MALANG, BERITAKATA.id – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang mengintensifkan program kerja bakti (korve) pemeliharaan halte yang berada di bawah wewenang mereka. Kegiatan pembersihan ini dilakukan secara rutin seminggu sekali, tepatnya setiap hari Senin, guna menjaga kebersihan, kerapian, dan kenyamanan fasilitas publik di Kota Malang.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, mengatakan bahwa program ini telah berjalan selama lima minggu dengan menyasar satu titik halte pada setiap minggunya. Saat ini, tercatat ada sekitar 20 halte yang berada di bawah tanggung jawab langsung Dishub Kota Malang. Beberapa di antaranya juga turut dimanfaatkan oleh moda transportasi TransJatim.
“Ya, kami lakukan kerja bakti itu sekali lagi dalam rangka ya tentunya adalah menjaga kebersihan ya. Kebersihan, kerapian, dan tentunya kenyamanan. Soal nanti dipergunakan, oh maaf ada tambahan lagi bisa dimanfaatkan oleh TransJatim. Dan juga sangat mungkin apabila masyarakat yang menggunakan angkutan kota itu bisa digunakan,” ujar Widjaja saat diwawancarai pada Jumat (29/5/2026).
Widjaja menambahkan, pelaksanaan kerja bakti pada hari Senin dipilih karena menyesuaikan dengan tingkat kepadatan agenda kedinasan. Pada akhir pekan, Dishub Kota Malang menghadapi jadwal kegiatan pelayanan yang sangat padat. Selain itu, aksi bersih-bersih ini merupakan wujud pelaksanaan instruksi berkala dari pusat.
“Ini sekali lagi korve ini juga menjalankan perintah dari presiden ya. Presiden kan ada perintah setiap seminggu sekali itu ada korve, kami buka, intinya kami cari waktu yang luang untuk kami karena mengapa nggak Jumat, Sabtu, Minggu? Jumat, Sabtu, Minggu malah kita padat acara,” jelasnya.
Melalui program ini, Dishub Kota Malang mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga fasilitas publik tersebut dan tidak menyalahgunakannya demi kepentingan pribadi, seperti menjadi tempat berjualan bagi Pedagang Kaki Lima (PKL).
“Secara bertahap artinya setelah kita bersihkan, tetap kami memohon kepada masyarakat sama-sama menjaga ya, karena ini juga milik masyarakat juga halte itu. Jangan sampai dimanfaatkan oleh satu, dua orang saja. Artinya dimanfaatkan satu, dua orang itu bagi PKL saja. Bukan, kalau juga digunakan PKL kan berarti untuk kepentingan pribadi. Lah ini kita upayakan,” tegas Widjaja.
Terkait kendala kerusakan fisik dan aksi vandalisme yang kerap mengotori halte, Widjaja mengakui adanya keterbatasan anggaran penanganan. Saat ini, tindakan yang dapat dilakukan baru sebatas pembersihan dan pengecatan ulang.
Ke depan, pihaknya merencanakan skema kerja sama dengan pihak swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) atau promosi periklanan untuk langkah optimalisasi pemeliharaan jangka panjang.
“Sementara ini kita bisanya lakukan korve dan pengecatan bersih-bersih aja gitu ya. Ya, nanti yang saya sampaikan jangka panjang nanti mengoptimalkan. Kita nggak ada anggaran gitu ya, kita optimalkan kerjasama dengan pihak lainnya. Apakah CSR, apakah promosi, ya,” terangnya.
Mengenai aksi vandalisme, Widjaja menyayangkan perilaku oknum yang kerap mencoreti halte yang baru saja dibersihkan.
“Vandalisme itu, satu sisi bagian dari kreasi anak muda untuk apa namanya, unjuk gigi. Tetapi satu sisi adalah mengganggu kebersihan, mengganggu ketertiban, keindahan. Maka kami membutuhkan kerjasama dari masyarakat. Untuk kalau memang menemui, ya diingatkan lah. Kami berharap tidak ada muncul-muncul begitu lagi. Walaupun kemarin sempat ada setelah kita bersihkan, malah kesempatan bagi mereka untuk berulah,” tuturnya.
Dishub berharap ke depannya para pelaku transportasi umum dapat memanfaatkan halte secara masif dan teratur demi mewujudkan tata kelola transportasi kota yang lebih bersih dan teratur. (NP/ FAS)
Reporter: Nugraha Perdana












