Kolaborasi Dispussipda dan BI Malang Hadirkan Dee Lestari Bedah Novel ‘Aroma Karsa’

Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah (Dispussipda) Kota Malang bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Malang sukses menyelenggarakan talkshow bedah buku novel Aroma Karsa di Gedung Dispussipda Kota Malang, Jumat (16/10/2026).

MALANG, BERITAKATA.id – Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah (Dispussipda) Kota Malang bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Malang sukses menyelenggarakan talkshow bedah buku novel Aroma Karsa di Gedung Dispussipda Kota Malang, Jumat (16/10/2026). Acara literasi ini menghadirkan penulis kenamaan Dewi Dee Lestari sebagai narasumber utama, serta dipandu oleh jurnalis independen Andini Efendi selaku moderator.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, pegiat literasi, hingga masyarakat umum yang antusias menggali proses kreatif di balik karya sastra epik tersebut.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Malang, Indra Kuspriyadi, dalam sambutannya memaparkan pentingnya penguasaan data dan informasi dalam menjaga keberlangsungan peradaban manusia dari masa lampau hingga era digital saat ini.

Ia mengilustrasikan perbedaan pola bertahan hidup antara manusia purba melalui teori evolusi, yang menegaskan bahwa kemampuan mengelola serta membagikan informasi adalah kunci utama.

“Sesuatu yang tidak akan pernah punah dari peradaban kita adalah memperoleh data, informasi, dan membagikannya kembali. Tidak harus data dan informasi itu eksak, karena yang namanya fiksi pun justru kadang lebih menggugah kita dibandingkan dengan buku-buku yang ditulis dengan kata-kata yang lebih sulit,” ujar Indra Kuspriyadi pada Jumat (16/10/2026).

Indra menambahkan, Bank Indonesia menaruh perhatian besar pada peningkatan literasi. Melalui kolaborasi dengan Dispussipda Kota Malang, pihaknya berharap ekosistem literasi di Malang Raya semakin kuat.

Ke depannya, BI Malang berencana mengintegrasikan koleksi perpustakaan khusus milik BI dengan perpustakaan umum di Kota Malang, serta mendukung berbagai ruang publik kreatif seperti kegiatan Car Free Day (CFD) dan menghadirkan penulis-penulis inspiratif.

“Untuk itu atas nama Bank Indonesia, kami mengucapkan terima kasih dan berharap agar kegiatan ini bisa berlangsung lebih banyak lagi ya kolaborasi kita di CFD nanti itu area-area car free day terbaik, spot terbaik di sini bisa dimanfaatkan. Dan InsyaAllah kita hadirkan lagi nanti penulis-penulis inspiratif,” jelasnya.

Sesi acara yang dipandu secara interaktif oleh Andini Efendi mengupas tuntas proses kreatif pembuatan novel Aroma Karsa yang ditulis oleh Dewi Dee Lestari. Dee Lestari menceritakan bahwa novel tersebut berawal dari gagasan sederhana setelah mengikuti kursus menulis daring yang ada di Amerika Serikat.

Ia mempelajari bahwa indra penciuman merupakan indra yang paling dekat dengan emosi dan memori manusia. Untuk membangun dunia fiksi yang kuat melalui karakter utama Jati Wesi yakni seorang peracik parfum dengan kemampuan penciuman super yang juga bekerja di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Dee melakukan serangkaian riset lapangan yang luar biasa.

“Kurang lebih saya menghabiskan waktu 3 bulan untuk riset, 6 bulan untuk menulis, dan another (lainnya) 3 bulan lagi untuk penyuntingan, jadi kurang lebih 1 tahun waktu itu untuk Aroma Karsa,” ungkap Dee Lestari.

Riset tersebut mencakup kursus meracik parfum, meninjau langsung kondisi sosial dan volume sampah harian di TPST Bantar Gebang, berkonsultasi dengan tokoh otomotif Ananda Mikola terkait detail mesin kendaraan, hingga mendaki Gunung Lawu untuk menggali mitologi sejarah fiktif mengenai bunga misterius bernama Puspa Karsa yang dapat mengendalikan kehendak manusia.

“Di situlah kemudian saya mendapat bahan untuk petualangan Jati Wesi di Gunung Lawu mencari sebuah bunga misterius bernama Puspa Karsa. Nah, inilah kenapa jadi Aroma Karsa, karena Puspa Karsa ini memiliki aroma yang konon dapat mengendalikan karsanya manusia, dapat mengendalikan kehendak manusia. Jadi siapa yang bisa punya akses kepada Puspa Karsa, dia akan menguasai dunia. Begitu kira-kira premisnya,” ungkapnya.

Dee juga menekankan pentingnya merawat rasa ingin tahu sebagai modal utama seorang penulis agar pikiran tetap tajam dan kaya pengalaman. Ia juga menjelaskan bahwa dalam berkarya, seorang penulis sebaiknya tidak terjebak untuk memikirkan apakah sebuah buku akan laku atau menjual di pasaran, karena hal tersebut berada di luar kendali penulis. Fokus utama hendaknya dicurahkan pada ketulusan mengeksplorasi cerita dan kedalaman riset.

“Pertama, kalau ini saya hanya bisa bicara dari pengalaman saya pribadi. Saya tidak pernah berpikir bagaimana membuat novel yang menjual. Karena apa? Menjual atau tidak, menurut saya itu ada di luar kendali saya, ya. Kita kadang-kadang tahu ada buku yang bisa jadi bestseller, ada yang enggak, ada buku bagus tapi enggak pernah kedengaran, gitu kan, ada buku bisa laku keras, kita enggak tahu kenapa,” ungkapnya. (NP/ FAS)

Reporter: Nugraha Perdana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *