur, Ugas Irwanto mengembangkan Tari Glipang sebagai budaya asli daerah.
Upaya pengembangan dan pelestarian Tari Glipang tidak hanya di dunia pendidikan tapi juga melalui pemerintah daerah secara institusi.
Pj Bupati Probolinggo mengeluarkan kebijakan, dan mencanangkan latihan Tari Glipang setiap Jumat, yang diikuti oleh semua kepala organisasi perangkat daerah (OPD).
Para kepala OPD diwajibkan menggelar latihan Tari Glipang setiap pekannya. Agar ASN memberikan contoh dan dukungan nyata melestarikan Tari Glipang.
"Upaya ini untuk mengembangkan dan melestarikan Tari Glipang sebagai budaya asli Kabupaten Probolinggo," kata Pj Bupati Ugas Irwanto.
Sebagai langkah awal, pada Jumat (1/3/2024) pagi di halaman depan kantor Bupati di Kecamatan Kraksaan, Pj Sekda Heri Sulistyanto, para kepala OPD dan ratusan ASN mengikuti latihan Tari Glipang yang dipandu oleh pelaku seni.
Pj Sekda dan para kepala OPD beserta penari remaja mengikuti latihan tari tersebut dengan penuh antusias dan hari yang gembira. Setiap gerakan tari diikuti dengan serius karena memiliki arti.
Menurut Heri, Tari Glipang ini menjadi budaya khas Kabupaten Probolinggo dan harus selalu diingat sebagai ikon daerah.
Kebijakan Tari Glipang yang harus ada dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah juga harus didukung oleh para pemangku kepentingan dan ASN.
"Ketika ASN turut langsung melestarikan Tari Glipang maka para remaja yang mencintai seni Tari Glipang akan lebih bersemangat," ujar Heri.
Mengenal Tari Glipang
Glipang merupakan kesenian rakyat tradisional yang berlatarbelakang budaya Pandhalungan dan menjadi ciri khas dari Desa Pendhil, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo.
Kesenian ini dicipta oleh Sari Truno sekitar tahun 1920, kemudian diwariskan kepada cucunya bernama Soeparmo.
Dilansir Kemdikbud, Tari Glipang adalah tarian yang merupakan kebiasaan masyarakat Kabupaten Probolinggo yang akhirnya menjadi tradisi. Glipang sendiri berasal dari Bahasa Arab yaitu Gholiban yang artinya kebiasaan. Tari tersebut diwariskan secara turun-menurun sehingga masih dapat bertahan hingga sudah menurun empat generasi.
Dari sejarahnya, Glipang bukan sekadar tarian, melainkan menggambarkan keberanian prajurit yang gagah berani dalam upayanya mengusir penjajah Belanda. Bahkan ada semboyan khusus terkait dengan keberanian para prajurit ini “katembheng poteh mata angok poteh tolang”.
Maksudnya, lebih baik mati dari pada menanggung malu di tangan penjajah. Tarian dengan napas Islam itu juga menjadi karakteristik warga Probolinggo yang memiliki religiusitas tinggi.
Menurut penuturan Suparmo (67), asal usul Tari Glipang bermula dari Sardan, seorang seniman dari desa Omben, Sampang. Karena berebut mengembangkan tari topeng di Madura lantas dia hijrah ke desa Pendil Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo.
Dalam tarian Glipang, mempunyai tiga gerakan. Tiap-tiap gerakan tarian tersebut mempunyai makna dan cerita pada saat diciptakan.
Pertama, tari olah keprajuritan atau yang biasa disebut dengan Tari Kiprah Glipang. Tari Kiprah Glipang ini menggambarkan ketidakpuasan Sari Truno kepada para penjajah Belanda. Ciri khas tarian ini memperlihatkan nafas besar yang diartikan sebagai ungkapan rasa ketidakpuasan terhadap penjajah pada masa itu. Bahkan semangat perlawanan itu juga tercermin pada riasan yang sangar dan kostum serta aksesorisnya menggambarkan seorang prajurit. Gerakannya merupakan paduan dari gerakan Rudat, kesenian Topeng Gethak Madura, seni hadrah, gerakan samman, dan pencak silat.
Dalam hal tata rias, melambangkan karakter seorang prajurit yang kuat, dan pantang menyerah melawan penjajah dan siap tempur. Busana dengan warna merah dan hitam melambangkan keberanian dan tidak pernah takut yang menjadi simbol orang Madura yang tidak kenal ampun apabila ada orang yang mengganggunya. Aksesoris selain untuk memperelok penampilan, mempunyai makna sendiri seperti odeng sebagai ikat kepala, yang menjadi ciri khas Madura. Dan sebagai identitas seorang prajurit yang berani seperti rompi, sabuk blangdang, lancor, sampur, dan peralatan perang seperti gungseng dan keris.
Dalam tarian Glipang, mempunyai tiga gerakan. Tiap-tiap gerakan tarian tersebut mempunyai makna dan cerita pada saat diciptakan. Jiwa Sari Truno yang sering bergolak melawan prajurit-prajurit Belanda pada waktu itu diekspresikan melalui bentuk tari ini. Tari Glipang yang telah diciptakan oleh Sari Truno benar-benar serasi dan sejiwa dengan pribadi penciptanya.
Kedua, Tari Papakan yang mempunyai makna pertemuan dua orang setelah lama berpisah. Digambarkan Anjasmara bertemu dengan Damarwulan. Dimana waktu itu Damarwulan diutus untuk membunuh Minakjinggo. Akhirnya Damarwulan berhasil dengan dibantu oleh dua istri Minakjinggo. Tapi sebelum bertemu Anjasmara, Damarwulan dihadang oleh Layang Seto dan Layang Kumitir di Daerah Besuki. Penari perempuan pada Tari Papakan hanya memakai aksesoris sunggar bunga dan gungseng.
Ketiga, Tari Baris yang menggambarkan para prajurit Majapahit yang berbaris ingin tahu daerah Jawa Timur. Waktu itu prajurit Majapahit tersebut berbaris di daerah Jabung untuk mengetahui daerah Jawa Timur. Awalnya tari ini berawal dari badut, lawak, dan kemudian berubah menjadi cerita rakyat. Tari Baris juga menggambarkan kegembiraan prajurit setelah menang dalam perang. Aksesoris yang digunakan adalah kelat bahu, sorban, simbar, dan samper/jarit yang dimaknai sebagai bentuk ekspresi kegembiraan prajurit yang menang dalam perang.
Dalam perkembangannya, tari Kiprah Glipang yang merupakan bagian pertama dari tari Glipang ini lebih terkenal sehingga tari Glipang juga populer disebut Tari Kiprah Glipang.
Untuk mengenang jasa Sari Truno, maka pewaris-pewaris mengembangkan ilmu beladiri dan diubah menjadi gerak tari yang kemudian dinamakan “Tari Glipang”, sebagian besar terdiri dari unsur-unsur gerak silat yang diperbarui sedemikian rupa.
Tarian ini didominasi oleh gerakan patah-patah dan kostum yang digunakan merupakan suatu bentuk penggambaran kebudayaan Suku Madura. Tarian ini kemudian menjadi salah satu ikon kabupaten Probolinggo. Keberadaan Tari Glipang sendiri patut dibanggakan mengingat terdapat unsur perjuangan yang melekat di dalamnya. Selain dapat menghibur dalam tiap pertunjukannya.
Tari ini juga untuk mengingat sejarah masa lampau tentang arti perjuangan leluhur dalam upayanya melawan aksi kekejian penjajah Belanda. Perlawanan dalam bentuk simbolis kesenian ini dimaksudkan untuk mengapresiasi keberanian prajurit dalam melawan penjajah. Selain itu tari Glipang juga mengandung edukasi di dalamnya, yaitu pendidikan karakter berupa rasa cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya, suka menolong dan gotong royong. ig/**/fat












